
Pak Dirman nampak berkutat di dapur sedang membuat bubur. Meskipun seorang duda dan terbiasa dilayani anak-anaknya namun beliau sesekali pergi ke dapur. Terkadang ingin makan bubur, mi,bikin kopi dan tentu saja ada rasa sungkan jika terus menerus meminta anak-anaknya untuk membuatkan ini dan itu.
Beras yang sudah di cuci kemudian dituangi air dan di masak di atas panci sambil diaduk terus menerus agar tidak gosong. Pak Dirman menambahkan sejumput garam dan daun pandan kemudian diaduknya lagi sampai benar-benar matang.
Dituangnya bubur yang sudah matang ke dalam mangkuk kemudian di beri taburan bawang goreng. Ia ingin menambahkan abon diatasnya tapi setelah mencari-cari di dalam kulkas ia tidak menemukannya.
"Bundanya El..... abonnya nggak ada ya, habis ya?" Tanyanya pada Laila yang baru keluar dari kamar El. Kamar yang dulu di pakai adiknya Doni kini ditempati oleh putranya.
"Di kulkas nggak ada yah..?.", ia berjalan ke arah kulkas untuk mencarikan apa yang dimaksud oleh mertuanya. Seingatnya ia menaruhnya di dalam freezer semoga saja tidak beneran habis.
"Tadi tak ubek-ebek kok nggak nemu-nemu?", kata Pak Dirman sambil duduk di meja makan.
"Ini yah, cuma tinggal segini...", Laila memberikan abon yang tinggal seuprit pada sang mertua.
"Nggak papa lah lumayan. Tadi ayah nyari kok nggak kelihatan ini...".
"Di freezer yah...."
"Ooh.....".
Laila memperhatikan pak Dirman yang menaburkan abon di atas bubur. Ia penasaran tumben-tumbenan ayah mertuanya membuat bubur dan di tata sedemikian rupa. Mangkuknya dialasi piring kemudian di taruhnya di atas nampan.
"Nggak papa kan nak, bubur panas di campur abon dingin begini?", Pak Dirman khawatir jangan-jangan itu berbahaya.
"Ehm.... nggak tahu juga ya yah..."Laila juga bingung jadi tidak tahu harus menjawab apa.
Laila ingin bertanya tapi dia menahannya, ingin tahu sebenarnya bubur itu untuk siapa.
"Tolong bawa ini ke sebelah ya nak!", katanya sambil memberikan nampan kepada Laila.
"Siapa yang sakit yah?"Laila menerimanya dan semakin kepo dibuatnya. Tidak biasa nya sang ayah akan repot-repot seperti itu.
"Itu.... bu Jannah!", katanya sambil meninggalkan Laila menuju kamarnya karena entah kenapa ia jadi malu saat menyebut nama wanita paruh baya itu.
Ani melihat wajah bersemu dan malu-malu sang ayah meski hanya sekilas saja. Ia pun tersenyum dan bergegas menuju ke rumah sebelah lewat belakang.
__ADS_1
Rumah bang Alif nampak sepi karena jam segitu memang waktunya orang beristirahat.
Ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Pintunya memang tertutup tapi tidak di kunci.
Menaruh nampan di atas meja makan kemudian berjalan ke depan ke arah ruang tamu karena sepertinya ia mendengar suara dari arah sana.
Ani terlihat duduk memejamkan matanya dengan tangan memegang donat Maryam. Sedangkan bayi gembul dan menggemaskan itu asyik bermain dan memakan remahan-remahan biskuit bayi yang sejak tadi diacak-acaknya.
Merasa ada seseorang yang sedang berdiri di dekatnya, Ani sontak membuka matanya.
"Kak..?", perlahan-lahan dia menegakkan tubuhnya kemudian mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan tubuhnya. Seharian beraktivitas membuat raganya lelah dan memaksa matanya untuk berisitirahat. Meski cuma beberapa menit saja rasanya sudah cukup membuatnya kembali bersemangat.
Laila mengangkat Maryam dari donatnya, menciumi pipi bayi yang menggemaskan itu.
" Ibu sakit?". Tanya Laila saat ia sudah mendaratkan bokongnya di sofa tak jauh dari Ani.
Ani menganggukkan kepalanya karena mulutnya masih agak malas bicara.
"Ayah buatin ibu bubur...", Mata Laila berbinar bahagia saat mengatakannya.
Ani membelalakkan matanya antara terkejut dan bahagia, "Benarkah?".
Seperti mendapat angin segar karena itu adalah keinginan seluruh keluarga untuk menyatukan keduanya. Rina sudah berkeluarga dan pulang ke rumah suaminya. Begitupun dengan Ani yang sebentar lagi akan menyusulnya. Semua akan sibuk dengan keluarganya masing-masing dan untuk berkunjung ke rumah sang ayah tidak mungkin bisa dilakukan tiap hari.
Mereka ingin ayahnya ada teman berbincang dan berbagi untuk mengisi hari tuanya. Bisa berkeluh kesah dan bermanja yang tentu saja tidak akan bisa dilakukan pada anak-anaknya. Seorang istri bisa memenuhi semuanya terutama saat malam tiba. Bisa menjadi guling, bisa di peluk, bisa jadi selimut.
Terutama untuk Ani, bu Jannah adalah wasiat dari mendiang ustadz Zainuddin yang harus di jaga dan di sayangi. Gadis itu masih ingat betul bagaimana saat-saat terakhir bersama pria yang pernah mengisi hari-harinya saat ia terpuruk karena gagal dengan cinta pertamanya.
Di hari-hari terakhir ustdaz Zainuddin ia berkali-kali menitipkan sang ibunda pada calon istrinya seolah sudah punya firasat bahwa umurnya tak akan lama. Hanya saja Ani tidak punya pikiran sampai ke sana. Takdir ternyata hanya mengizinkan mereka berdua bersama beberapa saat saja.
Ani menghela nafasnya, ia merasa bisa bernafas dengan lega karena setelah nanti ia menikah dan tinggal bersama suaminya, bu Jannah tidak akan merasa sendirian dan kesepian karena sudah punya suami untuk tempat berkeluh kesah dan mencurahkan segalanya entah itu pahit atau manisnya kehidupan.
Ani dan Laila saling melemparkan senyum. Mereka belum bergerak untuk memulai rencana tapi sepertinya alam memang punya kehendak untuk menyatukan keduanya.
Maryam ikut tertawa kegirangan seolah ikut berbahagia dengan keadaan yang belum dipahaminya.
__ADS_1
"Biasanya kalau habis dimandikan bayi akan tertidur lelap. Coba mandikan saja dulu!", Laila kadang masih tidak bisa memanggil Ani dan Karina dengan namanya saja.
"Tapi habis Ashr nanti kalau tukang ukurnya datang gimana? Masak di bangunkan lagi, kan kasihan kak?".
"Ya malah seneng tukang ukurnya. Anaknya nggak gerak-gerak....", ujar Laila.
"Ya sudah deh aku mandikan dulu Maryam. Buburnya nanti biar dimakan ibu kalau kak Mia datang ya kak. Tadi aku pesen obat soalnya. Kenapa belum pulang juga sih? Tumben-tumbenan..."
Laila meninggalkan rumah bang Alif menuju ke rumah mertuanya karena takut El bangun dari tidur siangnya.
" Jangan lupa nanti habis Ashr ya kak!"
"Iya..!".
.
.
.
Sehabis Ashr seluruh keluarga berkumpul untuk melakukan pengukuran baju seragam yang akan digunakan di acara resepsi pernikahan Ani dan Zainal.
Kak Mia dan Bang Alif yang pertama karena mereka punya agenda mengajar di TPQ. Setelahnya kemudian Laila, Bang Lukman, sang ayah, kemudian El dan pasangan pengantin baru, Karina dan Ibrahim. Juga si kecil Maryam yang masih tertidur pulas setelah dimandikan tadi.
Ada dua pegawai yang datang dan mereka bekerja dengan sangat cekatan. Sampai selesai semuanya pak Dirman menampakkan wajah cemberut dengan bibir yang mengerucut. Terlihat lucu karena usianya yang sudah terbilang tua dan dia bersikap seperti anak-anak yang sedang merajuk pada ibunya.
" Kalian semua melupakan salah satu penghuni rumah ini...!", Ucapnya tak tahan lagi karena tukang ukur sudah bersiap-siap mengemasi alat-alatnya.
Anak-anak dan menantunya saling berpandangan. Mereka benar-benar melupakan seseorang yang harusnya juga masuk dalam anggota keluarga.
Dan Ani yang pertama kali mengingatnya, "Ya Alloh... ibu...!!!".
"Astaghfirullahaladzim....." ucap mereka serentak kenapa jadi oon semua dan melupakan wanita yang memang sudah seperti keluarga.
"Buatkan juga pakaian yang istimewa! Karena kami akan menikah pada hari yang sama," Interupsi sang ayah sambil meninggalkan kediaman bang Alif.
__ADS_1
Sekali lagi anak-anak muda itu saling berpandangan, kali ini dengan mulut menganga. Tidak percaya pada apa yang baru saja didengar.
Wah.... harus bilang bang Alif segera ini, bagaimana nanti responnya?