Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
ANI


__ADS_3

Aku pergi ke dapur untuk membuatkan bubur mas Zainal. Ada dua asisten di dapur yang sedang memasak untuk keluarga ini. Cuma tiga orang anggota keluarganya mas Zein tapi masaknya banyak banget karena jumlah asistennya lebih banyak daripada jumlah anggota keluarganya. Yang aku tahu ada sekitar tujuh asisten, mungkin ada lagi yang aku belum tahu.


"Hari ini menunya apa bu dokter?" Tanya salah satu dari mereka yang usianya sekitar lima puluhan, yang bernama bi Inem.


"Hari ini mas Zein sudah bisa makan bubur padat enaknya sayur sop sama tahu dan telur saja kalau bahan-bahannya ada". Jawabku.


"Maaf bu dokter tadi saya ke pasar carinya cuma sayuran itu saja",Yang lebih muda dan biasa di panggil sama mamanya mas Zein Meli, menyahuti obrolan kami.


Aku menuju tempat sayuran yang sudah di gelar dibawah. Ada banyak sekali, ini buat berapa hari coba? Aku sampai heran. Perasaan makannya biasa-biasa saja nggak banyak-banyak amat tapi kenapa setiap hari ke pasar belanja segitu banyaknya?


"Ini mau bikin sayur apa?" Tanyaku.


"Sayur asem bu dokter..!"


"Iya udah ikut aja deh, sayur asem nanti di kasi ini aja, nugget ayam. Sebenarnya nggak bagus sih kalau sering-sering tapi nggak papa lah sekali-kali biar mas Zein semangat makan nya. Nugget nya ada kan?"


"Ada bu dokter ada. Di kulkas...".


"Ii..hh jangan panggil saya bu dokter..!. Saya ini pengangguran lho. Boleh nggak sih kalau saya melamar pekerjaan di sini? Jadi apa gitu.."


"Kamu itu ngomong apa sih? Kamu itu calon nyonya di sini! Kamu nanti yang ngatur semua keperluan rumah ini. Anak ini kalau ngomong".


Astaghfirullahaladzim.... Ini mak-mak ya bener-bener deh. Tiba-tiba muncul dan dan tahu apa yang sedang kami bicarakan. Atau jangan-jangan mamanya mas Zein ini selalu memonitor ku ya? Jadi tahu apa yang sedang aku bicarakan. Tapi.... apa tadi dia bilang, calon nyonya di rumah ini? Mungkin mulutnya aja yang pedas tapi hatinya romantis. Aku jadi bingung harus seneng apa harus sedih kalau begini ini?


"Kalian panggilnya nona! Ani ini calon istrinya Zainal. Masih muda jangan panggil bu!. Kalian tanya saja sama dia kalau mau belanja!"


Kedua asisten itu melongo mendengar majikannya ngomong seperti itu, aku juga sama shock nya, sama seperti mereka. Kayaknya benci tapi sayang kayaknya sayang tapi benci. Entahlah.... aku bingung dengan wanita yang sudah melahirkan mas Zein. Untung anaknya nggak aneh seperti itu. Kalau diingat-ingat mas Zein itu so sweet banget malah.


"Ada orang kantor nyari Zainal katanya mau minta tanda tangan..."


"Mas Zein ada di kamar ..." Kataku.


"Ya kamu anterlah. Masak mama? Mama mau istirahat dulu..." Katanya sambil berlalu.


Mama? Itu artinya dia menyuruhku memanggilnya mama begitu? Tadi juga dia memelukku sama bilang mama-mama ke aku. Tapi kenapa rasanya agak aneh ya? Masak baru tadi baikan dan saling membuka hati masak sekarang sudah akrab sekali. Aneh nggak sih?


"Nunggu apa lagi An?!"

__ADS_1


"Eh iya ma..." Aku mengatupkan bibirku yang barusan refleks bilang mama. Canggung sekali rasanya.


Aku pun berjalan menuju ke ruang tamu untuk menemui tamu mas Zein. Kenapa rasanya aku sudah seperti nyonya di rumah ini. Menerima tamu, mengurusi menu makanan untuk mas Zein. Apa mungkin mas Zein benar-benar jodohku ya?


Setelah berbasa-basi sebentar aku pun meminta berkas-berkas yang harus ditandatangani oleh mas Zein.


Aku berjalan ke dapur dan melewati ruang tengah yang dulu pertama kali aku kesini aku ditolak mentah-mentah oleh mamanya mas Zein dan sekarang lihatlah! Dia berubah 180 derajat. Maha Suci Allah, Dia Yang Maha Kuasa untuk membolak-balikkan hati manusia.


"Mbak... tolong minumnya buat tamunya ya..!"


"Iya non, teh atau apa?"


"eh malah non panggil mbak aja mbak!!. Tak cubit lho kamu ya! Kalau ada jus jeruk yang dingin kalau nggak ada teh juga nggak papa"


"Baik non.."


"Mbak...?"


"Iya non" Bik Inem dan Meli malah kompak menjawabnya secara bersamaan.


"An..... kenapa kamu berisik sekali?" Terdengar suara wanita nyonya rumah ini yang sekarang sudah berdiri di pintu dapur. Tiba-tiba aja dia muncul. Bikin orang takut saja.


"Itu kenapa belum dikasihkan ke Zainal berkas-berkasnya? Kalau nanti kena air kamu yang tanggungjawab lho! Mama mau istirahat kamu jangan berisik An...!"


"Iya maaf ma..."


Aku pun berjalan cepat menuju ke kamar mas Zein dengan hati-hati membawa berkas-berkas tadi.


Ku buka pintu kamarnya pelan tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Sepi, kosong.., melompong....


Mas Zein kemana? Harusnya dia kan sedang istirahat. Atau mungkin dia ada di kamar mandi?


Ku langkahkan kakiku menuju ke kamar mandinya yang ada di dalam kamarnya yang luas ini.


Aku terpaku sesaat melihat mas Zein yang sedang berada di wardrobe hanya memakai handuk yang melilit di pinggang nya dan menampakkan punggung serta betisnya.


Oh my God... aku langsung berbalik arah sambil menutup mulutku agar tak menimbulkan suara dan berjalan mengendap-endap kembali ke pintu agar dia tak menyadari kalau aku baru saja melihatnya semi telanjang.

__ADS_1


Ya Allah.... aku membawa map sambil mendekapnya di dadaku. Kenapa dadaku berdetak kencang seperti ini ya Allah.... Aku sudah sering melihat lelaki bertelanjang dada pada pasien-pasien ku tapi kenapa melihat punggungnya mas Zein rasanya berbeda?


Aku pun kemudian berpura-pura seolah baru membuka pintu,"Mas Zein..... ?"


"Iya ada apa di?" Jawabnya santai.


"Ada orang dari kantor mau minta tanda tangan" Huft... untung dia tidak menyadarinya.


"Iya sebentar...." Katanya.


Tak lama kemudian dia muncul sudah dengan memakai baju koko dan sarung serta kopyah hitamnya.


"Jam berapa ini? mau solat dhuhur?." Tanyaku


"Iya kurang lima belas menit kan? Nanti dibuat tiduran sakit nanti kalau bangun juga sakit lagi. Habis solat aja nanti langsung tidur biar tenang..." Katanya menjelaskan padaku.


"Ini berkas-berkas nya...!" Kuberikan padanya map yang ada di tanganku.


Dibukanya map itu lalu dibolak-balik nya kertas-kertas itu.


Wajah seriusnya saat bekerja seperti itu malah membuatnya semakin tampan dan apa ya, pokoknya gemes deh....


Tanpa sadar bibirku malah menyunggingkan senyum.


Mas Zein melihatku kemudian mengernyitkan keningnya,"Kenapa senyum-senyum di?" Tanyanya.


"Eh... nggak kok..." Kataku langsung ambil posisi cool.


"Tolong siapkan makanan buat tamunya ya di! Mungkin kami agak lama" Katanya sambil berlalu meninggalkanku.


Benar kan aku sudah kayak nyonya di rumah ini?️


Aku berjalan kembali menuju ke dapur menyiapkan makan siang pak Randi apa siapa tadi lupa namanya sama buburnya mas Zein sekalian biar mereka bisa makan bersama.


Saat terdengar adzan makanannya sudah siap semua dan kutata dalam piring-piring saji dibantu sama Meli sama bik Inem dan yang lainnya. Aku tak berani bersenda gurau lagi takut mama baruku marah. Jadi kami yang sekarang berlima diem-dieman.


"Sshtttt...,Nyonya sedang istirahat jangan ramai" Kata bik Inem yang paling tua diantara kami.

__ADS_1


__ADS_2