
" aa............" Ani membuka mulutnya lebar-lebar agar anak yang ada di depannya mau mengikuti gerakannya. Dan anak-anak laki-laki itu pun membuka mulutnya lebar-lebar. Ani menyorongkan badannya ke arah pasien kecilnya itu untuk melihat tenggorokannya
Gadis cantik dengan jas dokternya itu hendak memasukkan penjepit untuk mengambil duri yang menyangkut di tenggorokan si anak tapi ibu anak itu menyangsikan tindakannya.
"Katanya itu berbahaya dokter, maksud saya mengeluarkan duri dengan mencabutnya dengan paksa itu katanya berbahaya?" kata si ibu seperti menginginkan penjelasan.
"Kata siapa bu?" Ani menoleh ke arah si ibu sedangkan si anak mulutnya masih tetap menganga.
" Itu.... kata internet Mbah gugel"
"Ya sudah kalau begitu" Ani berdiri tegak sambil mengurungkan tindakannya untuk mencabut duri dari mulut si anak.
" Iya iya dokter maaf .... tolong anak saya dok!" kata ibu itu sedikit takut sambil meremas tangannya.
Ani pun mengambil alat penjepitnya lagi dan mengambil duri yang menyangkut di tenggorokan sang anak.
" Tidak semua yang dari internet itu benar bu. Justru jika kita membiarkan duri itu tetap menyangkut di dalam tenggorokan itu akan berbahaya"
"Iya dokter, maafkan saya". Sang ibu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Selesai. ... Setelah ini, minum air putih agak banyak ya dan nanti kalau makan ikan hati-hati. Kunyah makanan kamu sampai lembut dan jangan terburu-buru!. ok boy?" Ani mengepalkan tangannya ke arah anak laki-laki itu dan membalasnya dengan hal yang sama.
tos
"Terimakasih dokter, saya minta maaf untuk yang tadi" kata si ibu yang melihat anaknya sudah bisa tersenyum tanpa merasa kesakitan lagi.
"Iya sama-sama bu".
"Kenapa tidak membawa anaknya berobat ke internet saja kalau lebih mempercayainya ". Ani menggerutu di depan para perawat yang melihatnya dengan heran karena dokter Ani yang dikenal mereka adalah seorang yang lebih sering diam dengan muka datarnya. jarang sekali ia menampilkan emosinya. Bisa dipastikan jika ada sesuatu yang membuat dokter Ani kesal sampai menggerutu seperti itu.
Ani menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Karina.
" Rina sedang meeting dengan dr Ibrahim untuk mengoperasi pasien yang kecelakaan kemarin dokter". Kata salah satu dari mereka yang mengetahui jika dokter Ani sedang mencari adiknya Karina.
Kmpak mereka menoleh ke arah yang dimaksud oleh sang pembicara.
Deg
Ani menelan ludahnya. ia belum siap ketemu kekasihnya itu.
__ADS_1
Masa iya dia harus ngomong jujur kalau nanti kekasihnya itu bertanya kenapa mukanya jutek begitu. Masa iya harus bilang kalau dia marah karena mata Zainal jelalatan. Gengsi dong.
Dua sejoli itu kini sudah berdiri berhadapan dan saling bertatapan. mencoba saling menyelami perasaan. Merangkai kata dan menyampaikannya lewat tatapan mata seperti para pujangga. Meski banyak pasang mata sedang memperhatikan mereka tapi sepasang kekasih itu seperti hidup dalam dunia mereka sendiri.
Tapi pada akhirnya yang keluar dari mulut sang pria hanya, "Makan siang yuk, laper!"
lah.... jauh dari ekspektasi itu mah.
Ani langsung saja melangkahkan kakinya tanpa mengucap kata. Ia berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas putihnya. Zainal kemudian menyusul nya dan berjalan bersisian dengan gadis cantik yang kini diam seribu bahasa dan berhasil memporak-porandakan hatinya.
Ani sebenarnya berharap agar zainal memahami perasaannya tanpa dia harus bicara. Dan Zainal juga sebenarnya tahu bahwa Ani sedang merajuk karena ulahnya tapi dia tak tahu harus berkata apa untuk mencairkan suasana.
Zainal menyodorkan undangan pada Ani saat mereka sudah duduk dan siap untuk menyantap hidangan yang ada dihadapan mereka.
"Mau nggak datang ke pernikahan temanku?"
Yang ditanya hanya melihat dan membolak-balikkan undangan yang tampak mewah itu.
"Lihat nanti ya mas..." jawab Ani kemudian mulai makan makanannya.
__ADS_1
Zainal menarik nafasnya dalam-dalam kemudian ikut makan. Ia bingung harus bagaimana saat menghadapi gadis yang sedang merajuk.
Ia tahu ia salah dan ia pun berjanji agar menahan pandangan matanya.