
Di rumah bergaya Belanda yang kini sudah direnovasi di beberapa tempat itu nampak ramai karena dua orang penghuninya akan menikah. Beberapa tetangga ikut membantu menyiapkan hidangan untuk acara ruwah ngaturi malam nanti.
Sedang dua calon pengantinnya, Ani dan bu Jannah dilarang masuk ke area dapur oleh ibu-ibu yang sedang membantu di situ. Entah apa alasannya. Dan sekarang mereka sedang berada di dalam kamar Ani.
Calon mertua Ani mengirim orang salon langganannya untuk memberikan perawatan kecantikan pada calon menantunya dan Ani sedikit memaksa bu Jannah agar mau melakukan perawatan bersamanya.
"Ibu ini sudah tua kamu saja nak...!" Kata wanita yang sudah beruban itu.
"Ayolah bu.... biar besok ayah terpesona." Rayu si gadis calon pengantin.
"Nggak ah... ibu nggak mau. Malu sama cucu.. sudah beruban masa masih pingin nyaingi yang muda-muda"
"Ya sudah kalau begitu pakai pacar saja!" Rayu Ani belum mau menyerah.
Dua orang suruhan mama Zainal masih setia menunggu calon pengantin yang masih berdebat dan belum menemukan titik temu. Mereka berdua duduk tenang di kursi yang sudah disediakan.
Tok tok tok....
"Iya masuk....!" Sahut Ani.
Semua mata memandang ke arah pintu yang mulai terbuka dan sedikit demi sedikit wajah sang Ayah mulai terlihat dengan jelas.
"Ayah kok ke sini yah?" Tanya Ani.
" Memangnya kenapa, nggak boleh?" Jawab pak Dirman dengan balik bertanya.
" Jangan ketemuan dulu yah, besok saja! biar saling terpesona!"
"Ngomong apa... kamu itu? Emang ada dalilnya begitu?" Pak Dirman tidak membuka pintunya secara penuh.
" Nggak ada sih.... tapi kan biar seru gitu yah.." Kata Ani yang duduk di sebelah bu Jannah sambil memeluk lengannya.
Pak Dirman yang masih berada di ambang pintu hanya geleng-geleng kepala menanggapi pendapat putrinya.
"Mau ngapain disini?" Tanya Pak Dirman sambil menatap calon istrinya. Dan Ani menyaksikannya dengan seksama dia penasaran bagaimana ayah dan calon ibu nya itu berinteraksi.
Bu Jannah nampak salah tingkah mendapat tatapan tajam dari calon suaminya. Ia memandang Ani dengan tatapan menghiba meminta pertolongan agar ia tak kena marah karena raut muka pak Dirman terlihat dingin dan tidak suka.
Ani pun paham dengan hal itu lagi pula dialah biang keladinya.
"ini perawatan tubuh Yah... Luluran, manicure, pedicure, massage, pacaran, hena an dan beberapa yang lainnya. Mumpung gratisan yah. Tadi aku sudah bilang mama kalau ibu mau ikut perawatan juga dan mama bilangnya nggak papa..." Jelasnya panjang lebar.
Pak Dirman kembali menatap calon istrinya dan Bu Jannah langsung refleks dadah-dadah. "Saya sudah nggak mau tapi putri anda ini yang memaksa", katanya sedikit menghiba.
__ADS_1
'Hah...? Kenapa ngomongnya masih formal banget? Ayah juga nggak pernah otoriter kayak gitu ya kalau sama anak-anaknya. Baru tahu kalau ayah bisa garang dan dingin kayak begitu. Bikin orang takut saja.' batin Ani.
" Kamu saja..! Jangan ngajak-ngajak ibumu! Kami ini sudah tua nggak perlu yang kayak gitu.... " Jelas Pak Dirman
"Tapi yah.... ", rengek Ani.
"Jangan aneh-aneh....!" Kata pak Dirman sambil berlalu.
"Iya ...." jawab bu Jannah sambil menunduk.
Dua orang yang tak muda lagi itu terlihat lucu seperti remaja yang baru mengenal cinta.
"Ish.... apaan coba ayah. Ini kan nggak setiap hari.... Ayah payah...." Gerutunya sambil mengerucutkan bibirnya.
" Sudah.... jangan bikin ayahmu marah! Dengar kan tadi.... apa katanya?" kata Bu Jannah.
Dua orang wanita yang sejak tadi duduk di kursi yang sudah di sediakan hanya mengulum senyum terpaksa karena kenyataannya mereka juga lelah menunggu.
"Sudah... kasihan ini mbak-mbaknya nungguin dari tadi..... Maaf ya mbak, silahkan di mulai! Saya ambilkan minum dulu. Semuanya sedang repot sampai lupa untuk menjamu tamu.." Kata bu Jannah sambil berlalu.
Ani akhirnya menyerah dan akan menjalani perawatan tubuhnya sendiri saja.
Kedua petugas dari salon segera menyiapkan semua peralatan yang diperlukan di kamar Ani yang memang tergolong besar untuk ukuran kamar di kampung pada umumnya. Sementara itu Ani mengunci pintu kamarnya dan bersiap diri dengan berganti baju menggunakan handuk yang menutupi bagian dada dan sebagian pahanya.
Kemudian dilanjutkan dengan waxing untuk membersihkan bulu-bulu yang ada di tubuh terutama tangan, kaki, di ketiak dan untuk bagian kewanitaan Ani menolaknya dengan alasan akan membersihkannya sendiri.
Manicure pedicure juga dijalani Ani dengan senang hati. Dilanjutkan dengan perawatan wajah, mata juga bibir dengan di scrub untuk mengangkat sel-sel kulit mati agar bibir tampak segar dan merah alami.
Dan yang terakhir yang tak luput dari perhatian calon mertuanya yang sosialita adalah perawatan rambut atau creambath untuk menutrisi rambut agar sehat dan bercahaya.
Sebenarnya ada tahap berendam yang biasa nya dinamakan dengan mandi susu yang berfungsi untuk membuat kulit halus dan bersih, meregenerasi kulit dan mencegah penuaan dini. Akan tetapi karena di rumahnya belum punya bathub maka ia hanya meminta di siapkan dalam jumlah kecil di dalam tong yang biasanya di pakai untuk mencuci dan hanya akan mengguyurkannya saja.
Sekarang tiap kamar sudah ada kamar mandinya meskipun bukan seperti punya orang-orang kaya tetapi bang Alif mengantisipasi agar adik-adiknya yang kini sudah menikah tidak perlu keluar kamar untuk mandi jinabah.
Badan Ani terasa segar setelah melakukan berbagai perawatan sejak pagi hingga petang. Wajahnya memancarkan cahaya dan menebarkan aroma kebahagiaan bagi siapa saja yang melihatnya. Bahkan tangannya kini sudah dihiasi dengan pacar dan hena.
Setelah maghrib makin terlihat lah suasana hiruk pikuk di rumah itu. Semua sibuk mempersiapkan jamuan juga berkatan untuk para tetangga dekat yang di undang untuk memberikan doa dan restu bagi calon pengantin yang akan melaksanakan akad besok pagi.
Sementara itu di dalam kamar Ani dan Karina sedang berdebat.
"Please anterin aku...!"
"Apa kata orang-orang nanti kak? Masa pengantinnya pergi bekerja sih. Besok tuh kakak nikah..... Acaranya jam delapan pagi loh kak. Aneh-aneh aja deh... Gimana kalau kakak sampai terlambat. Mungkin ada pasien darurat atau macet karena kecela...." Perkataan Rina tidak selesai karena Ani membekap mulutnya.
__ADS_1
" Ih.... naudzubillah mindzalik.... Kamu itu kalau ngomong hati-hati! Ingat nggak waktu kamu bilang, kalau Ayah sama ibu jadian enak. Kalian nikahnya bareng aja kak! Inget nggak waktu kamu bilang begitu. Sekarang jadi kenyataan.... Tarik nggak omongannya yang tadi?!"
"Ups ... sorry...!" Jawab Rina sambil menutup mulut dengan keempat jarinya.
"Lagi pula ini semua juga gara-gara suami kamu... Sekarang kamu harus tanggung jawab! Anterin aku ke rumah sakit sebelum bang Alif pulang dari masjid...."
"Emang keterlaluan si Baim itu... Sudah tahu orang mau nikah malah dikasih tawaran kerja..."
"Heeh.... jangan salah...! itu bukan tawaran ya. Itu pemaksaan atas nama pasien..."
"Au ah.... ya sudah kakak minta pertanggung jawaban sana sama si Baim itu!"
"Ihhh kamu ngomongnya nggak enak banget ya..."
"Aduh aduh sakit tahu kak...!!"Teriak Rina yang mendapat cubitan di lengannya.
"Minta tanggung jawab kayak apa aja."-Ani
"Tadi kakak dulu yang bilang suruh tabggung jawab...!" Rina tak terima.
"Kamu itu kayak anak kecil deh. Lagian ya masa manggil nama suaminya si Baim si Baim. Nggak sopan banget...."
"Yaelah.. kita mah biasa aja kak... Dia nggak keberatan juga kok..."
"Ya udah terserah pokoknya anterin aku se-karang...!" Kata Ani penuh penekanan.
Rina memandang Ani yang sudah siap dengan penyamaran agar tak terlihat orang-orang kalau pengantinnya keluar. Malam-malam pula.
"Emang bang Alif nggak tahu kak?" Tanya
"Aku ngeles terus waktu kak Mia tanya-tanya"
"Giliran kayak gini aja aku yang kena...."
"Kalau nanti kamu sudah pulang tolobg bilang sama bang Lukman aku minta dijemput besok jam tujuh tepat nggak boleh kurang....!"
"Calon pengantin resek banget
Rina menelpon suaminya minta izin untuk mengantar kakaknya ke rumah sakit tapi dokter Ibrahim tidak memperbolehkannya . Dia cuma bilang, "aku tunggu di mobil..!"
"Kamvret nih si Baim..." Cicit Rina agar tak kedengaran kakaknya.
"Bawain tas ku dan tunggu aku di mobil... Aku mau lompat lewat jendela..." Kata Ani sambil melempar tasnya pada Karina dan bersiap naik ke jendela yang sudah dibukanya
__ADS_1
"Dasar calon pengantin aneh...." Gerutu Rina.