Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
rindu


__ADS_3

Ani yang sudah sampai pintu kemudian berbalik lagi. Ia melihat wajahnya di cermin. Setelah dari UGD tadi dia sudah mencuci tangan dan mukanya kini ia hanya membenarkan rambutnya yang agak berantakan. Poninya dia rapikan, kemudian dia mengambil beberapa helai rambut di sekitar telinga dan dibiarkan terjuntai di depan telinganya.


"Kak ada bang Zainal didepan" Karina yang baru saja dari lobi melihat Zainal tertidur dalam posisi duduk. Ia pun buru-buru mengabarkan pada kakaknya.


"Iya aku tahu..." Jawab tenang.


"Owoh,,,. Bang Zein bawa roti bakar kak. Endesss....." Karina menjilat bibirnya membayangkan roti bakarnya itu berada dalam mulutnya.


Ani hanya tersenyum tipis menanggapi Karina. Kekasihnya itu hampir selalu membawa buah tangan saat ke rumah sakit dan saking baiknya dia bukan hanya membawakannya untuk Ani saja tapi juga teman-temannya.


Karina menggamit lengan kakaknya sedang Ani seperti biasa wajahnya cool dengan tangan yang dimasukkan ke dalam jas putihnya .


Sesampainya di lobi Karina menuju meja resepsionis sedangkan Ani berdiri di depan Zainal yang sedang tertidur dengan kepala yang sedikit nengkleng.


Diperhatikannya pria itu.Tetap tampan meski sedang tidur, Ani mengamatinya sambil tersenyum dikulum. Manis sekali wajahnya. Ani sampai merasa malu sendiri karena mengamati pria yang menjadi tambatan hatinya itu saat dia nya sedang tidur. Ia memalingkan mukanya ke sebelah kanan dan justru matanya bertabrakan dengan Karina dan yang lainnya yang ada di meja resepsionis.


Ya mereka mengamati gerak gerik Ani dan Zainal. Jiwa kepo +62 ditambah jiwa jomblo yang meronta ingin melihat bagaimana orang yang sedang jatuh cinta saat memadu kasih.


Ani langsung memasang wajah cool nya. Tangan kanannya kemudian mengambil hp dan menelpon orang yang ada di depannya.


Zainal yang merasakan getaran di sakunya kemudian mengambil hp yang ada disaku kemejanya sambil menegakkan badannya mencoba mengembalikan kesadarannya.


Matanya mengerjap-ngerjap pada hapenya belum tahu kalau ada gadis cantik yang ada di depannya.


Melihat nama Ani yang menelpon dia tersenyum kemudian dia segera mengangkatnya. Saat mengangkat wajahnya matanya terpaku pada gadis yang sedang berdiri didepannya. Mereka saling berpandangan dan melempar senyum.


"Assalamualaikum...." Ani menggoda pacarnya dengan hape yang masih on di telinganya.


"Waalaikumsalam warahmatullah..," Zainal membalasnya dengan senyum lebar.


"apa kabar?" Terdengar suara gadis yang dirindukannya beberapa hari ini.


"Alhamdulillah... baik...., kamu?". Mereka masih ngobrol melalui lewat telepon padahal sedang saling berhadapan.

__ADS_1


Ani tertawa tanpa menjawab pertanyaan Zainal sambil mematikan hapenya. Begitupun Zainal mematikan hapenya dan menyimpannya di saku kemejanya. Ani kemudian duduk dengan mengambil jarak agar tidak terlalu dekat dan kebetulan diantara mereka ada bungkusan yang tadi dibawa Zainal.


Zainal membukanya bungkusan disampingnya kemudian mendekatkannya pada Ani sedang sendiri langsung mencomotnya satu. Ani yang juga merasa lapar karena aktifitasnya tadi tak sungkan dan ikut memakannya juga. Saat roti bakar mereka hampir habis Karina tiba-tiba datang membawa air mineral dan ditaruh nya di kursi diantara mereka.


"Awas tersedak....!" katanya


"Makasih..." jawab Ani dan Zainal bersamaan.


Mereka makan dengan tenang tanpa perbincangan. Meski dari luar nampak diam tetapi hati mereka sedang berisik mencoba menguntai kata agar semuanya tetap berjalan indah. Setelah makanan mereka habis barulah mereka menarik nafas untuk mendapatkan kekuatan tambahan.


Wajah Ani nampak datar meskipun hatinya juga sama kebat-kebitnya dengan Zainal.


"Tadi aku habis ke rumah...." Kata Zainal mulai bercerita dan wajahnya terlihat serius sekali.


"terus....?" Tanya Ani penasaran.


"Ya ngobrol sama bang Alif...."


"Nabrak dii..,..." Jawab Zainal agak sewot.


"Hehe.,. kenapa nggak nelpon dulu tadi...?" Tanya Ani.


"Siapa yang bilang waktu itu mau berjuang tapi sudah seminggu ini nggak ada kabar....?" Muka Zainal mendadak cemberut


Ani menoleh sekilas kemudian melipat kedua bibirnya karena menahan senyum. Zainal terlihat cute saat seperti itu kalau sudah halal ingin rasanya ia cubit kedua pipinya.


"Aku takut kena marah.,. " kata Ani sambil menggigit bibirnya.


"Alasan.... sekali-kali aku juga ingin ditelpon duluan......." masih ngambek saja rupanya.


"Barusan kan aku yang telpon duluan.....?" Ani mencoba membela diri.


"Kemarin-kemarin kemana?"

__ADS_1


"Ya di rumah, di rumah sakit....." Ani masih saja menggoda Zainal yang masih ngambek.


"Ish..... kamu ya Dii....."


Ani memperlihatkan senyum indahnya saat zainal menatapnya....


"Maaf.... " kata Ani sambil mengedip-ngedipkan matanya dan tentu saja itu membuat Zainal tertawa bahagia sambil memalingkan mukanya.


Beberapa saat kemudian mereka diam lagu.


"Besok mau jalan nggak ?" tanya Zainal kemudian


" Besok nggak bisa. Ada acara "


Zainal mengernyitkan keningnya," acara apa?" Tanyanya seperti menginterogasi


"Besok kami mau ke panti. Sekitar jam sepuluhan gitu"


"Boleh ikut nggak?"


"Boleh kalau mau...." Jawab Ani gembira.


Mereka kembali diam beberapa saat.


"Di..... " Zainal memindai Ani dengan ekor matanya rindu sekali dengan gadis cantik ini tapi sekarang cuma bisa menatapnya saja, belum halal soalnya.


"Ya...." jawab Ani sambil melihat Zainal dan mata mereka bertabrakan. Spontan keduanya sama-sama memalingkan muka ke arah yang berlawanan.


"Aku pulang dulu...." Kata Zainal karena tak menemukan kata-kata yang bisa dirangkainya untuk menjadi bait-bait indah serupa puisi untuk kekasih tercinta.


"Iya hati-hati..." Jawab Ani tak rela untuk segera berpisah.


Zainal berdiri sambil memegang tengkuknya, sebenarnya hatinya masih rindu tapi tidak tau harus bicara apa lagi saat mereka sedang berdua.

__ADS_1


__ADS_2