Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
berharap


__ADS_3

Ia ingin mempunyai seorang suami seperti sang ayah yang penyabar dan pandai melihat keadaan.


Dia berjalan menuju ke ruangannya sambil memasukkan tangan di saku jas dokternya dengan menyisakan ibu jarinya di luar sakunya.


Dia mulai berpikir tentang kehidupan cintanya. Semua orang di rumah sakit mengatakan kalau dokter Baim menyukainya. Doter ani pun tidak menutup mata. Dia tahu bagaimana Dokter baim selalu berusaha mendekatinya. Hanya saja dokter baim tidak pernah mengungkapkan perasaannya membuat dokter ani merasa ia tidak cocok dengan dokter yang juga atasannya itu. Meski secara fisik tidak ada masalah dan wajahnya juga tampan khas oriental semacam oppa - oppa korea.


Ani menghela napas dengan kasar,merasa dirinya adalah orang yang pasif dan membutuhkan orang yang lebih terbuka dan humoris. Ia mengingat zainal yang mirip dengan kriterianya tapi sayangnya umur zainal lebih muda darinya.


Di depan resepsionis dr ani bertemu dengan karina yang nampak berbeda. Ia memutari karina, melihatnya dari atas kebawah dengan tatapan tajamnya.


"Ada apa denganmu?"


"maksudnya?" jawab karina bingung


"ada apa dengan wajahmu? kau seperti orang jatuh cinta?"


"cih.... memangnya kakak pernah jatuh cinta?"


"jangan mengalihkan perhatian! " Ia memegang-megang baju seragamnya karina. "Bajumu ini baru y?"

__ADS_1


Karina hanya menganggukan kepalanya sambil menunduk berharap kakaknya tidak menginterogasinya lebih dalam lagi. ia berjalan sambil menggandeng kakaknya kedalam ruang periksa.


"kau mendapatkan baju ini dari mana?" lanjut ani


"dokter baim yang mengirimkannya " jawab rina dengan suara sangat pelan.


"wahhh..... berita baru nih. kalian sedang pacaran?"


"enggak kak. yang muda masih banyak ngapain cari yang tua. " kata karina dengan wajah yang ditekuk karena malu. Rina juga tahu meski umur dokter baim sudah berumur tapi waiahnya terlihat sangat tampan.


"yakiiinnn....?"


"hati-hati lho ya. cinta dan benci itu bedanya amat sesdikit" kata ani mengingatkan sekaligus menggoda rina.


.


Sudah tiga hari dr ani berharap zainal datang ke rumah sakit tapi nihil. Zainal tak menampakkan batang hidungnya. Ia berencana untuk menerima zainal tapi ia merasa canggung jika harus menelponnya terlebih dahulu.


Saat jam makan siang dokter ani dan karina berjalan berdua hendak menuju ke kantin tapi mereka mendengar keributan dari ruang rawat inap kelas tiga. Langkah merekapun berbelok arah menuju ke tempat itu.

__ADS_1


Dari pintu tempat mereka berdiri terlihat seorang lelaki paruh baya mencoba melepaskan jarum infusnya dan memukuli seorang wanita yang memegang tangan sang pria yang diinfus. Disamping wanita itu seorang gadis kecil yang berumur sekitar 5 atau 6 tahun menangis sambil berkata, "jangan ayah jangan pukul ibu....!" Tangan kanannya memegang kaki sang ayah sambil menggoyang-goyangkannya.


Dokter ani berjalan ke arah mereka dan berkata pada rina,"bawa anaknya keluar!"


Dengan sigap rina menggendong anak yang sedang menangis itu ke luar ruangan mencari tempat agar bisa meredakan tangisnya dan tidak melihat pertengkaran orang tuanya.


kenapa kau membawaku kesini saat aku tak sadar?


apa kau tidak tahu kalau ke rumah sakit itu harus bayar ha?


aku mau keluar sekarang


Pria itu berteriak memaki-maki istrinya sambil memukul kepala dan tangan sang istri.


"hentikan tanganmu pak tua! kenapa kau terus memukulnya?" tanya dokter ani sambil menatap pria yang sedang marah itu.


Pria itu maju menuju dokter ani dengan menyeret tiang infusnya," dia istriku, terserah padaku mau kuapakan. kenapa kau ikut campur urusan rumah tangga orang lain?" katanya dengan tatapan nyalang pada doktet ani.


Ah....ah....ah....ah sakit sakit ini sakit

__ADS_1


__ADS_2