Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
lepaskanlah


__ADS_3

Zainal


Aku duduk bersama Bang alif dan Zainuddin, calon suaminya Ani. Umurnya seperti lebih muda dariku.


Aku duduk dengan mengambil jarak dengannya sedangkan bang Alif duduk berseberangan dengan kami. Aku duduk dengan gelisah karena pikiranku yang campur baur kemana-mana. Pudar sudah keinginanku untuk curhat pada bang Alif. Kini aku malas, untuk mengucap bahkan hanya sebuah kata saja aku enggan.


Dia muda, tampan, ustadz dan pembawaannya itu tenang. Aku ini apa jika harus dibandingkan dengannya?


"Kamu habis olahraga Zein?"


"Zein..." Bang Alif mengulang memanggilku.


"Eh iya bang..." jawabku kaget.


"Kamu habis olahraga?"


"Oh.... ini tadi aku kesini naik sepeda sekalian olahraga. Tadinya aku kesini mau curhat tapi ternyata aku dapat kejutan ...." Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan tidak sukaku pada orang yang duduk sejajar denganku.

__ADS_1


"Ini namanya Zainal ustadz. Dia mantannya Ani. Apa Ani sudah pernah cerita?" Bang Alif berkata dengan santainya dan aku yang malah sedikit kaget. Kenapa bang Alif berkata seperti itu pada kami.


"oh.... Ini saya baru dengar. Tapi sekarang sudah nggak ada hubungan lagi kan?" Dia menganngguk-ngangguk kemudian menoleh padaku.


Gila ya ini orang. Ini kepedean atau gimana, batinku. Ngomongnya bisa sesantai itu. Dia nggak cemburu atau merasa kalau aku tidak ada sebanding dengannya. Pingin ku cengkeram kerah lehernya kemudian ku banting saja dia. Harga diriku seperti terinjak-injak.


Aku diam saja tak menanggapi pertanyaannya. Aku tak mau mengalah toh masih baru lamaran kan, belum pernikahan.


"Kalau masih lamaran masih belum punya hak apa-apa kan bang? Selama belum ijab qobul masih bisa diperjuangin kan bang?" Aku sudah tak bisa basa basi lagi. To the point saja. Aku nggak mau menyerah sekarang. Restu mama sudah kudapatkan jadi tidak ada lagi yang bisa menghalangi kami. Lagian aku juga yakin kalau Ani masih cinta padaku.


Pandangan bang Alif padaku tak seperti biasanya. Ia tampak marah, mungkin tak berkenan dengan apa yang baru ku utarakan.


Aku menelan salivaku. Tatapan bang Alif kali ini benar-benar membuat bulu kudukku meremang karena takut. Tidak pernah aku melihat bang Alif seperti ini. Ternyata orang yang pembawaannya tenang dan bijaksana itu sangat menakutkan saat marah.


"Maaf bang.... aku belum tahu tentang hal itu".


Suasana hening menyelimuti ruang tamu. Sebenarnya aku ingin bertanya bagaimana hukumnya menikah saat sedang hamil dan nasab anak-anaknya nanti bagaimana seperti yang terjadi pada Wulan. Tapi kuurungkan karena kondisi saat ini sedang tidak tepat. Aku juga akan lebih insecure karena itu akan membuatku terlihat bodoh di depan sainganku yang seorang ustadz.

__ADS_1


"Bang..... aku mau pamit." Akhirnya aku menyudahi keheningan kami dan aku tahu aku tak diharapkan disini sekarang.


"Iya...." jawab bang Alif.


"Bang...." Aku menjeda kalimatku karena takut jika bang Alif akan marah lagi dan mungkin juga tak memberi izin tapi setidaknya aku harus mencoba untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini aku janji aku tak akan menggangunya lagi.


"Kenapa?"


"Boleh nggak aku bicara sama Ani, sebentar saja ?" Aku melirik pada pria yang duduk agak jauh dariku.


Bang Alif menatap pada calon iparnya itu seperti meminta pendapat.


"Saya nggak masalah jika Ani bersedia karena seperti tadi yang dikatakannya kalau saya memang belum punyak hak untuk melarang-larang. Saya juga percaya calon istri saya tahu batasan-batasan yang tidak boleh di langgar. Mungkin ada pembicaraan yang harus diselesaikan oleh mereka berdua" Dia berbicara dengan percaya diri dan berwibawa.


Sungguh aku merasa insecure.


"Aku tunggu didepan bang...!" Kataku saat bang Alif beranjak dari duduknya untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Aku menunggu dengan cemas, apakah dia bersedia bertemu denganku atau tidak.


Aku janji pada Mu ya Alloh... setelah ini aku akan melepasnya dengan ikhlas.


__ADS_2