Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Zainal


__ADS_3

Kami sudah berada di ruang makan dan aku memilih duduk di tempat papa. Di bagian kepala keluarga. Kalau mau duduk aku harus berhati-hati dan pelan-pelan sekali kalau tidak rasa nyeri itu akan berdenyut sakit sekali. Tapi kalau posisinya sudah duduk sudah nggak sakit lagi dan orang yang melihat tidak akan tahu kalau sebenarnya aku sakit.


"Yah....sudah agak dingin ... Aku angetin dulu ya mas. Sebentar aja!"


"Nggak usah. Sini ...!" Aku menyodorkan piringku meminta diisi bubur.


Ani terseyum, manis sekali. Dia pun segera mengambilkan bubur untukku kemudian menaburkan kacang-kacangan dan jinten hitam di bagian pinggir bubur.


Dia mengatakan kalau makanan terbaik orang yang sakit adalah bubur. Sedangkan makan kacang-kacangan dan jinten hitam adalah kebiasaan Rosululloh untuk menjaga kesehatan. Ada kacang adas, kacang almond, kacang mete dan yang lainnya yang dia blender tapi tak sampai benar-benar hancur lembut begitu. Masih terasa kletes-kletes krenyes-krenyes menurutku sangat enak.


Zaman sekarang orang-orang yang masih mempertahankan makan makanan seperti itu adalah saudara kita yang berada di Palestina, katanya waktu itu. Waktu pertama kali dia kesini untuk merawatku.


Jika aku sudah menyelesaikan bagian yang ditaburi kacang-kacangan tadi setelah itu dia akan menambahkan sayur dan lauk yang lembek dan lembut hingga tak membutuhkan energi ekstra untuk gigiku maupun lambungku untuk mencernanya karena saat tersedak dan batuk atau saat bersin rasanya masih sakit, sengkring-sengkring seperti tersengat listrik ribuan voltase.


"Mas nggak bosen makan ginian setiap hari?" Tanyanya sambil melihatku.


"Kan sambil ngelihatin kamu..."


"Gombal...!" Katanya malu-malu kemudian melanjutkan makanannya. Aku suka melihat reaksinya tapi sejujurnya aku bukan orang yang pilih-pilih dengan makanan. Kalau sudah disuguhkan di depanku aku akan memakannya tapi kalau tidak suka banget dan nggak bisa masuk ke dalam perutku aku akan berhenti tanpa mencelanya. Bagiku hanya ada makanan enak dan enak banget di dunia ini. Its simple.


Dia melihat aku sudah menghabiskan bagian yang tadi dan dengan sigap segera mengambilkan sayur dan pauk pauknya.


"Mas.... kalau besok aku nggak kesini nggak apa-apa kan? Kamu sudah baikan dan nggak perlu bantuanku lagi sepertinya."


"Hem...." Jawabku sambil menyuapkan bubur ke dalam mulutku lagi. Aku tahu hal ini akan terjadi karena aku memang hanya sedang egois, menahannya di sini agar bisa bersamanya dan melihatnya terus menerus.


"Aku ingin kerja lagi sama aku juga ingin jadi herbalis..."


"Spesialis herbal begitu? Kayak dr. Zaidul Akbar itu ya?"


"Iya kayak gitu sih, yang nabawi begitu... Nggak papa kan?"


"Lalu....?" Tanya ku ambigu karena aku juga grogi membahasnya.


"Apanya?"


"Rencana kita selanjutnya bagaimana?"


"Rencana? Rencana apa?" wajahnya menyiratkan dia memang benar-benar tak tahu apa yang yang ku maksud.


"Bagaimana kita selanjutnya?" tanyaku.

__ADS_1


"Mas maunya gimana?" Tanyanya sambil menopang dagu.


Jangan ditanya bagaimana jantungku saat dia memandangku seperti itu , jantungku berdegub kencang kaya mau perang.


"A-aku aku tak tahu..." Bodohnya aku tiba-tiba tergagap seperti itu. Memalukan sekali, kenapa aku sangat grogi saat ini. Bukankah seharusnya aku yang membuatnya seperti itu.


"Apalagi aku mas. Aku belum pernah jadi cowok jadi nggak tahu harus apa?" Kata nya seperti frustasi.


Entah kenapa kali ini aku bego sekali. Seharusnya aku sudah tahu kalau aku harus meminangnya pada keluarganya. Melihat cincin yang tersemat di jari manis nya membuatku sedih dan insecure.


Apa dia masih tak bisa melupakan sosok ustadz itu yang nama panggilannya sama seperti nama panggilanku. Yang wajahnya tampan dan kulitnya putih. Yang pandai dalam ilmu agama, yang alim, yang bijaksana seperti yang tergambar di wajahnya saat aku bertemu dengannya waktu itu. Tentu itu jauh dariku, aku ini apalah kalau dibandingkan dengannya.


"Segini cukup ma?"


Gara-gara memikirkan mantannya aku sampai tak sadar mama sudah duduk di meja makan bersama kami. Mendengar nya memanggil mamaku mama membuatku tersenyum, menurutku ini lucu sekali. Baru juga tadi pagi mama menurunkan egonya dan sekarang kami benar-benar seperti keluarga. Ini sangat membahagiakan.


"Kamu kenapa Zein?" Tanya mama.


"Enggaak... seneng aja".


"Suruh Zainal nyukur jenggotnya tuh. Hii... aneh tau nggak Zein? Kelihatan kotor kamu juga jadi kelihatan tua....."


"Masa sih? Enggak kok. Malah kelihatan macho...!"


" Masa gitu aja salting sih mas?" Tanya Ani sambil menyodorkan air putih padaku.


"Kamu gombal banget sih di?"


"Hehe... sebenarnya pingin godain mama aja..." Katanya sambil melihat mama.


"Kamu ya? Berani-beraninya...!"


" Berarti bohong dong...!" Kataku kecewa.


" Ehmmm...... " Dia membentuk kotak dengan jari telunjuk dan jempolnya menautkannya dengan tangan kiri dan kanannya.


Aku menatapnya ingin melihat apa yang akan dia lakukan lagi.


" Sweet, handsome and...."


"Apa??"

__ADS_1


"Rahasia. Nggak boleh diungkapin sekarang". Katanya kemudian minum jus jambu di depannya.


"Kamu ternyata suka gombal ya?" Kataku sambil melanjutkan buburku yang cuma tinggal sesuap saja.


"Oh ya ma. Mulai besok saya nggak ke sini lagi nggak papa kan?"


"Kenapa?" Tanya mama ketus.


"Mas Zein kan udah baikan".


"Nggak boleh. Kamu nggak lihat Zein masih mendesis kalau batuk atau bersin?"


"Iya tapi buat aktifitas sudah biasa ma nggak sakit lagi...." Kataku membelanya.


"Pokoknya mama nggak izinin titik".


"Zein bahkan sudah bisa kerja lho ma..." Kataku mencoba membujuk wanita yang sudah melahirkanku ini.


Aku melihat Ani yang sekarang diam saja pasti merasa tak enak hati sudah menciptakan keadaan seperti ini tapi mama tak menghiraukan kami dengan tetap melanjutkan makannya sampai habis. Sedangkan kami berdua yang sudah selesai makan daritadi hanya mencuri-curi pandang pada mama dan berkali-kali minum sedikit demi sedikit.


Setelah mama selesai makan ia pun langsung beranjak pergi meninggalkan kami.


"Mas.... mau dengar cerita nggak? tapi janji jangan ketawa ya..!" Katanya setelah beberapa saat mama meninggalkan kami tanpa sepatah katapun.


Dia sekarang kenapa jadi agak cerewet ya tapi aku suka, apa itu artinya cinta buta?. Suka bagaimanapun dia adanya, bagaimanapun tingkah lakunya, bagaimanapun perubahan fisiknya, nantinya ketika kami sudah tua?


Aku mengangguk beberapa kali sambil mengulum senyum padanya.


"Ish.... mas Zein kenapa sih? Ya sudah aku nggak jadi cerita!!" Katanya merajuk.


Iya, selama dia di rumah ini dia sering sekali bilang Ish, ih apaan sih.... kenapa gadis ini jadi bawel ya? tapi aku tambah suka.


"Sorry sorry!!" Kataku sambil menahan punggung tangannya agar ia mau duduk kembali dan aku langsung melepaskan tanganku karena sadar kami belum boleh bersentuhan.


"Ups maaf !!. Jangan marah!" Kataku sambil mengangkat kedua tanganku tanda menyerah .


Akhirnya dia duduk kembali sambil menatap ku dengan tajam dengan bibir yang dimajukan. Ugh... rasanya bibir itu sangat menggodaku, rasanya ingin ku.... Kupalingkan wajahku darinya agar pikiranku tak berlarian kemana-kemana. Kalau boleh aku ingin menghalalkannya hari ini juga.


Sudah nggak tahan rasanya....


**************%%%%%%*****************

__ADS_1



Alhamdulillah.... Whuaaa...... aku jadi nangis. Nggak nyangka, akhirnya diapresiasi juga sama NT. Makasih semua yang sudah apresiasi tulisanku yang amatir ini. Mohon kritik dan sarannya ya, karena aku yakin banyak kekurangan disana sini. Makasih semuanya. Insya Allah nanti aku kasih hadiah pulsa buat satu atau tiga orang yang kasih komen menarik, yang paling sering komen dan yang kasih saran dan kritik terbaik. love you all.


__ADS_2