Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
rahasia


__ADS_3

Ani


"Barangkali ada yang ingin ditanyakan lagi Bu dokter?"


Aku berpikir lagi apa yang harus kutanyakan lagi karena sepertinya semua sudah kujelaskan dan sudah kami konfirmasikan bersama. Sepertinya tidak ada lagi yang ingin kutanyakan. Semua sudah jelas. Aku sudah menuliskan semua tentang biografi ku.


Aku juga sudah membaca tulisannya. Sekarang aku tahu jika ayah ustadz Zein ternyata masih hidup tapi kedua orang tuanya berpisah sejak ia masih SMA. Bu jannah dan ustadz Zein memutuskan untuk menerima tawaran dari ustadz Salim untuk mengajar dan membantu operasional pondok.


"Ehm... itu... anu saya.... saya sebenarnya... ......" Aku bingung untuk lanjut bicara atau tidak. Tidak tahu apakah ini harus di katakan juga atau tidak.


"Kenapa bu Dokter....?" Tanya istri ustadz Salim dengan lembut.


"Sa-saya sebenarnya tidak bisa minum obat..."


"uhuk....uhuk....uhukkkk" Ustadz zein tiba-tiba terbatuk-batuk mendengar kejujuranku. Pasti mereka menertawakan aku dalam hatinya sekarang. Seorang dokter yang meresepkan obat-obatan kepada pasien tetapi dirinya sendiri tidak bisa minum obat.


Aku malu sekali. huhuhu rasanya aku masuk ke dalam laut agar tak melihat wajah mereka yang sedang menahan tawa.


Bahkan istri ustadz Salim tak bisa menyembunyikan tawanya. Beliau berusaha menutupi bibirnya tapi tak ayal keluar juga suaranya. Malunya diriku.... Oh my God.


" Sudah..... sudah.... umi ini gimana sih?!" ustadz Salim menepuk punggung istrinya agar berhenti tertawa.


"Tunggu sebentar bi. Maaf dokter.... sampai perut saya sakit. Aduh... Itu Bu dokter kalau ngasih resep ke pasien itu kan biasanya dokternya kan bilang ini diminum tiga kali sehari ya pak bu.... Biasanya kan begitu. Itu gimana dokter? Maaf sebelumnya bu dokter ..... saya cuma penasaran saja..."


"Nggak usah dijawab bu dokter! Istri saya ini memang suka bergurau..." kata ustadz Salim.

__ADS_1


"Nggak papa kok ustdaz. Itu ustadzah... biasanya saya lihat raut mukanya. Kalau biasa saja berarti dia bisa minum obat kalau wajahnya berubah saya akan bertanya ," kalau kesulitan minum obat bisa saya resepkan sirup. Kalau pasiennya matanya berbinar berarti dia seperti saya tidak bisa minum obat. Selama ini saya hanya menemui pasien yang punya kelainan seperti saya hanya beberapa saja ustadzah. Bisa dihitung jari ."


"Apakah itu bisa disebut sebagai fobia bu dokter?"


"Iya bisa dikategorikan seperti itu ustadzah. Fobia adalah ketakutan atau kecemasan terhadap sesuatu atau kondisi tertentu. Penderita fobia biasanya akan berusaha untuk menghindari situasi dan objek yang dapat memicu ketakutan, atau berusaha menghadapinya sambil menahan rasa takut dan cemas."


Semuanya manggut-manggut mendengar penjelasanku.


"Ini malah melenceng dari pembahasan ya... hahaha...." melihat tawanya ustadz Salim ternyata semenyenangkan itu ya. Tawanya orang biasa sama orang alim itu ternyata memang beda.


"Mohon maaf ustadz.... Itu adalah salah satu rahasia saya dan hanya beberapa orang yang tahu tentang hal itu. Saya tidak ingin menyembunyikannya."


"Iya iya.... saya faham. Bagaimana ustadz Zein? apakah ustadz keberatan?"


"Saya sama sekali tidak masalah dengan hal itu." jawab ustadz Zein sambil mencuri pandang kepadaku.


"Jika kedua belah pihak sudah setuju silahkan dimusyawarahkan dulu dengan keluarganya masing-masing. Apakah ini bisa dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius atau tidak. Bagaimana jika satu minggu lagi kita berkumpul kembali untuk membicarakan kejelasannya" pungkas ustadz Salim.


Siang itu aku dan bu Jannah makan siang di tempat ku. Kebetulan sepi tidak ada pasien sehingga kami bisa ngobrol dengan leluasa. Orang-orang disini memang sehat-sehat


tok tok tok....


"assalamualaikum...."


"waalaikumsalam warahmatullah..." kami melihat ustdaz zein ada di ambang pintu.

__ADS_1


" Bu.... saya mau bicara dengan dokter Ani sebentar...."


Bu Jannah menganggukkan kepalanya kemudian berdiri sambil membereskan piring dan gelas kami.


"Biar nanti saya yang bereskaan bu..."


"Sudah biar tak bawa ke belakang. Kalian ngobrol aja dulu...!"


Suasana tiba-tiba hening ketika kami hanya berduaan di tempat itu.


"Silahkan duduk ustadz!"


" Terima kasih. Saya ingin menunjukkan sesuatu pada dokter..."


Aku mengernyitkan kedua alisku, menunjukkan apa ya? aku jadi penasaran dan berdebar-debar menunggunya.


Ia memunggungiku kemudian kedua tangannya seperti sedang membuka kancing bajunya. Aku masih menunggu meski agak takut sesuatu yang buruk terjadi. Aku yakin dia bukan orang yang mesum. Tanganku saling meremas karena terlalu deg-degan.


Ustadz Zein melepaskan kemejanya dan nampak pundaknya yang putih membuatku darahku berdesir. Jantungku seakan-akan ingin melompat karena saking kagetnya.


Ia kemudian berbalik dan aku melihat tato di lengan kiri dan perut nya. Seperti sebuah nama tapi bentuknya abstrak. Aku menatapnya. dengan seksama. Ingin sekali aku mendekat dan melihat dengan jelas sebenarnya gambar apa yang menutupi sebagian kulit tubuhnya itu tapi aku sadar hal itu belum diperbolehkan. Maka aku hanya menatapnya dengan penuh kejelian aku bahkan lupa dengan dada nya yang putih, fokusku hanya pada gambar tatonya saja.


"Aku membuat ini saat lulus SMA. Aku yang sedang galau dengan perceraian orang tuaku membuatku bergaul dengan mereka dan akhirnya aku melakukan hal-hal yang merugikan hidupku sendiri. Aku menyesali semuanya."


Tak sadar mulutku terbuka saat mendengar penuturannya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin menutupi sesuatu dari anda dokter. Aku tidak ingin ketika kita menikah nanti anda akan terkejut dengan hal ini dan merasa jika saya telah menipu anda."


Aku menghirup udara sebanyak mungkin, aku tidak keberatan justru aku merasa berterima kasih karena dia telah jujur padaku.


__ADS_2