Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
toni


__ADS_3

Dokter Ani melihat tangan Zainal dengan seksama.


Tiba-tiba seorang gadis datang dan duduk di depan Dokter Ani.


"Loh ini kan pak.... pak jaenal kalo nggak salah ya," katanya sambil menggerakkan telunjuknya ke arah Zainal.


"Zainal bukan jaenal"


"it's ok pak jenal" sahutnya menggoda zainal.


" kamu ingat rin?"- dokter Ani


"ya elah kaak. masak lupa? itu.... bapak - bapak yang ngotot nggak mau pulang sebelum kenalan sama kakak dulu kaak. wah... kakak mah parah. Masa sih nggak ingat sama sekali?" - rin


"oooohhh.... iya iya iya aku ingat sekarang" - dr. Ani


" sakit tau dok. tiap hari aku menahan rindu, mencoba mencari alasan agar bisa ketemu sama dokter. Tapi dirimu sama sekali tak menganggapku. Nyesek dok!!" - zainal


"dihh lebay" kata rin


"kamu..... asistennya dokter ani yang marah-marah waktu itu ya ?"


yang ditanya hanya manggut-manggut sambil menikmati jusnya.


"Trus yang ini siapa?" tanya zainal sambil menunjuk orang yang dimaksud dengan kepalanya.

__ADS_1


"Ini bang lukman" kata rin


pria itu menganggukkan kepalanya pada zainal dan zainal pun membalasnya dengan anggukan yang kurang ikhlas karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari pertanyaannya .


"Dia bukan teman spesialnya dokter kan?" tanya zainal sambil menghadap ke arah dr. ani


"saya kakaknya" kata lukman dengan nada ketus dan menatap Zainal dengan tajam.


Mendengar itu Zainal berdiri, tangan kirinya memegang perut sedangkan tangan kanannya mengajak lukman bersalaman.


"Saya Zainal bang! Saya minta izin untuk mendekati dokter ani, adik anda."


Lukman menjabat tangan zainal masih dengan sorotan matanya yang mengancam.


kontan saja zainal menampakkan muka cemberutnya karena Lukman tak menjawab basa basinya. Lebih baik ditolak mentah-mentah daripada didiamkan seperti ini, batin zainal.


"tarraaaaa........." rin mengeluarkan tiga bungkus arbanat dari dalam kresek yang tadi dibawanya.


kemudian ia membagikannya pada dokter Ani dan lukman. Ia menyisakan satu bungkus untuk dirinya sendiri.


"Maaf ya pak jaenal, aku cuma beli tiga tadi. Atau kalau nggak abang join ama pak jaenal aja gimana bang?" tanya rin.


"Umurku masih 22 tahun kenapa kau terus memanggilku pak?" tanya zainal.


"Lalu..... aku panggilnya apa? aku kan masih kecil?" -rin

__ADS_1


"cih.... masih kecil. Panggil abang, jangan bapak! aku kan masih imut-imut. iya kan dokter?" -zainal


Dokter Ani tersenyum sekilas tanpa melihat kearah zainal.


"Karena usia saya lebih tua jadi saya boleh panggil anda adek ya?" - dokter Ani


" eh masa sih dokter Ani lebih tua dari saya. Kok wajahnya masih kayak umur 20 tahun gitu sih..." - zainal


"ngegombal terus....." -rin


"udahan ayo cabut, berapa semua mang?" - lukman


" kok mang sih bang... panggil zein aja! aku kan calon adik ipar kamu bang!" gratis. hari ini aku yang traktir"


Lukman mengeluarkan uang 100ribu dan menaruhnya di meja sambil berkata, " adik ipar? tidak semudah itu tuan zainal yang terhormat".


Lukman berdiri, berjalan meninggalkan stand itu, kemudian diikuti oleh dokter Ani dan rin.


" Jangan galak-galak kakak ipar. Ntar kangen sama aku loh."


"Dokter boleh minta nomer telponnya?" kata Zainal sambil mengejar dokter Ani.


"untuk?"


"Eehmmm.... mau konsultasi dok. jantungku itu, ehmmm..... anu.."

__ADS_1


"Langsung datang ke rumah sakit saja"


"mas zein!!!" teriak seseorang memanggil namanya


__ADS_2