
Dua manusia yang sedang tenggelam dalam gemuruhnya suara dalam gedung itu saling diam beberapa lama. Ani melirik Zainal dan sudut matanya menangkap jika Zainal sedang memandang ke arah pelaminan. Ia pun mengikuti arah pandang Zainal dan melihat pemandangan yang uwu, adegan romantis suami istri yang membuat jiwa jomblonya meronta-ronta.
Dokter Ibrahim sedang menangkupkan kedua tangannya di pipi Karina kemudian mencium kening istrinya sambil memejamkan matanya cukup lama. Terlihat Karina menggerakkan tangannya pada pinggang dokter Ibrahim seperti gerakan mencubit dan seketika sang suami melepaskan bibirnya dari kening sang istri kemudian meringis sambil mengusap pinggangnya.
Ani kemudian memalingkan mukanya karena baper. Ia merasa malu pada pria yang ada di sampingnya. Mukanya merah karena melihat keuwuan pasangan yang sudah halal itu.
Begitu pula dengan Zainal yang masih bujang. Ia pun tak menampik ingin melakukan adegan mesra seperti tadi tapi apalah daya. Tulang rusuk yang dicarinya sampai saat ini masih juga belum ketemu. Nasib jomblo, lihat pasangan yang begituan sudah bikin hati tercabik-cabik, panas euh...
Hati Zainal misuh-misuh melihat nya, tolong hargai perasaan kami yang masih sendiri ini, teriaknya tapi hanya dalam hati saja.
"Dokter Ani....!!!!"
Zainal dan Ani refleks menoleh ke arah suara.
Zainal melihat beberapa gadis mendekati Ani kemudian bersalaman dan beberapa diantara mereka ada yang memeluk Ani. Beberapa menit kemudian barulah Zainal ingat wajah-wajah yang dulu sering dilihatnya saat mengunjungi Ani di rumah sakit.
"Dokter....! Dokter Ani kok tambah cantik sih?"
"Iya, wajahnya tambah imut..." balas gadis lainnya.
"Aku jadi pingin pake hijab juga biar tambah cantik kayak dokter..." gadis lainnya lagi menimpali.
"Ehm ehm..... Pak Zainal sama dokter Ani ternyata masih pacaran ya? wahh.... mau nyusul rina dan dokter Baim dong... jangan lupa undangannya ya pak Zainal..." seloroh gadis yang lainnya lagi.
Ani melotot pada temannya karena merasa sangat malu. Memang dalam hati kecilnya juga terbersit berharap demikian tapi jika diungkapkan kenapa jadi terlihat berlebihan. Ia kemudian mencubit lengan gadis tadi sampai dia meringis kesakitan.
"Doain saja...." jawab Zainal dengan nada suara yang tenang dan tersenyum manis pada gadis-gadis yang sedang bergerombol dekat Ani.
"Dokter Ani....?" Dari arah depan datanglah tiga orang pria. Melihat wajah mereka Zainal langsung ingat bahwa mereka juga petugas rumah sakit dan yang menyapa Ani adalah teman sesama dokternya.
Zainal memperhatikan mereka dengan seksama dengan pandangan kurang sukanya. Sedikit khawatir dan cemburu mungkin. Ia takut jika Ani sudah tak tertarik padanya lagi dan lebih memilih pria yang seprofesi dengannya. Ia tidak ingin didahului siapapun untuk menjadikan Ani sebagai istrinya tapi kini ia kurang percaya diri di depan Ani karena ternyata gadis pujaan hatinya itu lebih suka pria yang alim dan soleh, tidak memandang status sosial calon suaminya. Ia sadar diri jika pengetahuan agamanya masih sangat minim sekali.
Pria yang menyapa Ani tadi mengajak Ani bersalaman tapi gadis itu tak membalas jabatan tangannya. Ia sedikit menunduk sambil menggerakkan tangan kemudian diarahkan ke mukanya seperti adegan di film india jodha akbar.
Pria itupun menarik tangannya kemudian mengusap tengkuknya karena malu. Dan para pria dibelakangnya hanya menganggukkan kepalanya sambil bibirnya bergerak seperti mengucap dokter dan Ani pun membalasnya dengan menganggukkan kepalanya.
Zainal tersenyum melihatnya. Ia semakin kagum dan lebih berharap lagi , Ani lah jodoh yang dicarinya.
__ADS_1
"Ya Allah... tolong aku," bisiknya sambil memegang dadanya. Ia takut jika terlalu berharap tapi pada akhirnya tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi ia tak bisa menahan hatinya yang seperti meledak-ledak dan hanya menginginkan Ani sebagai pendamping hidupnya.
"Tak bisakah dia yang akan menjadi istriku?" Lagi-lagi ia bergumam dan kali ini sambil menundukkan kepalanya.
Ikhlaskan hatiku untuk menerima takdir darimu Ya Alloh, rintih hati Zainal.
Zainal masih duduk ditempatnya sambil sesekali memandang ke segala arah. Ia tak mau beranjak dari tempat itu karena misinya belum dijalankannya. Ia akan mulai mendekati Ani karena sang mama sudah merestui dan Ani pun dalam keadaan jombo saat ini.
Ia akan berusaha semaksimal mungkin dan akan berusaha tawakkal sesudahnya. Menekan hatinya agar menerima segala takdir yang kuasa dengan hati lapang dan terbuka.
"dokter..... itu yang pake kopyah itu siapa dok? kenalin dong dok...." kata salah satu gadis yang paling cerewet tadi.
Ani menoleh ka arah yang ditunjuk temannya dan melihat ternyata yang dimaksud adalah bang Alif yang sedang berbincang dengan para tamu. Semua orang akan tahu anggota keluarga pengantin karena seragam yang dipakai. Warna baju merah muda dengan model baju ala-ala abang betawi dengan sarung yang dilipat setengah diluar celananya tapi kepalanya memakai kopyah hitam untuk para prianya.
"Oh.... itu abangku"
"Kenalin dong dok...."Kata gadis lainnya sambil menggoyang-goyangkan lengan Ani.
"Bang Alif sudah punya istri..." Jawab Ani sambil tersenyum melihat kelucuan gadis-gadis yang bukan remaja lagi itu.
"Yah.... kecewa aku...."
"Eh mau jadi pelakor lu, dasar....!!!" Gadis yang lainya menoyor kening gadis yang baru bicara.
"Memangnya kenapa. Poligami kan boleh. Aku mau kok di duain...." Jawabnya santai.
"Kamunya mau tapi abang soleh itu yang nggak bersedia menjadi suamimu..." Yang lainnya mengejek.
"Ish... apaan sih kalian tuh. Sirik aja...."
"Sirik? sirik apaan? lo toh yang nggak jelas!! pake bangget ..." kata salah seorang gadis sambil memonyong-monyongkan bibir nya dan tangannya dikibaskan di depan mukanya sendiri seperti para waria yang sedang memarahi seseorang.
"An...." tiba-tiba di belakang Ani sudah ada Lukman yang sedang menggendong Maryam.
Semua orang menoleh pada Lukman. Gadis-gadis itu lagi-lagi terkesima dengan pria yang bisa dipastikan juga anggota keluarga pengantin karena baju yang dikenakannya.
" Lela kecapean, aku akan membawanya ke kamar,'" Kata Lukman sambil menyerahkan Maryam pada Ani.
__ADS_1
Ani pun dengan sigap menggendong Maryam.
"Mules nggak perutnya?" Tanya Ani.
"Nggak." jawab Lukman singkat sambil beranjak pergi tanpa menyapa siapapun di situ.
"Hati-hati bang...!" Kata Ani sedikit khawatir karena kandungan Laila sudah lebih dari 10 bulan tapi belum ada tanda-tanda untuk melahirkan. Dokter menyuruh mereka untuk operasi tapi Lukman menolaknya mentah-mentah. Dia yakin anaknya akan lahir normal karena Paling lama kehamilan adalah 4 tahun seperti kehamilan ibunda imam Syafii.
"Siapa dokter?" Tampak mata para gadis sangat kepo.
"Itu bang Lukman..." Jawab Ani sambil tersenyum dan menepuk pelan Maryam yang ada dalam gendongannya.
"Ini anaknya?"
"Bukan. Ini namanya Maryam onty, aku anaknya abi Alif," Ani menjadikan suaranya seperti suara anak kecil sambil mengoyangkan lengan kecil Maryam seperti dada-dada.
"Bang Lukman jombol dong....? Oh tidak .... Aku mau jadi kakak iparnya dokter Ani.." kata salah satu gadis sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah gemasnya karena melihat sosok Lukman yang sekarang terlihat manis dan tubuh atletis.
"Istrinya bang Lukman sekarang sedang hamil besar...." Kata Ani dengan menahan tawanya.
"Bang Lukman kan sering nganter istrinya periksa kandungan, jangan pura-pura nggak tahu kalau bang Lukman sudah beristri"
"Masak sih, kok aku nggak pernah lihat ?"
"Bang Lukman tuh wajahnya tegas dan garang tapi lumer dan lembut di dalam,"
"Coklat kallee...."
"Lu nggak tahu sih gimana sweet nya bang Lukman sama istrinya yang bodinya aduhai itu, romantis banget. Meleleh cuy...."
"Abang yang itu juga dulu sering ke rumah sakit nganter istrinya. Istrinya yang kecil mungil itu kan dokter?" Tanya salah satunya sambil menunjuk ke arah kak Mia yang kini berada di samping bang Alif yang sedang berbincang dengan para tamu.
"Yah...kok aku nggak tahu sih?. kenapa tidak disisain untuk aku. Aku mau yang kayak itu satu....saja" sahut yang lainnya.
"Gadis-gadis oleng....! Disini ada yang jomblo ngapain ngecengin yang sudah punya istri" kata teman pria yang dari tadi diam saja mendengarkan obrolan tak jelas dari para gadis.
"Ogah....."kata para gadis berbarengan.
__ADS_1
"Dasar calon pelakor...." Kata lelaki yang lainnya.
Maryam menangis mendengar obrolan tak jelas mereka sehingga semua orang melihat ke arah bayi itu.