Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
ketek


__ADS_3

Ani yang melihat adegan diatas ranjang suami istri itu terpaku karena heran.


'Aish... ada yang kayak begini juga. Nyium bau ketek kayak nyium aroma surga.... yang benar saja...' batinnya.


" Ya Alloh.... mataku kenapa harus liat yang iya-iya sii.. padahal hari masih pagi.." Ani menggerutu sambil menutup matanya dan pergi meninggalkan kamar itu.


" Tuh kan yank.... kasian Ani kann..!!"


" mas nggak ikhlas ya.?!.."


" ikhlas yank.... ikhlas..... Beneran ikhlas... buat kamu akan ku usahain semampuku agar hanya ada senyum di bibirmu yang selalu membuatku candu.... "


"Gomballll.... ", kata Mia sambil tersenyum dan memeluk perut suaminya.


"Tapi kasian Ani kan kalau dia lihat... kalau dia pingin gimana? kan dia belum ada pasangannya? mau praktek sama siapa coba?"


" iya maaf...! "


" jadi anak yang soleh ya nak ... anak yang taat pada Alloh, taat pada Rosululloh dan taat kepada kedua orang tua, jadi penyejuk hati bagi kami. Ayo kita bikin umi sehat dan bahagia ya nak... kalau umi mual terus umi nggak mau makan terus kamu di dalam makan apa? Adek pingin makan apa sih nak?!" kata bang Alif berbicara diperut istrinya kemudian menciumnya sedikit lama sambil tangannya membelai perut istrinya dengan lembut.


"amiiin.... , pengen apa ya?" Jawab Mia manja sambil merentangkan tangannya minta dibangunkan


" Udah enakan?" tanya bang alif sambil merengkuh leher dan pinggang kak mia sehingga istrinya itu bisa duduk dan bersandar.


Mia manggut-manggut manja kemudian dia mengusap-usap perutnya yang masih rata lalu bilang,"lapaaar...! Pingin yang enak-enak bi..!"


" Ini yang pingin makan dedeknya atau uminya?"


"Dua-duanya".

__ADS_1


"Porsi jumbo dong..?".


"Iya... yang nggak bikin mual tapi enak... ".


"Siap umi nya anak-anakku. Ayo kedepan dulu, berjemur disana! Aku ambilkan degan di belakang lalu aku ambilkan buah-buahan di depan. Bagaimana?"


Lagi-lagi mia hanya manggut-manggut kemudian meraih kerudungnya instannya dan sekali tarik sudah sempurna menutupi rambut dan telinganya kini tampaklah wajah gadis imut-imut yang menggemaskan bagi bang Alif.


hup.....


Bang alif langsung menggendong istrinya yang masih lemas itu berjalan menuju ke teras. Ia masih sempat-sempatnya berputar-putar seperti menari saat sampai di ruangan tengah membuat istri kecilnya itu semakin mengeratkan tangan di leher sang suami sambil tertawa bahagia


" Aaannn.....!" teriak lukman dari depan rumah memanggil adiknya.


" Iya iya sebentar...." kata Ani tergopoh-gopoh sambil berjalan keluar kamar. Ia menarik rambutnya dari dalam kaos yang baru selesai ia kenakan.


" Hati-hati bang.. !" kata Ani yang melihat abangnya yang masih memakai sarung itu menggendong istrinya sambil berputar-putar di ruang tengah seolah-olah sedang menari. Ia pun segera berlari keluar meninggalkan suami istri yang sedang bucin itu untuk menemui Lukman.


" Bang alif nggak kerja? " tanya lukman pada Ani.


Bersamaan dengan itu Bang alif keluar dengan menggendong istrinya kemudian menaruhnya di kursi teras. Hal itu tentu saja membuat kedua adiknya cemburu karena sama-sama belum punya pasangan halal yang bisa di inu-inu kayak begitu. Keduanya mencibir ke arah pasangan suami istri yang justru acuh tak acuh pada mereka.


" Mas ambilin anggur dulu aja... sama jambu ya....!" pinta Mia manja. Entah dia memanfaatkan kehamilannya agar bisa bermanja-manja atau memang pengaruh hormon ditubuhnya yang membuatnya sangat manja akhir-akhir ini.


Bang Alif mengiyakan kemudian menuju pohon anggur yang ada di sepanjang jalan pelataran rumahnya .


" Aku berangkat dulu ya bang..." Lukman berpamitan pada abangnya sambil bersalaman kemudian mencium punggung tangan abangnya itu.


" bang.... tadi bang Lukman bilang, semua lelaki itu bajingan kecuali dirinya. Berarti... Abi,ayah,juga bang Alif ...." Kata Ani mengadukan ucapan bang Lukman ke bang Alif.

__ADS_1


" Emmmmm.... bbbukkan begitu maksudnya." Lukman tampak salah tingkah karena tadi ia salah bicara.


" emh emh e.......mh..... mulutmu itu lhoh..... kayak boncabe level 10". kata bang Alif sambil menggelengkan kepalanya.


" ahahhhaaahhhaha....... bisa aja si abang.........".


"Kirain tadi manggil-manggil mau ngomong apa ternyata ngomong unfaedah. Nggak jelas banget..." Ani menggerutu karena tadi ia buru-buru saat Lukman memanggilnya.


" iya maaf. Tapi itu benar. Hati-hati kamu sama cowok!! Ih ya bang, hati -hati sarungnya melorot!" sambung Lukman sambil berlalu untuk mengeluarkan sepeda motornya dari garasi. Ia juga menyalami Ani saat melewatinya.


Ani yang masih belum beranjak setelah memakai sandal tadi tertawa melihat bang Alif yang sedang memilih buah anggur yang masak dengan baju tidurnya. Atasannya kaos dan bawahannya sarung. Kalau dilihat dari atas tampak keren karena wajahnya bang alif memang good looking, enak dipandang. Tapi kalau dari bawah tampak seperti mbah-mbah. hahaha....


" kak, kakak nggak pingin gitu nyuruh bang Alif pakek boxer apa celana pendek selutut kalau pas di rumah gini?"


" Nggak.... comelan kayak gitu. Ganteng... lucu... nggemesin banget kan sayangnya aku." Mia menjawab pertanyaan Ani sambil menatap suaminya dengan tersenyum gemas.


" Hadeh... bener dah kalau cinta itu buta...." komentar Ani dengan kebucinan kakak iparnya.


" Lagian... mas bilang sarung itu sangkarnya burung jadi.... " Mia langsung menoleh ke arah Ani sambil menutup mulutnya. Ia baru sadar sedang bicara dengan adik iparnya yang belum menikah dan menurutnya itu termasuk kata-kata yang vulgar yang belum waktunya didengar oleh Ani.


Mia berjalan ke arah Ani Seakan sudah hilang lemas dari tubuhnya. Ia mengusap-usap kedua telinga Ani sambil meniup-niupnya.


"Lupakan yang barusan kamu dengar seperti kentut yang baunya tak diharapkan". Ani hanya diam saja diperlakukan demikian. Kemudian dia berlalu sambil menggerutu


" Apaan cobak. Kakak itu umurnya paling sedikit tapi pengalaman cintanya paling banyak...." Ia menggerutu sambil berlalu.


Lukman yang sudah selesai memanaskan mesin sepeda motornya kemudian mulai mengendarainya.


" Berangkat dulu kak...!" pamitnya pada Mia dari atas sepeda motornya

__ADS_1


" iya hati-hati..." jawab Mia yang sedang berdiri di atas tangga teras.


__ADS_2