Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Ceo arrogant


__ADS_3

Zainal memasuki kawasan tempat kerjanya dengan hanya memakai kaos putih yang melekat pada tubuhnya, memakai kaca mata hitam dan membawa jasnya di belakang punggungnya. Sambil mengunyah permen karet dan meniupnya hingga berubah menjadi balon sesaat sampai meletup dan beberapa detik kemudian dia akan mengunyahnya kembali.


Sekarang ia persis seperti seorang CEO arogant apalagi cara berjalannya tanpa menatap kiri kanan tak menghiraukan para karyawannya yang menunduk hormat saat dia lewat.


Tak ada lagi yang berani sok akrab padanya. Sosok Zainal yang slengehan dan kerap memantau aktifitas yang terjadi di swalayannya dengan berdiri di lantai dua sudah tak ada. Hanya ada aura dingin, mengintimidasi dan tatapan tajamnya yang bahkan sangat tidak cocok dengan paras wajahnya yang periang.


Sejak hari pertama dia diperkenalkan sebagai direktur utama dan pak Dirman tak lagi mendampinginya ia sudah menunjukkan bahwa semua yang ada di situ adalah miliknya dan di bawah kendalinya.


Kata-kata nya sekarang sangat irit dan hanya perintah-perintah saja yang kerap ia lontarkan. Tak ada lagi senyum-senyum tak jelas saat melihat gadis cantik saat ini ia sungguh tak tertarik.


Zainal kerap menghabiskan waktunya di dalam ruangannya sambil menatap layar monitornya dan sesekali melihat cctv untuk memantau semua kegiatan yang ada di luar.


Zainal hanya keluar dari ruangannya saat waktu solat tiba, saat ada rapat dengan para karyawannya atau ada meeting dengan para peyuplai dan para produsen.

__ADS_1


Hal lain yang sekarang menjadi kesukaannya adalah tidur di ruang kerjanya karena malas pulang. Ia menjadikan ruangannya sebagai rumah nya.


Saat malam ia akan berburu tikus dengan salah seorang security nya. Mengejar tikus sampai berpeluh-peluh. Ia seperti sedang bermain petak umpet dengan mengitari area rak makanan sampai ke bagian dapur dan tempat makan karyawan yang berada di sudut bangunan. Itu adalah suatu kebahagiaan untuknya. Ia bisa menghilangkan pikiran yang terus mengganggunya. Berandai-andai yang tak pasti hanya akan membuat kepalanya pusing saja.


Yang paling terlihat aneh sekarang adalah soal penampilannya yang seenaknya saja. Meski ia terlihat tampan memakai gaya pakaian apa saja tapi iti sama sekali tak memperlihatkan bahwa dia adalah anak pemilik perusahaan.


Pernah ia memakai pakaian olahraga sehabis jogging di daerah situ dan masuk ke dalam swalayan melalui pintu utama. Tentu saja ia menjadi pusat perhatian.


Semua tercengang melihatnya. Ia bahkan terlihat sangat manly dengan handuk kecil yang mengitari lehernya. Ditambah butiran keringat diwajahnya yang eksotik.


Benar memang kalau cinta itu gila tapi putus cinta juga bisa membuat orang berubah dan lebih gila.


Sampai hari hampir siang Zainal masih asyik di ruangannya. Ia melihat tawaran kerja sama dari perkebunan yang memproduksi buah-buahan organik yang ada di kota tetangga. Ia mempelajari proposalnya dengan teliti kemudian mempertimbangkan akan menerimanya karena misi perusahaan yang sama.

__ADS_1


Tok tok tok..... terdengar seseorang mengetuk pintu


"Masuk!" jawab Zainal


Tampak wajah mamanya di depan pintu yang terbuka dan seorang gadis yang memeluk tangan mamanya manja.


'gadis itu....'


Zainal tak bereaksi apa-apa.


"Kamu itu ya Zein .... Wulan kirim pesan kenapa nggak dibales?"


"Aku sedang sibuk ma...."

__ADS_1


"Perlu berapa lama sih buat jawab chat?"


Zainal diam tak merespon mamanya


__ADS_2