
Ani keluar dengan menggunakan jaket Hoodie dan menutupi wajahnya dengan masker agar tak dikenali orang-orang. Setelah melompat dari jendela ia celingak celinguk memastikan keadaan aman terkendali. Barulah dia berlari mencari posisi mobil milik dokter Ibrahim.
Mobil BMW berwarna hitam yang sering dipakai wira-wiri oleh adik iparnya itu sudah standby di depan gerbang rumahnya. Kebetulan para pria sedang berada di masjid untuk melaksanakan solat Isya' dan para wanita sedang sibuk di dapur. Itu semakin memuluskan rencananya. Tidak ada orang yang melihatnya dan sudah pasti tak ada yang mengadu pada abangnya.
Ia langsung masuk ke kursi penumpang dan duduk di sana sambil menstabilkan nafasnya. Tanpa dikomando dokter Ibrahim langsung menjalankan mobilnya membuat Ani bernafas dengan lega.
Di kursi depan dokter Ibrahim dan Karina duduk dengan tenang dan sesuatu terbersit dalam benaknya. Apakah adik iparnya itu sudah solat Isyak atau belum karena orang-orang baru saja melaksanakan solat isya' berjamaah. Akan tetapi dihalaunya pikiran negatif yang bersarang dalam otaknya. Mungkin saja mereka solat Isyak berjamaah berdua, pikirnya.
Beberapa saat waktu berjalan ketiga orang itu hanya saling diam dalam pikiran masing-masing. Ani sedikit merasa heran karena Rina dan suaminya tak tampak seperti orang yang baru menikah yang asyik bercanda memamerkan kemesraan bersama tak tahu tempat untuk memadu kasih seolah-olah bumi hanya milik mereka, sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.
Rina adalah pribadi yang ceria dan apa adanya. Dia gadis yang terlalu polos. Bahkan.kesehariannya ia tak pernah memakai make up sama sekali. Biasanya setelah mandi dia hanya menaburkan bedak bayi pada wajahnya. Tidak pakai lip balm apalagi pemerah pipi atau mata. Wajahnya manis alami dengan perawakannya yang kecil mungil membuat wajahnya terlihat lebih muda dari usianya seperti remaja.
Sedangkan dokter Ibrahim yang sering dipanggil dokter Ibra oleh teman-teman sejawatnya adalah orang yang pendiam tapi ekspresif. Biasanya para awak rumah sakit bisa mendengarkan suaranya dengan leluasa saat akan melaksanakan operasi atau saat rapat dan briefing.
Akhirnya Ani memulai percakapan untuk mengurangi kecanggungan.
"Kamu nggak mabok Rin?" Tanya Ani.
"Nggak" jawabnya singkat.
Ani mengernyitkan keningnya merasa heran. Bukankah baru saja saat mereka di kamar Rina bertingkah seperti biasa. Ceria dan bawel yang menjadi ciri khasnya.
"Kok bisa ya...? Padahal dulu kamu selalu mabuk kalau pakai mobil selain punya ayah dan abang" Kata Ani lagi.
"Cuma pakai mobil ini dia nggak mabok dokter... Kalau mobil di rumah yang lainnya dia masih kayak mual-mual gitu.." Jelas suami Karina.
"Ooh... Pantesan kalau ke rumah sekarang selalu pakai si hitam ini..." Kata Ani sambil menganggukkan kepalanya.
Rina selalu mabuk kendaraan saat ia bepergian jika memakai mobil orang lain. Jadi selama ini pergi kemana saja dia hanya bisa duduk nyaman jika menggunakan mobil bang Alif dan pak Dirman.
"Panggilan kesayangan Rina ke dokter itu apa dok?" Tanya Ani kepo.
Bola mata Rina seakan ingin melompat keluar mendengar pertanyaan kakaknya.
"Koko.... iya kan istriku?" Jawab dokter Ibrahim disertai lirikan mata sipitnya seolah sedang merayu dan itu membuat sang istri tersipu, wajahnya memerah karena malu.
"Eh.... I-iya!" Jawab karina terbata.
__ADS_1
'Ada apa dengan mereka berdua? sedang marahan kah?' Mata Ani memicing bak pengamat sketsa wajah yang menganalisa gerak gerik yang tak biasa dari keduanya.
"Tadi aku dengarnya...." Ani ingin melanjutkan kalimatnya tapi terpotong teriakan Karina.
"Kakakkk!!!" Rina menoleh pada Ani sambil membelalakkan matanya.
Dokter Ibrahim memegang pipi istrinya dan mengarahkannya ke depan agar tak melihat kakaknya.
"Istri saya tadi memanggil saya dengan apa dokter?" Tanya dokter Ibrahim dengan menyunggingkan senyumnya dan ujung mata Karina yang menangkap hal itu menelan salivanya karena takut. Itu lebih menakutkan daripada seringaian serigala yang akan melahap mangsanya.
Ani jadi serba salah melihat raut muka adiknya yang ketakutan dan senyuman dokter Ibrahim yang terlihat seperti psikopat. Ia menyentuh tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin padahal lehernya tertutup jilbab dan jaket hoodie.
"Tadi istri saya memanggil saya bagaimana dokter?" dokter Ibrahim mengulangi pertanyaannya.
"I-itu saya hanya bercanda..." bohong Ani dan itu sudah pasti terbaca.
"Tenang saja dokter.... Istri saya tidak akan marah. Iya kan sayang?" Nada nya lemah lembut tapi itu membuat bulu kuduk istrinya meremang. Rina yang ketakutan menganggukkan kepala dengan cepat.
"Itu... dia bilangnya si... Baim..." Jawab Ani sambil menatap adiknya yang duduk di depan dan tak melihat padanya lagi. Ia merasa bersalah tapi ia juga tak mau di desak terus oleh adik iparnya yang tiba-tiba jadi menakutkan.
"Oh ya dokter, kenapa tidak ambil cuti? Bukankah dokter dapat cuti tiga hari?" Tanya Dokter Ibrahim memecah suasana tegang diantara mereka.
Ani dan Dokter Ibrahim memang belum terbiasa memanggil kakak atau adik meski sudah beberapa bulan mereka menjadi saudara ipar. Jadi sekarang mereka tetap dengan panggilan formal seperti dulu saat Ani masih bekerja di rumah sakit dan menjadi karyawannya.
"Saya ambil cutinya mulai besok biar agak lama di rumah mertua" Jawab Ani agak lega karena dokter Ibrahim kembali seperti biasanya tidak menakutkan seperti tadi.
Karina memberikan tas Ani yang sedari tadi dibawanya karena ponsel di dalamnya berdering.
Dengan cekatan Ani membuka tasnya dan mengambil gawainya karena tahu itu nada dering yang khusus dipakainya untuk sang kekasih.
"Assalamualaikum mas..." Ani tersenyum simpul mendapati telpon dari Zainal.
"Waalaikumsalam warahmatullah... sudah di rumah sakit?" Tanyanya pria tampan dan manis itu penuh kelembutan.
Pertemuan terakhir mereka adalah di rumah sakit saat hari pertama Ani bekerja, tanpa bertegur sapa karena di warnai praduga dari sisi sang pria dan rasa bersalah dari sisi wanitanya. Jadi beberapa hari ini mereka intens melakukan komunikasi via telepon saja.
Tak ada lagi yang disembunyikan oleh Ani dari pria penyuka olah raga lari itu. Semua hal ia diskusikan dengannya termasuk dia yang hari ini masuk kerja shift malam dan mengambil cutinya mulai besok dan dua hari ke depan.
__ADS_1
"Ini masih di jalan..." Jawab Ani riang sambil memperhatikan tangannya yang sudah dipenuhi hena. Sebenarnya dia juga enggan berangkat ke tempat kerjanya karena perawatan yang dilakukannya sedari pagi hingga petang seolah tak ada gunanya sekarang.
"Diantar siapa?" Tanya pria yang di seberang.
" Rina sama suaminya..."
"Bilang sama dek Baim hati-hati bawa mobilnya...!"
"Ish... kamu apaan sih mas. Nggak mau..." Katanya ketus.
"Dia kan sebentar lagi akan jadi adik iparku...." Kata Zainal semangat.
"Mulai deh anehnya...." Jawab Ani sewot.
"Bhuahhhahah..... Aku akan menggodanya nanti. Umurnya boleh lebih tua dariku tapi statusnya akan menjadi adikku..... Ahhhaha ini menyenangkan sekali...." Tawanya menggema di telinga sang gadis.
"Astaghfirullahaladzim... istighfar mas...! Awas kuwalat sama orang yang lebih tua lho!"
"Emang kenyataan nya seperti itu Di...."
"Aku tutup nih kalau ngomongnya nggak penting begitu..." Ancam Ani karena merasa calon suaminya bertingkah aneh sekali.
"Jangan dong... aku mau tanya hal penting ini. Aku mau bercukur... kamu setuju nggak?"
"Eh ...a-apa?" Tiba-tiba Ani jadi gugup mendengar pertanyaan Zainal.
"Aku mau mencukur kumis dan jenggotku. Boleh nggak?"
"Ke-kenapa tanya aku?" Ani jadi merasa salah tingkah padahal Zainal hanya bertanya hal yang biasa saja tapi pikiran Ani yang polos malah membayangkan kalau dia sudah jadi istrinya sampai harus mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan tubuh Zainal.
"Kamu sukanya aku klimis atau brewokan?" Tanya Zainal menuntut jawaban.
"Bisa chattingan saja nggak?" Tanya Ani dengan pipi yang bersemu karena malu.
***********************
Tinggal beberapa bab lagi, End. Terima kasih para pembaca semua...!
__ADS_1