
Ani dan Zainal kini sedang berada di butik untuk memilih pakaian pengantin yang sudah ada. Kebetulan mereka berdua adalah orang yang easy going. Sama-sama tidak punya keinginan khusus untuk pernikahan mereka. Entah dengan pakaiannya ataupun tema pernikahannya. Yang penting bagi mereka sah, itu saja.
Justru sang mama yang punya banyak keinginan untuk pernikahan putra tunggalnya. Dia yang paling semangat untuk mempersiapkan semuanya. Dari tema pestanya, makanannya, sovenirnya sampai gaun yang harus dipakai oleh pengantin dan seluruh keluarga.
Wanita paruh baya itu berada di antara kedua calon pengantin dan siap untuk memberi instruksi.
Semua pakaian pengantin terbaik hasil rancangan designer langganan sang mama sudah diperlihatkan semuanya.
Zainal dan Ani nampak duduk dengan tenang. Mereka hanya mengikuti keinginan sang mama yang terlihat bahagia. Terlebih Ani, karena merasa calon mama mertuanya kini benar-benar sudah membuka hati untuknya juga keluarganya.
Menurutnya tidak masalah punya mertua cerewet daripada tidak punya orang tua. Sekarang dia bisa menerima dan bisa memahami jika setiap orang punya cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya seperti wanita yang kini dipanggilnya mama.
Kini ada tiga gaun di patung manekin yang akan dicoba Ani satu persatu. Semua terlihat mewah dan indah.
"Yang ini saja dulu...!", kata sang mama pada pegawai butik. Menunjuk gaun yang penuh dengan taburan Swarovski di bagian lengan dan di bagian perutnya.
Ani dengan senang hati mengikuti pegawai butik untuk ke ruang ganti.
Tirai besar di ruangan itu terbuka dan nampaklah Ani yang memakai gaun dengan taburan Swarovski yang berwarna merah muda lengkap dengan hijab dan mahkota diatasnya.
Mata Zainal terbelalak melihat gadis langsing dengan tinggi badan proporsional yang kini sedang berdiri di hadapannya. Ia bak seorang model yang sedang melakukan pemotretan untuk baju pengantin.
Zainal menelan ludahnya, kenapa tidak sekarang saja nikahnya, gerutu hatinya.
"Yang ini saja mah...". Kata Zainal sambil menggoyang-goyangkan lengan mamanya yang sedang asyik memotret calon menantunya.
"Hiiih.... kamu tu Zein! Sabar kenapa sih? Kayak anak kecil tau nggak? Ingat umurmu itu berapa?". Jawaban panjang lebar dari sang mama hanya bisa ditelan oleh Zainal tanpa berani menyelanya.
"Coba yang kedua..!". Perintah sang mama.
Zainal berdebar-debar tak sabar untuk melihat pujaan hatinya dengan gaun yang kedua.
Tirai besar itu terbuka kembali dan nampaklah Ani dengan gaun berwarna putih dan model kerudung yang dibiarkan seperti rambut yang tergerai di tambah dengan hiasan kepala berbentuk daun yang berwarna emas. Ia juga membawa buket bunga dengan warna yang senada.
"Ini aja ma ini aja....". Rengek Zainal.
Para pegawai yang melihat ulah Zainal mencoba menyembunyikan tawanya. Bagaimana seorang pria berkumis dan berjenggot tebal bisa sangat manja pada mamanya dan di depan calon istrinya.
__ADS_1
"Kamu jangan bikin malu Zein....!", Mamanya menyikut tangan Zainal yang kini sedang terpaku pada calon istrinya yang nampak malu-malu.
"Yang selanjutnya mbak ...!" Kata wanita yang dulu sangat pemarah itu. Para pegawai pun menutup tirai lagi dan Ani mengikuti arahan mereka.
Kali ini Zainal ikut melihat hasil jepretan mamanya dan semakin takjub dengan makhluk ciptaan Tuhan yang selalu membuatnya berkhayal yang bukan-bukan. Di lihat dari sisi mana saja tampak sangat cantik, sempurna.
Sekitar setengah jam kemudian tirai besar itu di buka lagi. Sontak mama dan anak lelakinya melihat sosok yang membuat mereka terpana. Bukan hanya mereka tapi pegawai yang mendandani Ani saja masih belum hilang takjubnya.
Warna hijau muda seperti hijaunya daun di pagi hari yang terkena sinar mentari menyorotkan kedamaian hati pada setiap makhluk yang baru saja bangun dari tidurnya. Segar dan menyejukkan mata.
Gadis cantik itu membuat waktu seolah berhenti karena terpaku pada kecantikannya. Dia seperti dewi yang baru turun dari kahyangan hendak mandi di kali.
Gaun berwarna hijau muda itu terbuat dari kain yang sangat lembut yang sebenarnya membentuk bodi. Tapi diberi selendang dari kain yang bergelombang hingga bisa menutupi tubuh orang yang memakainya.
Kepalanya ditutupi kerudung dan diberi bando dari rangkaian bunga yang berwarna putih kehijau-hijauan.
Kipas angin yang memang sengaja dinyalakan untuk membuat pakaian itu terbang tertiup angin semakin membuat semua orang terpana. Benar-benar seperti melihat dewi.
"Ok..."
"Ambil semua ma...!"
Zainal bergegas berjalan menuju sang pujaan hati sambil menggigit bibirnya. Rasanya ia sudah tak sabar ingin memangsanya.
Zainal dan Ani yang sedang berhadapan dan saling berpandangan tak luput dari jepretan hape dari sang mama.
Ani yang malu kemudian menutup muka Zainal dengan buket bunga yang dibawanya.
Cekrik cekrik cekrik
Sang mama terus saja mengambil foto putra dan calon menantunya.
"Peluk gitu Zein! Terus nanti kalian gandengan gitu!", perintah sang mama.
Secara bersamaan keduanya saling berpandangan. Itu melanggar prinsip mereka. Meski bagaimanapun inginnya tapi mereka tetap mempertahankan keyakinan mereka. No pegang-pegang sebelum sebelum sah menjadi suami istri.
Belum boleh ma. Nanti ya ma kalau sudah sah!" Jawab Zainal memberi pengertian.
__ADS_1
Zainal ingat cerita tentang sahabat nabi yang bernama Saad bin waqosh. Bad boy tapi anak mama yang tetap memegang teguh agamanya meski sang ibunda merajuk meminta agar sang anak keluar dari agamanya dengan mogok makan selama tiga hari tapi Saad bin waqos tetap pada pendiriannya.
Ani kemudian punya ide," Pegang ini mas..!. Ia memberikan buket bunganya pada Zainal dan dia meminta bunganya diarahkan padanya seperti yang pernah ia lihat di foto prewedding teman-temannya.
Zainal yang mengerti maksud Ani kemudian berdiri dengan satu lututnya dan mengangsurkan bunga seolah-olah sedang melamar sang kekasih.
Ani pun bergaya seperti orang yang kaget dan menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
Zainal yang awalnya tersenyum bahagia tiba-tiba merengut dan mengatupkan bibirnya saat pandangan matanya melihat jari manis pujaan hati.
"Kenapa sih kalian itu, toh sebentar lagi juga menikah. Kalian juga sama-sama suka". Sang mama menggerutu karena keadaan itu tak sesuai keinginannya.
Zainal berdiri kemudian menaruh buket bunga itu di meja dan duduk di samping mamanya. Wajah juteknya tak luput dari perhatian calon istrinya.
"Terserah kalian lah! Yang penting besok kalian harus mau foto preweding sama fotografer mama. Sekalian juga fitting baju buat akad nikah!", Jelasnya.
Kalau dulu wanita itu bisa marah-marah jika perintahnya tak dituruti tapi sekarang ia sudah sedikit berubah sejak lebih dekat dengan Ani dan keluarganya.
Setelah Ani selesai berganti baju kembali mereka kemudian keluar dari butik bersama-sama.
"Besok ada yang datang ke rumah kamu buat ngukur baju. Sama yang bayi-bayi juga harus pakai seragam ya! Istrinya bang Alif itu namanya siapa An?". Mereka berbincang sambil berjalan ke arah mobil yang sudah siap berjalan hanya tinggal menunggu perintah sang majikan.
"Kak Mia. Kenapa ma?"
"Wajahnya kayak masih imut-imut gitu. Umurnya berapa?"
"Baru dua puluh satu kalau nggak salah." Jawab Ani.
"Hah.... terus kamu kok bisa panggil kakak padahal umur kamu lebih banyak dari dia?"
"Kan istrinya abang jadi panggilnya kakak lah ma".
Ani melirik Zainal yang tidak mau melihat ke arahnya. Ia yakin jika Zainal sedang marah padanya.
Sang mama sudah masuk ke dalam mobil sedangkan Ani menghentikan Zainal yang akan masuk ke dalam mobilnya.
"Mas Zein... mau nggak lomba sama aku? Kalau mas Zein menang aku akan mengabulkan satu permintaan mas Zainal. Dan sebaliknya kalau mas Zein kalah aku boleh minta satu hal yang tidak boleh ditolak. Gimana?"
__ADS_1
"Ok.."