Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
manusia


__ADS_3

Akhirnya Laila memandu Lukman sampai akhirnya mereka sampai di kontrakan Laila. Rumahnya tampak gelap karena belum ada lampu yang dinyalakan. Itu artinya Doni belum sampai di rumah.


Turun dari motornya Lukman kemudian menuju ke meteran listrik sambil bertanya pada Laila " kau sudah bayar listrik?"


" Itu pakai token, harusnya masih ada" kata Laila sambil memasukkan kunci ke dalam lubangnya. Ia masuk ke dalam rumahnya yang terlihat sepi kemudian menyalakan saklar di tiap ruangan. ia juga masuk ke kamar Doni untuk memastikan lagi apakah adiknya sudah pulang atau belum.


Lukman menaruh martabak manisnya di kursi yang berada di teras rumah itu dan duduk di kursi yang satunya lagi. Ia memandang ke depan mencoba menganalisa tempat itu.


Dari gang yang dilewatinya tadi ada bapak-bapak dan beberapa anak muda yang sedang nongkrong di pos kamling kemudian saat melihat dirinya membonceng Laila mereka mengatakan padanya agar segera pulang biar tidak menimbulkan prasangka buruk pada warga. Semakin masuk ke dalam semakin sepi dan hampir semua rumah pintunya sudah tertutup. Meski lingkungan rumahnya padat tapi sepertinya aman, itu kesimpulan sementara Lukman.


"Doni belum pulang..." kata Laila cemas.


Lukman mencoba menghubungi Doni, tapi tak ada jawaban sama sekali.


"Aku sudah menghubunginya dari tadi tapi dia tak menjawabnya sama sekali," Laila berdiri bersandar di bibir pintu.


Lukman memberikan bungkusan yang berisi martabak manis tadi pada Laila sambil berdiri," Masuk dan tutup pintunya dari dalam! Aku akan melihatnya di depan"


Laila menerima bungkusan itu dan langsung masuk ke dalam rumah kemudian dia mengunci pintunya.


" jangan buka pintunya sampai aku datang!" kata Lukman sambil mengerakkan gagang pintu dua kali dan mendorong pintunya untuk memastikan bahwa pintunya sudah benar-benar tertutup rapat.


Laila mulai goyah, ia merasakan jantungnya berdebar-debar karena perhatian Lukman. 'Kalau saja kau orang kaya.... aku....' pikirannya menerawang berandai-andai ke masa depan.


Lukman baru berjalan beberapa langkah dan ia melihat sosok Doni dengan sepeda motor bututnya dari kejauhan. semakin mendekat Lukman semakin yakin jika orang yang sedang naik sepeda motor itu adalah Doni meskipun kepalanya tertutup helm.

__ADS_1


Lukman diam di pinggir jalan gang sempit itu dan Doni tetap mengendarai motornya sampai ke depan rumah kontrakannya. Lelaki berbadan atletis itu melangkahkan kakinya lebar-lebar agar bisa segera menyusul Doni .


tok tok tok tok


"kaak.... "


tok tok tok


"Kak...ini aku" Doni terlihat buru-buru karena ingin menghindari Lukman.


Doni kaget saat Lukman sudah berada di sampingnya tapi dia tak berani menyapanya. Bersamaan dengan itu pintunya dibuka oleh Laila.


Doni pun langsung menyelonong masuk tanpa membuka helmnya terlebih dahulu.


" Don.... doni.,... kamu kenapa?" Laila merasa khawatir karena sikap aneh adiknya itu.


tok tok tok


"kamu kenapa sih dek....?" Laila sudah mengeluarkan air matanya sambil telapak tangan dan tubuhnya menempel di pintu kamar Doni.


"Aku baik-baik saja kak, sudah malam , tidurlah!", kata lelaki yang baru menginjak remaja itu.


"Apa kau bisa menyelesaikan masalah dengan cara menghindar seperti itu?" bentak Lukman dari ruang tamu yang kecil di kontrakan Laila sehingga membuat suaranya menggema.


Laila terisak sambil memukul-mukul pintu menggunakan telapak tangannya.

__ADS_1


Akhirnya Doni keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke ruang tamu yang jaraknya hanya beberapa langkah melewati kakaknya begitu saja. Ia menundukkan wajahnya tak berani melihat Lukman.


"Wajah kamu kenapa?" Laila mengikutinya dengan rasa khawatir sedangkan adiknya hanya diam saja.


Saat Doni sudah sampai di ruang tamu ia hanya menundukkan kepalanya tak berani mendekati Lukman.


" Untuk apa berdiri di situ terus? duduk sini!" perintah Lukman ketus.


" Ambilkan air di baskom sama handuk kecil!" kali ini ia menyuruh Laila tanpa menyebut namanya apalagi melihat wajahnya. Dan Laila pun tahu kemudian segera bergegas ke belakang mengambil apa yang diminta oleh lukman.


Lukman membersihkan luka di wajah dan lengan Doni tanpa mengatakan apa-apa. ia memutar wajah Doni kekanan dan kekiri membersihkannya layaknya seorang kakak kepada adiknya. kemudian mengambil salep yang ada di dalam saku celananya yang dia beli saat di jalan tadi dan mengoleskannya pada luka-luka yang ada di wajah dan lengan Doni.


" Kau seorang lelaki jangan pernah menghindari masalah. Hadapi masalahmu seberat apapun itu. Kalau kau merasa tak mampu mintalah tolong pada orang yang kau percayai. Itulah gunanya manusia, saling tolong menolong dalam kebaikan. Dan satu lagi kalau kau berkelahi jangan pulang dengan membawa luka . Itu hanya akan membuat kakakmu khawatir saja"


"Lalu aku harus bagaimana, mereka sangat banyak bang?"


"Tentu saja kau harus menang!" kata Lukman kemudian menaruh salep di meja yang ada depan Laila," bersihkan kakimu lalu pakai salep ini!" katanya tanpa melihat Laila yang posisinya berseberangan dengannya.


"Kakak kenapa bang?" tanya Doni sambil menatap Lukman


" Kakak kenapa kak?" tanya Doni kemudian karena tak mendapatkan jawaban dari Lukman.


Laila menggelengkan kepalanya karena tak tahu maksud Lukman apa.


"Tumitmu!" kata Lukman sambil beranjak keluar.

__ADS_1


"Hubungi aku kalau kalian butuh sesuatu!" katanya sambil keluar dari rumah itu.


__ADS_2