Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
pertengkaran


__ADS_3

"kau tidak bekerja hari ini?"


Zainal hanya menggelengkan kepalanya kemudian masuk kembali ke dalam kamar dan menguncinya. Tak ada kekuatan untuk berbicara, ia hanya ingin memejamkan matanya dan bermimpi indah didalamnya. Mendapatkan restu dari sang mama kemudian menikah dengan pujaan hatinya.


Direbahkannya tubuh yang lelah karena menginginkan sesuatu diluar batas kemampuan nya, diatas kasur yang empuk yang tidak semua orang bisa memiliknya. Berandai-andai dalam alam sadarnya, barangkali masih ada kemungkinan yang bisa disepakati antara dirinya dengan sang mama.


Meski matanya terpejam tapi ia tak bisa tertidur lelap. Langit-langit kamar dan semua yang ada didalamnya menjadi saksi bahwa dia adalah pria cengeng yang menangisi seorang gadis yang dicintainya.


Berjuang untuk cinta ? Rasa-rasanya ia belum melakukannya dengan benar. Ia hanya bersabar dan berdo'a menunggu sang mama merestuinya dengan menolak gadis-gadis yang dijodohkan padanya. Kerap kali ia mengatakan bahwa ia sudah punya Ani dan mamanya akan mengomel mengatakan bahwa dirinya tidak setuju. Hal itu biasanya berbuntut dengan ceramah panjang sang mama. Ia hanya diam dan kemudian mengabaikannya dengan harapan mamanya akan sadar jika ia serius dengan Ani gadis yang dicintainya.


Papanya biasanya akan membela Zainal dan berusaha membujuk istrinya agar merestui pilihan putranya tapi wanita paruh baya itu tetap pada pendiriannya. Menginginkan gadis yang strata sosialnya sama dengan mereka dan bisa dia banggakan didepan teman-teman kayanya. Yang bisa mengerti kehidupan orang-orang kaya di daerah mereka. Bukan seorang gadis seperti pilihan putranya yang sederhana terlebih dia adalah yatim piatu dan keponakan bawahannya , pak Dirman.


Zainal menatap langit kamarnya yang dihias dengan bintang-bintang dan bulan dengan cat hitam sebagai warna dasarnya. Ia mengambil hape diatas meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia melihat galeri foto mencari sosok gadis yang membuat matanya sembab dan tak berdaya seperti sekarang. Hanya ada beberapa foto yang diambilnya secara diam-diam. Bahkan foto mereka yang berduaan tidak ada. Lalu apa yang sudah mereka lakukan sejauh ini kenapa tidak ada momen yang diabadikan bersama.

__ADS_1


Helaan nafasnya memenuhi seluruh kamar. Ia baru sadar jika kekasihnya itu tak pernah minta foto bersama.


'Jangan-jangan dia tak punya fotoku sama sekali. An......'


Kenapa rindu itu menderanya sedemikian rupa padahal ia juga tak setiap hari bersua dengannya. Mendapati kenyataan bahwa ia tak bisa memilikinya membuat hati dan pikirannya kacau. Ingin sekali ia memaki dan berteriak tapi pada siapa? mamanya? itu hal yang tidak akan pernah dilakukannya. Bagaimanapun kesalnya ia pada sang mama tapi ia tahu batasannya.


Atau berteriak pada Yang Maha Kuasa kemudian memberontak dan memarahinya dengan mengatakan bahwa takdir yang ditetapkan untuk nya tidaklah adil baginya. Apakah mungkin dia mengira bahwa Tuhan itu bodoh padahal dialah yang Maha Bijaksana? Tidak mungkin Tuhan yang mengetahui segala urusan dan apa yang tersembunyi di hati manusia tidak tahu mana yang terbaik untuk hambanya.


"An...... apa kau juga merindukanku?" ia mengusap hape yang bergambar wajah Ani yang memakai kerudung saat memakai baju Betawi di pernikahan bang Lukman.


Ia membuka aplikasi chatting dan membaca ulang chatingannya dengan Ani sejak pertama mereka mulai saling bertukar pesan.


Jarinya ingin menekan tombol panggil tapi diurungkannya. Ia melihat foto profil Ani yang bergambar stetoskop. Zainal menyadari jika Ani memang tidak suka mengumbar kecantikannya.

__ADS_1


"An......" Ia memblokir nomor kontak Ani dengan membaca bismillah dan hauqolah. Ia ingin mengekang hatinya agar tak goyah dan mau menerima semuanya dengan ikhlas seperti kata bang Alif.


Hari kedua mamanya mendatanginya dengan membawa makanan ke dalam kamarnya yang lupa tak dikuncinya. Ia memang kelaparan tapi rasanya tak ada nafsu untuk makan dan sekedar mengisi perutnya. Ia hilang selera dan mengatakan pada mamanya bahwa ia baik-baik saja.


Bukannya sang mama tak tahu apa yang sedang terjadi pada putranya tapi ia meyakini itu hanya perasaan sedih dan terkejut sesaat yang akan hilang seiring berjalannya waktu. Maka ia memberi ruang pada anaknya untuk menyendiri dan menghabiskan kesedihannya. Setelah itu ia akan kembali normal seperti biasanya, itu yang ada dalam benaknya.


Hari ketiga papanya Zainal yang baru pulang dari swalayan terlihat marah pada istrinya yang seperti tak ada beban apalagi bersedih karena putra mereka seperti tak ingin melanjutkan hidup. Dua hari ia harus kembali bekerja untuk menggantikan Zainal yang tak punya semangat dan melalaikan hal-hal yang ada disekitarnya. Zainal benar-benar hanya beranjak dari tempat tidur nya untuk solat dan ke kamar mandi. Makanan dan minuman sudah disediakan oleh pembantu atas perintah nyonya rumah tapi ia hanya menjamahnya sedikit saja.


" kapan kau mau mengalah? kau lebih suka putramu itu menderita daripada melihatnya bahagia?" sang suami langsung mengungkapkan kekesalan hatinya saat melihat istrinya itu asyik dengan gadget nya


"Itu hanya sesaat saja. papa nggak usah lebay deh. Abis ini Zainal akan baik-baik saja. Aku ini ibunya, yang melahirkan dia. Aku tahu mana yang baik untuknya. Papa itu nggak tahu apa-apa soal Zainal."


Pertengkaran besar tak bisa dielakkan karena sang suami merasa sudah cukup bersabar mengahadapi istrinya yang keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2