Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
doa


__ADS_3

"Zein....! Zein.... Zainal....!!!"


"Mohon maaf tante. Mas Zein sekarang sedang ada di rumah sakit". Akhirnya Ani menarik handphone milik Zein dan menaruh di telinganya sendiri karena Zein benar-benar tidak mau bersuara dan malah melipat bibirnya ke dalam.


"Di rumah sakit? Kenapa Zainal? Dan kamu....?!?" Suaranya terdengar keras dan seperti orang membentak.


Untung gadis lawan bicaranya adalah Ani sehingga ia tak menampakkan ketakutannya. Meskipun dia juga merasa keder mendengar suara seorang ibu yang menghawatirkan putranya dan marah-marah padanya, apalagi dia yang menyebabkan Zainal masuk rumah sakit.


Di rumah terkadang Lukman dan Laila bertengkar dengan suara yang tinggi tapi Ani tak takut sama sekali karena yakin mereka akan berbaikan kembali. Justru Ani biasanya menertawakan mereka karena keduanya seperti anak kecil yang bertengkar dan sebentar kemudian segera berbaikan dan bermesraan kembali. Pasangan fenomenal begitu pikirnya.


"Saya Ani tante...." Kata-katanya terdengar jelas.


"kenapa kamu bersamanya?"


"Maaf saya yang menyebabkan semuanya..." kata Ani menyesal


"Ma.... Zein mau istirahat dulu!" Kata Zainal agak keras supaya mamanya bisa mendengarkan suaranya dan berhenti mencecar Ani dengan pertanyaan nya yang banyak


"Zein...." Kata sang mama ketika mendengar suara anaknya.


"Iya ma...." Kata Zainal yang sekarang handphone nya dipegangi Ani dan didekatkan di telinganya.


"Kenapa tidak menghubungi mama daritadi?"


"Barusan diperiksa dan sekarang sudah baikan. Disuruh istirahat sama dokternya..."


"Di rumah sakit mana?"


"Seger waras ma. Mama nggak usah kesini dulu ! Aku baik-baik saja ma dan sekarang aku mau istirahat..."

__ADS_1


"Ya sudah kamu istirahat saja...!" Kata mamanya kemudian segera mengakhiri percakapan mereka.


Zainal dan Ani saling berpandangan mencoba menebak apa yang ada dalam hati masing-masing.


"Tenang saja di... mama tidak akan kemari. Aku sudah memintanya agar tak kesini..."


"Seharusnya ada orang rumah yang kesini mas, agar aku ada teman untuk berbincang-bincang. Aneh rasanya jika jika kita hanya berduaan di sini..." Jelas Ani.


Barulah Zein sadar mereka bukan suami istri. Berduaan sampai malam dalam satu ruangan pasti canggung sekali. Seorang pria sepertinya yang sudah mengharapkan gadis pujaan hatinya sejak lama pasti rasanya bahagia jika bisa berlama-lama berduaan saja.


Tapi Ani adalah seorang gadis yang menjaga dirinya pasti dia tidak akan bisa tidur dengan baik entah itu di sofa apalagi di bed rumah sakit di sebelahnya yang disediakan untuk keluarga yang menungguinya.


Kini Zainal juga merasa tak enak hati menahan seorang gadis bersamanya hanya karena keegoisannya tanpa memikirkan perasaan Ani.


Secara tak sengaja keduanya melihat ke arah jam dinding secara bersamaan. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih. Mungkin karena reaksi obat yang diminumnya Zainal merasa kepalanya sangat berat dan ia tak bisa lagi menahan rasa kantuknya. Dalam hitungan beberapa menit saja dia sudah tertidur dengan pulas.


Ani mengamati Zainal dari tempatnya duduk. Meski wajahnya kini dipenuhi dengan kumis dan jenggot tapi ia masih kelihatan sangat manis bahkan lebih maskulin. Hitam manis, batin Ani.


Tanpa terasa air mata meleleh di pipinya. Mengingat kenangan saat bersama calon suaminya adalah hal yang membahagiakan tapi juga menyedihkan.


Ia mengusap pipi dan matanya yang basah kemudian melihat pesan yang baru diterimanya. Dari bang Alif yang mengatakan bahwa ia sudah ada di depan rumah sakit dan bertanya Zainal ada di kamar apa.


Ani menjawabnya dengan cepat kemudian ke luar dari kamar dan duduk di bangku di depan kamar VVIP itu. Tempatnya sangat nyaman dengan taman yang menyejukkan mata dan lampu taman yang temaram. Sebenarnya juga agak sedikit menakutkan karena jarang orang yang lalu lalang di situ.


Tidak sampai sepuluh menit bang Alif sudah ada di hadapan Ani. Begitu melihat Ani ia segera memeluk kepalanya dan mengecup ujung jilbab adiknya yang terlihat habis menangis itu. Bagaimanapun bang Alif adalah orang yang paling dekat dengannya. Ia adalah kakak sekaligus ayahnya yang paling mengerti dirinya.


Bang Alif juga bahagia dengan pernikahan Karina tapi saat melihat adiknya yang usianya lebih tua dari saudara sepersusuan sekaligus sepupunya itu menikah lebih dulu melangkahi Ani rasanya ada sedikit rasa sakit di hatinya. Bagaimanapun juga ia adalah manusia biasa yang sangat menyayangi adiknya.


Bang Alif kemudian membuka pintu ruangan Zainal dan melihatnya sekejap kemudian mengajak Ani duduk kembali di tempatnya semula.

__ADS_1


"Bagaimana tadi kejadiannya? Kok bisa kamu nendang Zainal?"


"Bukan nendang juga sih bang. Aku injek tepatnya. Aku merasa kayak ada yang mengincarku tadi dan terus membuntutiku. Mana tahu kalau itu mas Zein...." Ani menjelaskan sambil tangannya memutar-mutar cincinnya kemudian sesekali matanya melihat cincinnya sambil menarik nafas panjang.


"An... pernah dengar cerita tentang istri Nabi yang bernama Ummu Salamah?" Tanya Bang Alif yang tahu jika adiknya pasti sedang ingat dengan calon suaminya yang sudah wafat.


Ani melihat abangnya kemudian menggelengkan kepalanya.


Ummu Salamah merupakan seorang istri yang sangat patuh dan mencintai suaminya. Dikisahkan, sekali waktu ia berkata kepada suaminya, “Aku pernah mendengar, seorang istri yang ditinggal mati suaminya akan mendapat balasan surga. Dan jika ia tidak menikah lagi (sepeninggal suaminya), maka Allah akan mengumpulkan keduanya di surga kelak. Oleh karena itu, aku berjanji tidak akan menikah lagi setelah engkau tiada.”


Mendengar ucapan istrinya itu, Abu Salamah berkata dengan nada tidak setuju, “Apakah kau mau mematuhiku?”


“Tentu,” jawab Ummu Salamah.


“Jika aku sudah meninggal, menikahlah,” pinta Abu Salamah. Abu Salamah pun berdoa untuk istrinya, “Ya Allah, berilah Ummu Salamah sepeninggalku sosok suami yang lebih baik dariku, yang tidak membuatnya sedih dan tidak menyakitinya"


Maka ketika Abu Salamah meninggal Ummu Salamah yang sangat mencintai suaminya itu begitu terpukul dan bersedih hati.


Ummu Salamah kehilangan suaminya, kekasih yang begitu ia cintai . Hatinya hancur, ia begitu sedih hingga merasa bahwa segalanya telah berakhir bagi dirinya.


Ia masih belum ikhlas kehilangan suaminya yang bernama Abu Salamah itu. Padahal, ia tahu, suaminya meninggal dalam keadaan syahid karena berjuang di jalan Allah.


Rasulullah pun menenangkan hati Ummu Salamah dan mengajarinya agar membaca sebuah doa


إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا


Allahuma ajurni fi mushibatit wa akhlifli khairam minhaa


Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik daripadanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

__ADS_1


Ummu Salamah pun mengamalkan doa dari Rasululah itu meskipun hatinya ragu apakah ada lelaki yang lebih baik dari suaminya. Dan benar saja, Allah melapangkan hati Ummu Salamah dan mengabulkan doanya. Ia mulai ikhlas menerima kepergian kekasihnya itu.


Dan setelah selesai masa iddahnya selesai Rosululloh melamar Ummu Salamah dan itulah jawaban dari pertanyaan dalam hatinya. Ternyata pria yang lebih baik dari Abu Salamah adalah Rosululloh saw."


__ADS_2