Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
pertemuan


__ADS_3

Ani


Aku dan ustadz Zainuddin,sedang menjemur Maryam di teras depan rumah. Setelah acara lamaran kemarin Ustadz Zein dan Bu Jannah menginap di rumah ayah dan akan kembali ke pesantren bersamaku lusa. Dia beralasan tidak baik membiarkan anak gadis bepergian seorang diri apalagi jaraknya sangat jauh.


Aku memang masih gadis tapi bukan anak kecil pak ustadz, masak harus dikawal kemana-mana. Mulai posesif nih ceritanya... Tapi jujur saja aku suka. Diperhatikan sedemikian rupa.


Aku duduk sambil mengajak bicara Maryam yang ketayalan ketawa ketiwi.


"Senyumnya mana Mar?" Aku melakukan gerakan ciluk ba dan Maryam tertawa kegirangan.


"Titut titut..," Dia mencolek-colek pipi Maryam dengan gemas.


"Bu dokter nanti pingin punya anak berapa?"


Eh.... kok nanyanya udah jauh aja. Aku jawab apa ini. Aku jadi salting ustadz....


"Kalau ustadz pinginnya punya berapa? Aku memberanikan diri mendongak dan melihat wajahnya. Dia memalingkan wajahnya dariku. Terlihat malu-malu. So cute ....


"Kak...." Aku menoleh ke arah suara Rina. Ternyata Rina seperti memandang sesuatu yang terlihat aneh. Aku pun melihat ke arah pandang Rina.


Deg


Itu mas Zainal kan? Ya Alloh .... wajahnya kenapa jadi seperti itu. Berewokan semua. Kalau dibilang jelek sebenarnya enggak juga karena itu malah membuatnya nampak matang dan macho. Dengan pakaian olah raga dan topi yang menutupi kepalanya ia terlihat sangat sporty.

__ADS_1


Tanpa sadar kami saling memandang dalam waktu yang cukup lama.


Aku menoleh pada calon suamiku yang berdiri di sampingku.


"Loh.... ada tamu kok di biarin saja...." Kak Mia tiba-tiba sudah berada di antara kami. Sambil mengambil Maryam yang ada stroller kak Mia berkata," Ayo masuk om Zainal. Maryam sudah selesai berjemur...."


Aku salah tingkah , pikiranku langsung blank tidak tahu harus berbuat apa.


"Om Zainal.... ini ustadz Zainuddin, calonnya Ani...." kata kak Mia yang kini memanggil Mas zein dengan sebutan om.


Ustadz Zainuddin kemudian mengangsurkan tanggannya pada mas Zainal yang memandanginya beberapa saat baru menjabat tangan Ustadz Zein.


"Masuk Zein.....!" Bang Alif kini sudah berada di ambang pintu.


Aku berada di ruang tengah mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Aku takut ada kesalahpahaman diantara mereka. Terlebih mata mas Zein yang menyorot tajam pada ustadzku, terlihat tidak senang.


"Kak... kakak yang nyuguhin ke depan ya!" Rina datang memintaku untuk membawa hidangan untuk tamu ke depan.


"Kamu aja ya...!" Pintaku


"Kalian ini.... Sini biar kakak saja..!"Kak Mia yang bijaksana tahu kami berebut tidak mau menyuguhkan hidangan.


"Sini Maryam ikut onty ya...!" Aku menggendong Maryam dan ku bawa ia ke belakang.

__ADS_1


Rina berjalan di belakangku.


"Bang Zainal sering kesini lho kak..... Curhat ke bang Alif, minta-minta saran kayak gitu." Rina bercerita sebelum aku bertanya.


"Eh ibu kok belum kelihatan..." Aku baru ingat kalau sedari tadi belum melihat calon mertuaku.


"Tadi aku habis ke sana. Lagi masak sama kak Lala... Kalau ibu sama ayah gimana ya kak? Seru pasti..."


"Hah....?" Aku geleng-geleng kepala mendengar pikirannya yang sudah jauh kemana-mana.


"Nikahnya bareng aja! Kakak sama bang zein, ayah sama ibuk..." Rina memanggil calon mertuaku dengan ibuk.


"Emh....emh.emh.... Dasar anak kecil ini ya... Halunya....!"


Bukan apa-apa aku berkata demikian. Ayah sudah sering kami minta barangkali mau menikah lagi agar punya teman berbagi karena anak-anaknya pada sibuk sendiri. Kalau punya istri kan ada yang menemani jadi tidak kesepian tapi ayah selalu menolak.


"Ayah nyaman kok seperti ini..."Biasanya ayah jawabnya seperti itu. Kami anak-anaknya sering merasa bersalah karena sering meninggalkannya sendirian di rumah untuk berbagai aktifitas kami.


"Mas Zainal belum punya pacar lagi?" Aku bertanya pada Rina ingin mengorek kabar mas Zainal.


Rina pun menceritakan apa saja yang diketahuinya dari ayah maupun yang didengarnya dari bang Alif atau kak Mia.


"Maryam ngantuk ya... Tidur gih.... " Mata Maryam melek merem menahan kantuknya. Lucu.

__ADS_1


__ADS_2