Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
pesta


__ADS_3

Sebuah mobil xpander hitam berhenti di parkiran masjid. Aku melihatnya sekilas karena sedang membawa nampan berisi toples-toples makanan ringan untuk disusun di meja-meja tamu.


Setelah solat asar badan terasa segar dan tak lupa aku minum es degan sebelum kembali beraktifitas. Aku menyiapkannya dalam jumlah banyak untuk acara ini karena kami butuh energi lebih untuk menyambut para tamu.


Saat solat adalah waktu untuk rehat sekejap. Melepas lelah, mengistirahatkan raga sejenak, membasuh wajah dengan air wudlu dan meletakkan ubun-ubun ditempat terendah, diatas sajadah sebagai bentuk penghambaan kepada Robb sang pengatur alam semesta.


Rina yang duduk di depan meja songgongan dengan salah satu gadis tetangga kami kemudian beranjak dari duduknya ketika melihatku berdiri disampingnya. Kami gantian solat agar tidak ada yang terlewat, agar semua tamu yang pulang membawa bingkisan yang sudah kami siapkan. Bukan makanan mewah, hanya kue kering dan teh botol serta gelas sebagai sovenir bertuliskan nama bang Lukman dan kak lala. Spesial untuk teman-temannya ayah bingkisannya adalah kue kering dan dompet kulit.


Sore ini aku dan Rina memakai baju adat Betawi dengan tatanan rambut disanggul tinggi kemudian memakai kerudung yang disampirkan dipundak sedang ujung yang lainnya kubiarkan terurai didepan dada.


Beberapa cowok yang tidak kami kenal mencoba mencari perhatianku dengan mengunggah senyum atau dengan menatap tajam padaku. Kalau yang ganteng yang seperti itu nggak masalah, bisa buat cuci muka eh cuci mata kata Rina. Sayangnya aku bukan anak ABG yang kelewat salting saat mendapat perlakuan seperti itu. Biasa saja

__ADS_1


Ada juga yang minta ke bang Alif atau bang Lukman untuk mengenalkannya pada kami, Aku dan Rina. Bahkan teman-teman ayah menggoda kami untuk mengambil kami sebagai menantu. Ayah pintar jawabnya, "anak-anak sudah punya calon" sehingga kami aman dari serbuan pertanyaan seputar pasangan.


Golongan ibu-ibu yang justru terlihat heboh,


"tak kenalkan sama anakku ya cah ayu.. iki perawane pak dirman kok Yo ayu tenanan Ki. gemes aku..."


"yang manis ini sudah punya calon apa belum? Aku punya ponakan, ganteng orang e, sudah pegawai negri pula. Mau ya tak kenalkan nanti?"


yah begitulah kalau ada hajatan di desa. Tempat itu juga berfungsi sebagai ajang mencari jodoh bagi para jomblowan dan jomblowati.


Bang Alif dan Kak Mia juga ayah yang kesana kemari menyambut para tamu dan mempersilahkan mereka untuk menyantap hidangan yang ada dan mengajak berbincang sejenak untuk sekedar menyapa. Kedua pengantin tentu yang paling sibuk karena mereka yang paling dicari oleh para tamu.

__ADS_1


Pelaminan dibiarkan begitu saja tanpa penghuni. Untung bang Lukman mau pakai yang biasa saja yang penting fotogenic. coba kalau pakai gebyok yang panjang. Harganya kisaran diatas 10 juta lebih padahal hanya dipakai beberapa jam saja. Daripada buat begitu lebih baik untuk beli emas bisa buat investasi.


Para tamu yang banyak itu kebanyakan adalah para tetangga dan Kenalan bang Alif . Mereka adalah anak didik maupun anggota majelis taklim yang diasuhnya dari berbagai tempat. Teman bang Lukman bisa dihitung jari karena bang lukman termasuk orang yang introvert jadi jarang bergaul dengan teman-teman sebayanya.


Semua mata memandang ke arah gerbang rumah dan tampaklah sosok Mas Zein..dan papa mamanya. Mereka menyedot perhatian semua orang karena penampilan mereka terlihat sangat mencolok. Mamanya memakai tas yang biasanya dipakai para artis, merk Gucci. Tangan yang lainnya memakai kipas yang luar biasa bagusnya, mevvah dan berkelas. belum lagi perhiasan yang dipakainya, baju, sepatu dan aksesoris dikepalanya yang pastinya tidak murah. Outfitnya antara 60 sampai 100 jutaan, mungkin...


Sedang papanya memakai setelan jas dengan baju masuk, rapi dan berkesan. Sedangkan mas Zein, ia memakai kaos hitam dibalut jas dengan warna yang lebih cerah membuatnya semakin tampan dan kelihatan muda. Aku jadi sedikit ilfeel. Para gadis pasti akan memandangnya dengan takjub. Wajahnya itu kenapa semakin terlihat lebih menawan setelah beberapa hari tidak bertemu.


Aku berdiri ketika mereka sudah semakin dekat. Aku harus menyalami mamanya atau tidak? bagaimana kalau dia mengacuhkan tanganku? itu akan membuatku sangat malu. tapi kalau tidak salaman sepertinya itu sangat tidak sopan.


Kutundukkan kepalaku sebagai bentuk hormat pada papanya mas Zein. kepada mamanya aku mengangsurkan tanganku dengan konsekuensi dia mengacuhkan ku, ya biarlah sedikit malu kalau memang hal seperti itu terjadi padaku.

__ADS_1


Mamanya menyentuhkan ujung jarinya ke tanganku dan aku berusaha menciumnya meski ia terlihat seperti orang yang jijik ketika memegang sesuatu yang tak disukai nya.


__ADS_2