
Selepas solat subuh Zainal berusaha memejamkan matanya karena semalaman ia hampir tak bisa tidur nyenyak. Hatinya gelisah membuat netranya tak mau diajak masuk ke alam mimpi. Berkali-kali ia membenarkan posisi tidurnya, gelisah tanpa arah.
Bahkan ditengah malam ia juga mendirikan solat Sunnah. Sekuat tenaga ia berusaha menghadirkan hati tapi tak bisa juga. Pikirannya melalang buana entah kemana.
Bukannya tak mengerti jika yang dikatakan bang Alif adalah benar adanya, hanya saja egonya belum bisa menerima. Setelah beberapa purnama lewat akhirnya ia bisa menemukan gadis yang menyelarasi hati. Yang sesuai dengan kriterianya baik secara fisik maupun tindak tanduk dan keluarga nya.
Gadis cantik, tinggi semampai dengan kedermawanan dan kepandaian yang dimiliki serta tidak murahan seperti yang ia harapkan semua ada pada diri Ani. Gadis yang pembawaannya tenang dan sedikit pendiam.
Zainal paling tidak suka cewek yang manja dan suka bergelayutan pada lengannya, sedikit-sedikit menempelkan tubuhnya. Tubuhnya langsung merasa bergidik, bulu romanya berdiri karena jijik.
Perasaan seperti itu tertancap dalam benaknya dan sudah mendarah daging hingga terbawa ke alam bawah sadarnya.
Dan Ani adalah gadis yang sempurna dimatanya.
Tapi takdir seolah sedang mempermainkannya.
Bagaimana bisa semua itu terjadi saat hatinya sudah mantap untuk menetapkan nama gadis yang ingin disunting dan ingin dinikahi tapi sang mama malah menolaknya dengan alasan yang tak jelas dan mengada-ada. Membatasi diri dengan status dan kekayaan, menjunjung tinggi harkat dan martabat yang fana.
Rasanya ia ingin marah pada mamanya seperti di film-film barat yang sering dilihatnya. Adegan seorang anak bertengkar dengan ibunya dan kemudian pergi meninggalkan rumah. Andai saja ia lupa jika agama melarangnya niscaya ia akan melakukannya.
__ADS_1
Islam begitu memuliakan seorang ibu. Bagaimana ketika suatu saat ada sahabat yang bertanya siapa orang yang harus dihormatinya. Rosulullah yang mulia menjawab,"ibumu"
Sahabat itu kemudian bertanya lagi,"lalu siapa lagi ya Rosulullah?"
"ibumu"
"lalu siapa lagi ya Rosulullah?"
"ibumu"
"lalu siapa lagi ya Rosulullah?"
Air matanya keluar meski kelopak matanya tertutup rapat. Mereka berdesakan keluar untuk sedikit melegakan jiwa tanpa suara hanya tangannya yang sibuk mengusapnya dan beberapa kali matanya mengerjap.
Ia ingat cerita Sa'ad bin Abi waqqos sahabat Nabi yang garang diluar tapi di rumah ia sangat menyayangi ibunya. Bad boy tapi anak mama.
Saat sang ibu tahu jika putranya masuk Islam, ibunda Sa'ad bin Abi waqqos itu melakukan mogok makan dan minum agar anaknya mau kembali ke agama nenek moyangnya karena ia tahu jika putranya itu sangat menyayanginya.
Dan anak yang berbakti itu tetap membujuk ibunya agar mau makan.
__ADS_1
Sampai tiga hari kemudian ibunya tetap tidak mau makan dan minum membaut kondisi fisiknya sangat memprihatinkan.
Sa'ad bin Abi waqqos kemudian kemudian berkata," wahai ibu, seandainya ibu punya seratus nyawa dan aku dipaksa untuk melihatnya keluar satu persatu dari raga ibu Demi Alloh niscaya aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku. karena itu.... makanlah Bu...!"
Hingga akhirnya sang ibu menghentikan aksi mogok makan dan minumnya karena keteguhan hati Sa'ad bi Abi waqqos, putranya
Dalam surat Lukman Alloh menegaskan jika kita wajib menghormati orang tua meskipun berbeda agama dan wajib menolak jika kita diperintahkan untuk keluar dari Islam.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Lukman/14:15)
'Bukankah itu artinya aku wajib taat pada mama yang melahirkan ku untuk urusan memilih jodoh?'
Zainal menyesali nasibnya yang lahir dari seorang ibu yang tidak ingin melihat anaknya bahagia. Kalau saja ia punya saudara mungkin mamanya tidak akan mengaturnya sedemikian rupa. Andai ia lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja pasti jalan hidupnya akan berbeda.
Ia mencoba menyalahkan keadaan.
Seharian itu ia hanya mengurung diri dikamar. Ia hanya bangkit saat waktu solat saja. Perutnya hanya diisi minuman karena rasa dahaganya tapi ia tubuhnya tak berselera untuk makan bahkan untuk sekedar menegakkan tulang punggungnya.
Saat ia kehausan ia keluar kamar dan papanya yang sedang di ruang tengah melihat keadaannya yang menyedihkan. Rambut acak-acakan dengan mata sembab karena menangis terus-terusan. Bukankah keadaan itu seperti seorang gadis yang diputuskan pacarnya.
__ADS_1