
"Assalamualaikum....!" Zainal mengucap salam di depan pintu rumah yang terlihat kuno karena merupakan peninggalan Belanda beratus-ratus tahun yang lalu.
Terdengar suara keriuhan di dalam rumah. Suara tangisan bayi dan ramainya orang dewasa yang sedang tertawa.
Zainal tahu jika di rumah ini sekarang kedatangan anggota baru, anak Laila dan bang Lukman.
Tadi begitu sampai Zainal langsung menuju rumah pak Dirman tanpa mengatakan apa-apa pada Ani yang menuju rumahnya sendiri. Hari masih sore saat mereka sampai di sana. Sinar matahari mulai redup karena hendak kembali ke haribaannya.
"Assalamualaikum....." ulangnya agak keras sambil mengetuk pintu.
Tok tok tok....
Tak lama setelah itu pak Dirman muncul. Melihat siapa yang bertamu di rumahnya ia diam sebentar. Begitupun dengan Zainal yang terlihat kikuk. Pernah bekerja bersama membuatnya merasa malu sekaligus bersalah pada orang tua yang dulu sering diperintahnya.
"Silahkan masuk...!" Kata pak Dirman akhirnya. Ia masih kurang terbiasa memanggil Zainal dengan namanya saja karena dia adalah mantan bosnya.
Tanpa disangka bukannya duduk di kursi Zainal justru berjalan mendekat ke pak Dirman yang merasa kebingungan. Meski kesulitan karena punggungnya masih terasa nyeri ia tetap memaksakan diri berdiri dengan kedua lututnya di depan pak Dirman.
"Ada apa ini?" Tanya pak Dirman makin bingung.
"Pak... maafkan kesalahan saya yang dulu-dulu. Saya janji saya akan menghormati bapak tapi izinkan Ani putri bapak untuk jadi istri saya...!" Kata Zainal sambil memegang kedua pergelangan tangan pak Dirman.
"Berdiri dulu ...!" Kata pak Dirman karena merasa kurang nyaman dengan posisi mereka.
"Tidak. Sebelum bapak menerima lamaran saya untuk putri bapak saya tidak akan berdiri...!".
"Kalau saya pribadi setuju tapi kita harus tanya anaknya dulu dia setuju atau tidak?"
"Iya dia sudah setuju pak..!" Zainal bersemangat sekali.
"Ya sudah kalau begitu ayo berdiri!" Kata pak Dirman sambil menepuk-nepuk punggung Zainal yang mencoba bangkit untuk berdiri. Tentu saja dia mengernyit kesakitan karena tepukan pak Dirman tepat di pusat sakitnya.
"Yah... jangan ditepuk-tepuk..!" Ani yang berada di ambang pintu tahu kalau Zainal pasti sedang kesakitan saat ini. "Punggungnya mas Zein masih sakit yah..."
"Oh maaf saya tidak tahu...".Kata pak Dirman kikuk.
"Biasa aja kali yah!" Bang Lukman keluar dari dalam dan langsung duduk di kursi sebelum yang lainnya.
"Duduklah!" Kata bang Lukman pada Zainal.
Ani masuk ke dalam rumah sedangkan Pak Dirman duduk di kursi yang menghadap ke luar sedangkan Zainal duduk di sebelah bang Lukman.
"Ada apa?"- bang Lukman
"Aku datang untuk melamar Ani bang..!". Zainal seperti harus melewati tahap demi tahap untuk mencapai kemenangan. Setelah pak Dirman kemudian bang Lukman dan nanti bang Alif. Ia menelan ludahnya karena tiba-tiba saja dia jadi grogi.
"Kau datang sendiri?".
"Papa dan mama nanti akan datang...". Sumpah dia jadi seperti terpidana yang sedang menunggu keputusan hakim.
"Ya sudah nunggu mereka saja...".Kata bang Lukman sambil meninggalkan Zainal dan pak Dirman di ruang tamu berduaan saja. Tak ada yang memulai obrolan keduanya hanya saling diam. Sementara di dalam ruang tengah terdengar riuh dengan tangisan bayi dan ocehan-ocehan orang dewasa lainnya.
Tak lama Ani keluar menyuguhkan minuman untuk tamu istimewanya.
"Mas, mama sama papa mau kesini?"- Ani.
__ADS_1
"Iya..."
"Kok nggak bilang-bilang. Kirain mas tadi cuma nganterin aku terus pulang".
"Kamu sudah manggil papa mama An?", tanya pak Dirman.
"Maaf yah...", Ani menunduk karena merasa memang seharusnya panggilan seperti itu selayaknya kalau sudah sah menikah.
Pak Dirman menarik nafasnya kemudian beranjak masuk ke dalam rumahnya.
"Yah....", Ani mengejar pak Dirman karena mengira ayahnya yang melow itu marah padanya.
"Apa?". Pak Dirman yang kini berada di ruang tengah memandangi keponakannya yang tingginya kini sudah sama dengannya. Tiba-tiba saja terlintas masa lalu saat bersama istri dan abi uminya Ani. Kini anak-anaknya sudah besar semua dan satu persatu dari mereka menikah dan hidup dengan pasangannya.
"Ayah marah?"-Ani.
"Enggak nak. Tak terasa kalian semua sudah besar sekarang."
Mendengar hal itu Ani memeluk lengan pak Dirman yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Sedang Lukman dan Laila yang juga berada di ruangan itu merasa sedih mendengar penuturan pria yang sabar dan perasa itu.
Laila membawa bayinya yang masih beberapa hari itu di dekat kakeknya.
"Akung jangan sedih kung...," Kata Laila seperti suara anak kecil.
"Akung nggak sedih kok cu, akung cuma kelilipan tadi? Hiks.." Ia menerima bayi lelaki yang montok itu di pangkuannya lalu menciumi pipinyanya sedangkan Ani mengusap air mata ayahnya dengan tisu dengan penuh kasih sayang.
Benar kata orang semakin tua seseorang perilakunya akan kembali seperti anak kecil lagi. Dikit-dikit nangis, minta diperhatikan.
Bang Alif yang baru datang lewat pintu belakang hanya melihat keadaan itu dan tidak langsung bertanya apa yang sedang terjadi sebenarnya. Kemudian di susul bu Jannah yang menggendong Maryam dan terakhir Mia yang masuk lewat pintu belakang juga.
Semua dikasih tahu oleh Lukman kalau papa mamanya Zainal akan datang untuk melamar Ani.
"Iya yah. Karpetnya sudah di gelar Man?" Tanya bang Alif pada Lukman yang sedari tadi diam memperhatikan setiap orang.
"Eh belum bang. Di depan ada Zainal."-Lukman
"Tamunya ditinggal sendirian?"-Bang Alif.
"Iya ya aku jadi lupa sih..."-Lukman.
Bang Alif dan bang Lukman menuju ke depan untuk mempersiapkan ruangan yang akan dipakai untuk menerima tamu besar.
Tak lama setelah itu papa dan mamanya Zainal datang sekitar setengah jam sebelum maghrib.
Tak disangka mereka membawa satu mobil box berisi aneka kue dan makanan sebagai bawaan lamaran.
Tentu saja Ani kaget karena dari pagi dia berada di rumahnya Zainal dan tidak ada persiapan apa-apa di sana sekarang datang-datang sudah membawa bawaan segitu banyaknya. Tapi dia juga bersyukur karena tadinya mereka hanya akan menjamu kue-kue dan camilan saja karena semua serba dadakan sehingga tidak ada persiapan sama sekali. Bahkan dia sendiri pun tidak tahu menahu soal rencana lamaran itu.
Setelah beramah tamah akhirnya papanya Zainal mengutarakan maksud kedatangan mereka yaitu untuk meminang Ani untuk putranya.
"Kami sekeluarga datang ke sini untuk meminang putri keluarga ini yang bernama Ani untuk kami ambil menantu untuk satu-satunya anak kami yang bernama Zainal. Besar harapan kami semoga pak Dirman dan seluruh keluarga mau menerima i'tikad baik kami untuk semakin mengeratkan persaudaraan di antara dua keluarga."
"Saya mewakili ayah saya menerima maksud tujuan bapak beserta ibu tapi kami juga harus menanyakannya pada Ani karena dialah yang akan menjalani kehidupan rumah tangganya nanti."
Bang Alif meminta Ani mendekat dan bertanya padanya apakah ia mau menerima lamaran Zainal atau tidak dan Ani hanya diam sambil menunduk.
__ADS_1
"Apa kamu terpaksa menerimanya An?"
Ani menggelengkan kepalanya tanda jika dia menerima Zainal dengan sukarela.
"Zein..... !"- bang Alif.
"Iya bang!". Zainal merasa deg-degan lagi.
"Kau menyukai adikku?".
"Iya bang!".Zainal menjawab dengan bersemangat.
"Kau tahu aku begitu menyayanginya?"
"Iya ba ng...", Zainal mulai takut.
"Apa kau bisa menyanginya ....menjaganya... seperti aku menyayangi dan menjaganya?".Mata bang Alif sudah mulai berkabut.
Ani dan para wanita yang ada di dalam juga mulai menitikkan air mata begitu pula mama Zainal yang biasanya keras kepala kini ikut menangis pula.
" Insya Allah bang. Aku akan berusaha sekuat tenaga."
"Baiklah kalau begitu aku terima lamaran mu. Betul begitu kan yah?"
"Iya. Tolong perlakukan anak saya dengan baik!", kata pak Dirman sambil mengusap air matanya.
"Ehm... itu bang.... bagaimana kalau nikah sirri sekarang?", tanya Zainal yang sudah ingin sekali menoel-noel pujaan hatinya.
"Kenapa kau ngebet sekali Zein?", tanya Lukman dengan keras membuat mama sang anak ingin menyalak tapi tangannya diremas oleh suaminya sehingga dia hanya menatap Lukman dengan jengah.
"Abang dulu juga di sirri dulu kan?", Zainal sedikit memaksa.
"Itu beda cerita, itu ter-pak-sa!", kata Lukman dengan suaranya yang memang keras.
"Lalu kapan kami akan menikah bang? Semakin cepat semakin baik kan?", kata Zainal menggerutu sambil melihat Lukman.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari dalam rumah.
"Tuh kan. Anakku tak terima kau memarahi ayahnya...", kata Lukman sambil masuk ke dalam rumah untuk mengambil bayinya dan memamerkannya pada Zainal.
"Latif sayang....... Ini ada bang Zainal..", kata Lukman sambil menggendong anaknya yang sudah di bedong di samping Zainal.
"Panggilnya om ya dek... bukan abang. Ayahmu itu aneh!". Kata Zainal sambil menoel-noel pipi tembemnya Latif.
"Kau ini....".
"Ma...n jangan dibiasakan marah di depan anak. Kau tidak mau kan anakmu jadi anak yang pemarah?" tanya bang Alif.
"Iya bang maaf. Maafin ayah anak. Anak pintar anak soleh..." Katanya sambil menciumi bayi gembul yang terlelap meski diciumi berkali-kali.
"Boleh saya gendong?" Kata satu-satunya wanita yang ada di ruang tamu itu.
Lukman pun memberikan anaknya dengan hati-hati pada mamanya Zainal.
"Pah lucu pah.... pipinya pah..," Dia gemas dengan bayi mungil yang tenang meski digendong siapa saja.
__ADS_1
"Zein.... mama pingin kayak ini...!."
Zainal yang mendengar permintaan absurd mamanya makin memajukan bibirnya karena dia tak berhasil melobi keluarga Ani untuk menikah sirri terlebih dahulu.