Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
luka


__ADS_3

Lukman mengambil kopyah yang tadi ditaruhnya di pagar serambi masjid. Ia menyugar rambutnya ke arah belakang kemudian memasang kopyah di kepalanya. Perfect.


"Ayo...!" katanya sambil membuka pintu musolla. Zainal dan Doni pun mengikutinya dari belakang. Mereka masuk ke dalam musolla yang suasananya hening dan menenangkan.


"Kau saja yang jadi imam!" kata lukman pada Zainal.


"Kok aku? bacaan Al qur'anku masih banyak yang salah bang" tolak zainal


"fuhh...." Lukman menghembuskan nafasnya kemudian maju ke depan sambil mengucap basmalah dengan pelan.


"Alloohu akbar" Lukman mulai mengimami solat dhuhur mereka dengan suara takbir yang keras kemudian membaca al fatihah dan surat pendek dengan suara yang pelan.


Mereka menikmati pertemuan mereka dengan Rob semesta alam. Mengeluarkan keluh kesah dan menyampaikan rasa syukur atas apa yang terjadi pada mereka. Mengadukan segala hal pada yang Maha Mengetahui seolah-olah berjumpa dengan kekasih yang lama tak bertemu untuk menumpahkan segala kerinduan.


Doni bahkan menangis saat sujud sampai selesai solatnya. Ia bahkan menangis sesenggukan sambil mengaminkan doa yang dibaca pria kekar yang kini menjadi imam. Setelah selesai berdoa Doni yang masih sesenggukan kemudian keluar menuju serambi dan duduk di pinggir lantainya dengan menjuntaikan kakinya ke bawah. Ia mengingat betapa banyak ia melupakan Alloh tapi masih saja ia diberi kesempatan untuk hidup. Ia ingin kembali tapi ia merasa malu dan bingung bagaimana cara memulainya kembali.


Tak lama kemudian Zainal juga ikut duduk di pinggir lantai serambi.

__ADS_1


Laila yang ada di bilik wanita mencuri dengar suara Lukman yang sedang melafadzkan dzikir dan wiridnya dengan suara pelan sampai selesai. Ia pun ikut keluar setelah yakin jika Lukman juga sudah keluar musolla.


.


Lukman mengambil kotak obat yang ada di pojok serambi. Duduk di pinggiran teras musolla di sebelah doni. Ia menghadap ke arah remaja lelaki itu dengan kaki bersila. Laila duduk di dekat Lukman yang posisinya seperti sedang memunggunginya.


"Kalau terluka di bagian yang harus terkena air saat wudlu kamu harus berwudlu dulu baru kemudian membersihkan lukanya dan membalutnya dengan perban. Itu berlaku selama tiga hari. Kau bisa wudlu tanpa membuka plasternya. Setelah tiga hari kau harus membukanya", kata Lukman sambil memberi betadine di pelipis Doni yang lukanya masih menganga dengan darah yang masih keluar meski sedikit. kemudian menempelkan plaster di situ.


Doni mengaduh saat Lukman menempelkan plaster dan sedikit menekannya, "sakit bang!"katanya.


"Aku malu bang!" katanya sambil mengeratkan kerah bajunya.


Lukman kemudian menyentil keningnya Doni dengan keras.


cetak!!!


"Aawww, sakit bang!" Teriaknya.

__ADS_1


" Kemana rasa malumu saat kau mencopet tadi?" Tanya Lukman.


Doni diam menunduk sambil mengerucutkan bibirnya. Ia pun dengan terpaksa membuka bajunya dan Lukman mencari luka yang ada di tubuh doni kemudian mengobatinya. Sedangkan Zainal dan Laila diam saja menjadi penonton sampai Zainal merasakan getaran di saku celananya.


"Ya assalamualaikum" sahutnya sambil menempelkan telpon di telinganya.


"Waalaikum salam warohmatulloh. ini dari rumah sakit Seger Waras" kata suara dari seberang sana.


"Iya, tolong kirim no rekening rumah sakit dan biaya tagihannya saya akan segera mentransfernya" Kata Zainal tanggap. Ia mengira itu adalah bagian administrasi dari rumah sakit tempat pujaan hatinya bekerja untuk menagih biaya pasien yang dia jamin tadi.


"Emm... itu...itu akan kami bayar!" Terdengar suara seorang gadis yang sedang gugup.


"Mohon maaf ini dengan siapa?" Zainal sedikit memiringkan kepalanya sambil mengernyit, melambungkan harap yang tinggi semoga suara itu adalah suara gadis yang dinanti.


"Ini... ini dengan Ani" Jawab suara dari seberang dan membuat orang yang mendengarnya langsung berbinar matanya. Senyumnya langsung mengembang sempurna.


"Aa... dokter Ani ya, iya iya sebentar dok" . Zainal memakai sepatunya dan melihat sekilas ketiga orang yang berada disitu sedang memperhatikannya tapi ia tak mengacuhkannya karena suara yang ada di telepon lebih menggodanya.

__ADS_1


__ADS_2