
Pov Zainal
Sudah dua hari aku pulang ke rumah dan dua hari ini, Ani, dokter kesayanganku yang sekarang tidak bekerja jadi dokter lagi itu setiap pagi mengunjungi ku dan merawat ku.
Padahal aku berhalusinasi harusnya mama lebih menekan Ani dan meminta kami untuk menikah sirri dulu agar dia bisa merawatku tanpa malu-malu. Kalau aku pas pingin pipis kan enak bisa minta dia untuk mengambilkan pispot dan kujahili saja dia suruh benerin posisi*nya* biar air seniku nggak ke mana-mana. Gimana ya reaksinya kalau benar seperti itu kejadiannya?
"Mas....!"
"Eh iya... apa di?"
"Kok sepi banget sih rumahnya? Pada kemana semua?" Dia melihat ke segala arah di luar kamar ku.
"Papa kerja gantiin aku. Mama kayaknya tadi ada. Mungkin sembunyi takut sama kamu."
"Takut? sama aku? Nggak kebalik mas?" Wajahnya lucu sekali kalau merajuk. Uh pingin tak uyel-uyel rasanya. Pikiranku sudah melalang buana saja. Harus disegerakan nih. Bang Alif juga kenapa sih nggak nyuruh kita nikahan aja dulu biar aku bisa pegang-pegang dia.
"Emang kamu takut sama mama di?" Kataku menggodanya.
"Sebenarnya takut juga sih. Namanya juga orang tua." Dia terlihat kikuk saat berduaan seperti ini.
"Orang tua kita kan?" Tanyaku masih dalam posisi rebahan sedangkan Ani bersandar di pintu kamar yang dibiarkannya terbuka.
"Di... " Aku menghentikan ucapanku dan melihat cincin di jari manisnya. Sebegitu sulitkah melupakan calon suaminya yang sudah berpulang pada Tuhan hingga cincinnya masih tersemat dengan baik di jarinya. " Menikahlah denganku...! Akan berbuat baik dan menyayangi mu. Soal mama aku yakin mama akan melunak pada waktunya. Aku akan mencari rumah untuk kita sendiri... Kumohon...!"
" Apa anakku tidak pantas untukmu?" Tiba-tiba mama sudah ada di belakang Ani. "Apa kekurangan dia? Dia lelaki paling tampan di dunia ini. Zainal juga cukup kaya. Dia mau bekerja meskipun emosinya tidak stabil. Dia juga orang yang mudah menerima dan sangat penyayang pada wanita terutama mamanya. Dia juga orang yang hatinya lembut tapi dia juga cengeng. Meskipun dia suka menangis tapi dia masih mau mengalah pada mamanya. Dia juga tidak mudah tertarik pada wanita buktinya banyak yang suka padanya tapi dia tak memanfaatkan mereka. Hanya saja mungkin dia akan manja pada istrinya nanti karena sekarang dia benar-benar menjaga dirinya agar tak mudah bersentuhan dengan wanita yang tak halal baginya. Kurang apalagi dia? Kenapa kau tak mau menerimanya?"
"Ma ayolah....! Biarkan Ani berpikir dulu!"
"Jangan sok-sokan deh Zein! Mama tahu bahkan kamu lebih ngebet daripada mama. Pikiran mu sudah kemana-kemana. Jadi laki-laki yang sat set sat set gitu loh. Jangan lembek kayak gitu!!"
__ADS_1
"Ya Alloh mama....! Masak anaknya sendiri dikatain begitu.." Kataku yang merasa tersindir.
"Memang kenyataannya kamu seperti itu. Kamu itu jangan kayak papamu. Masak digalakin mama aja udah nggak berkutik... Kalau istri keras ya suami harus lebih keras daripada istrinya, biar nggak nglunjak..."
"Astaghfirullahaladzim.... mama. Itu namanya mengalah untuk kebaikan bersama ma.." Kataku membela papaku.
"Hallah alasan...."
Ani yang sekarang sudah masuk di dalam kamarku dan berdiri tak jauh dari mama hanya geleng-geleng kepala melihat kami berselisih.
"Kenapa melihatku seperti itu? " Kata mama masih dengan emosinya yang meluap-luap.
" Maaf tante, Mas Zein memang pria perfect yang disukai setiap gadis tapi...." Kata-katanya terhenti.
"Tapi apa?"
"Ma ayolah...!" aku minta mama untuk berhenti bicara dulu dan memberiku kesempatan untuk bicara pada kekasih hatiku.
"Ma...mama....!!" Air mataku meleleh melihat mama seperti itu.
Ani pun mengejarnya dan aku bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.
"Tante, maaf.... Saya bersedia menikah dengan mas Zein..." Kata Ani membuatku merasa saaangat senang meski masih ada yang mengganjal.
"Aku tahu kau mengatakan kalau Zainal adalah pria yang sempurna yang diidamkan setiap wanita tapi kau juga ingin mertua yang baik dan sabar kan? Kalau itu aku belum bisa, jadi tolong bersabarlah...! hiks...."
Suara mama terdengar seperti anak kecil yang merengek minta mainan dan berjanji akan menjadi anak yang lebih baik.
"Iya. Tapi tolong sayangi saya juga. Terkadang saya juga sangat merindukan umi. Hiks..... " Kini suara Ani juga terdengar menangis.
__ADS_1
"Jangan menangis jangan menangis...! Iya iya. Mama janji mama akan belajar sabar. Jangan nangis lagi...." Katanya mencoba menenangkan padahal mama juga masih terisak-isak.
"Hiks hiks.... "Ani malah menangis lebih kencang lagi.
Apa-apaan sih para wanita ini. Tak tahu aku jalan pemikiran mereka. Yang kutahu aku hanya harus bersabar menghadapi ulah mereka yang terkadang tak masuk dia akal pria.
Dengan rasa sakit yang amat menyiksa aku bangkit dari tidurku perlahan-lahan dan aku berjalan keluar untuk melihat kedua wanita yang kusayangi.
Aku melihat keduanya tengah berpelukan dan sama-sama saling menangis. Mama bahkan menepuk-nepuk punggung Ani.
"Mas...." Ani menyadari kehadiranku dan melepaskan dirinya dari pelukan mama.
" Mas mau ke kamar mandi?" Tanyanya lagi.
Aku melihat mama yang sekarang juga sedang melihatku tapi langsung berbalik meninggalkan kami. Apa-apaan coba. Kasih penjelasan kek.
"Kalian kenapa?" Tanyaku bingung pada Ani.
"Tidak ada apa-apa."
"Di.... Kenapa kamu mau menikah dengan ku?" Tanyaku to the point.
"Mas tidak ingin aku menerimanya?" Sepertinya bukan pertanyaan itu yang ingin didengarnya dariku.
"Bukan itu. Aku hanya ingin mendengar penjelasanmu saja. Tadi sewaktu aku yang memintamu untuk menikah denganku kau tak menjawabnya di..... Lalu kenapa sekarang tiba-tiba mau. Apa kau kasihan melihat mamaku seperti itu?"
"Ish... nggak lah. Masak menikah gara-gara kasihan..."
"Lalu kenapa tadi kamu bilang kalau gadis-gadis memang menyukaiku. Lalu.... kau sama sekali tak tertarik padaku?"
__ADS_1
"Mas Zein...! Aku termasuk salah satu gadis itu. Kenapa sih minta dijelaskan begitu?"
"Aku takut kalau kamu menerimaku karena terpaksa. Aku ingin menjalani semuanya dengan penuh kebahagiaan dari awal sampai akhir..." Aku tersenyum melihatnya yang mengeratkan bibirnya.