Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
mode manja


__ADS_3

Ani memanggil ambulance agar bisa membawa Zainal dengan aman sampai ke rumah sakit. Sebagai seorang dokter Ani tahu cedera seperti itu harus ditangani petugas medis dan sebaiknya korban tidak bergerak sehingga dia sampai di rumah sakit dan mendapatkan penanganan dari Dokter spesialis ortopedi.


Meski awalnya menolak tapi akhirnya Zainal mau menuruti permintaan Ani setelah gadis itu berjanji akan menemaninya di rumah sakit nanti. Ani akan menyusulnya menggunakan mobil Zainal.


.


.


Kini Zainal sudah berada di kamar perawatan setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan untungnya tidak terjadi cedera yang menghawatirkan. Tidak ada tulang yang retak apalagi urat syaraf yang terputus. Hanya luka memar dan lebam.


Ani beryukur dan merasa sedikit lega karena dia sudah lama tidak pernah latihan sehingga kekuatannya pun berkurang. Untung juga tadi ia sedang menggendong Maryam sehingga fokusnya terpecah. Ia membayangkan bagaimana jika itu terjadi di masa lalu mungkin Zainal akan mengalami cedera serius atau mungkin juga harus menjalankan operasi.


Zainal melihat Ani yang keluar masuk dari kamar inapnya menyibukkan dirinya sendiri dan itu terlihat sekali. Zainal tahu jika Ani pasti merasa tidak nyaman karena hanya berduaan saja dalam satu kamar. Sebenarnya Zainal juga merasa canggung dengan hal itu tapi ia menikmatinya dan berharap bisa lebih lama berduaan dengan Ani.


"Aku akan tidur menghadap ke sana. Jangan mondar mandir duduklah di situ di...!" Kata Zainal dan itu membuat Ani tersipu malu.


"Aah.... nggak kok. Ini tadi barusan beli roti" Kata Ani mencoba menutupi kecanggungannya.


"Kalau begitu makanlah disitu di...! Aku tidak akan melihat." Kata Zainal sambil matanya melirik ke arah sofa yang tak jauh darinya.


Ia kemudian mencoba bergerak agar bisa tidur miring dengan posisi memunggungi Ani. Ia hanya ingin Ani merasa nyaman berada di dekatnya.


"ssshhh..,. a... aa" Zainal menahan rasa sakitnya dan berusaha untuk bergerak.


"Jangan banya gerak dulu mas !!" Ani yang mendengar desisan Zainal segera mendatangi Zainal yang berusaha bergerak, "Mas Zein mau ke kamar mandi?" Tanya Ani.

__ADS_1


Zainal kembali berbaring seperti semula karena ia tak tahan dengan rasa sakitnya. Padahal dia sudah minum obat anti nyeri yang baru saja di berikan oleh dokter yang memeriksanya dan minumnya pun dibantu oleh dokter pujaan hatinya.


Zainal menggelengkan kepalanya. "Aku tahu kamu tidak nyaman bersamaku disini dii..."


"Ish.... Siapa nggak nyaman


Aku hanya merasa sedikit canggung saja ....karena kita cuma berdua saja disini..." Ani mengungkapkan perasaannya.


Zainal tersenyum mendengar perkataan Ani,


" jadi.... apa kamu nyaman saat bersama ku di?" Tanyanya penasaran.


"Ihh... pertanyaan macam apa itu? Sudah sekarang sebaiknya mas Zein cepat tidur!" Kata Ani sambil membenarkan letak selimut Zainal yang agak menyingkap.


"Iya janji..."Kata Ani.


"Em...m.... mas Zein sudah telpon ke rumah?"


"Haruskah?" Zein balik bertanya.


"Ya haruslah. Kalau ada apa-apa juga keluarga yang paling mencemaskan kita.."


"Aku kan anak laki-laki. Kalau nggak pulang mama papa juga nggak bakal khawatir..." Zainal berkata seperti itu karena dulu saat berpisah dengan Ani dia sering menginap di toko dan kedua orang tuanya tak mengkhawatirkannya.


"Terserahlah..."Kata Ani sambil duduk di sofa kemudian bermain hape tanpa melihat Zainal.

__ADS_1


"Iya iya... aku telpon ke rumah. Jangan marah di.... ! Aku lagi sakit lho...." Kata Zainal merayu Ani yang hanya mengedikkan bahunya.


Tangannya mencoba menggapai hape di atas meja pasien tapi ia sedikit kesulitan karena begitu bergerak rasa nyerinya tiba-tiba berdenyut di punggungnya.


Ani menoleh ke arah Zainal yang disambut dengan senyuman manis dari pacar pertamanya itu," Tolong...!" Katanya memelas.


Ani sigap dan segera berjalan untuk mengambilkan hape Zainal yang ada diatas meja dan memberikannya pada Zainal.


"Tolong...!" pinta Zainal lagi. Sebenarnya ia masih bisa menahan rasa sakitnya jika hanya untuk mengoperasikan handphonenya tetapi ia ingin berdekatan dengan pujaan hatinya. Memanfaatkan momen sebaik-baiknya dengan bermanja pada gadis cantik yang sudah membuatnya terkapar di rumah sakit.


Hilang sudah rasa malu dan tak lagi menjaga image sebagai lelaki yang harusnya tempat seorang wanita bermanja-manja dan mendapatkan perlindungan. Ia malah melakukan hal sebaliknya.


"dua satu dua tiga" Kata Zainal memberikan nomer sandi untuk membuka handphonenya.


'dua tiga? itu tanggal lahir ku?'. Batin Ani tapi wajahnya datar sekali dan itu membuat Zainal sedikit kecewa karena ia berharap Ani akan bertanya tentang nomer sandi handphonenya tapi Ani pura-pura tak menyadarinya.


"lima kali panggilan dari mama..." Kata Ani saat kuncinya sudah terbuka.


"Tolong telponkan mama! Katakan sekarang aku dirumah sakit tapi sudah baik-baik saja dan sekarang aku sedang istirahat!" Kata Zainal.


"Kenapa harus aku? Mas Zein sendiri yang ngomong!" Kata Ani sambil menekan tombol panggil mama dan menaruh handphone Zainal di telinga sisi kirinya.


Telpon langsung tersambung dan mamanya langsung memanggil nama Zainal.


"Zein... Zeinal!!.... kamu dimana? Kamu baik-baik saja kan?" Kata mamanya dari seberang tapi Zainal tak menjawab malah menatap Ani yang berdiri di sampingnya dengan tatapan memelas.

__ADS_1


__ADS_2