
"Aku harus gimana mas?" Suara gadis cantik dengan tinggi semampai itu terdengar seperti sedang menahan menangis.
"Ya sudah aku yang akan bicara pada abang. Tapi janji dulu, kedepannya kita akan saling terbuka. Jangan menyembunyikan sesuatu dariku."
"Maaf..." cicitnya.
"Apa kau tadi tidak melihatku, saat aku berhenti di belakang mobil tadi?" Tanya Zainal ingin melampiaskan kekesalan.
"Ja-jadi mas tadi melihatku?" Suara Ani terdengar panik.
"Hem. Mulanya aku tak yakin tapi waktu di parkiran aku melihat gerik-gerik seorang gadis yang mencurigakan dan aku juga melihat ada motor kesayanganmu di sana." Katanya jelas dan lugas.
"Ja-jadi mas tadi hanya pura-pura saja?"
"Aki ingin tahu apa calon istriku akan turun dan menyapaku atau tidak... Ternyata dia cuma melewatiku begitu saja. Sungguh diriku merana...."
" Maaf...! Aku benar-benar bingung tadi. Jangan marah ya mass! Kalau mas marah aku tidak tahu sekarang aku harus bagaimana?" Ia pun mulai terisak pelan.
Zainal menyunggingkan senyum karena menghirup kebahagiaan yang merebak manis di udara. Ia merasa menjadi lelaki yang di butuhkan juga dijadikan sebagai tempat bersandar oleh calon istrinya.
"Kalau kau mengulanginya lagi aku tidak akan memaafkanmu Di..." Jelas Zainal
"Makasih mas...." Ucapnya tulus. I love you batinnya.
Setelah panggilan telpon di sudahi pria itu menggulung lengan kemejanya sampai siku. Ia kemudian mencoba menelpon calon kakak iparnya. Semoga diangkat karena matahari sudah hendak beranjak menuju peraduan itu pertanda waktu Maghrib sebentar lagi akan datang.
Suara salam khas dari bang Alif yang selalu menentramkan telinga dan pendengaran siapa saja yang mendengarnya membuat Zainal tersenyum di kulum sebelum akhirnya menjawab salam sang calon abang ipar.
"Ada apa Zein?" Tanya bang Alif lembut seperti biasanya.
__ADS_1
"Ani tadi katanya kerja ya bang?"
"Kamu sudah tahu?"
"Iya.... dia baru saja nelpon aku. Dua orang dokter di rumah sakit itu tidak bisa bekerja. Yang satu cuti melahirkan yang satunya lagi kecelakaan. Ini juga untuk menolong banyak orang kan? Demi kemanusiaan. Jadi ya gimana lagi....
Abang jangan marahi dia ya bang, soalnya tadi dia sudah nangis karena kumarahi..."
"Ani... Ani...." helaan nafas bang Alif terasa berat kenapa justru menjelang hari pernikahan adiknya justru berulah.
"Kenapa ya bang? Dulu pertama kali melihatnya aku langsung jatuh cinta. Bahkan saat keadaan tak berpihak pada kami dan kami harus berpisah aku tak bisa bisa berpindah ke lain hati. Seberapa kuat pun aku memaksa untuk menyukai gadis lainnya nyata nya aku tak bisa. Tapi ini kenapa semakin dekat dengan hari H kami jadi sering salah paham, kami jadi sering berdebat. Ini kenapa ya bang?" Jika orang lain segan untuk membicarakan pasangan pada kakak kandungnya beda dengan Zainal, dia malah memaparkan semua hal untuk mendapat nasehat dan petuah.
"Kalau belum menikah terus jatuh cinta ya wajarlah kalau sakit dan berdarah-darah. Namanya juga jatuh. Orang yang jatuh itu sakit kan Zein? Tapi kalau sudah menikah bukan lagi jatuh cinta namanya tapi harus membangun cinta. Entah bagaimana awalnya pernikahan itu terjadi keduanya sama-sama punya kewajiban untuk membangun cinta diantara mereka. Namanya orang bangun pasti malas kan Zein? Bergelung dengan bantal guling dan selimut itu lebih menyenangkan bukan? Tapi tidak mungkin jika kita terus tidur dan tidak mau bangun."
Zainal seperti biasa selalu tertegun saat mendengar kata-kata bang Alif yang mampu menyihirnya. Membuatnya diam setuju dengan apapun yang diutarakan nya.
"Kamu tahu Zein, Siti Fatimah dan Sayyidina Ali itu saling menyimpan rasa cinta sejak mereka belum menikah. Keduanya mampu menyembunyikannya tak saling mengutarakan. Dan Nabi yang mulia tahu akan hal itu. Maka ketika Abu bakar datang untuk meminang Siti Fatimah beliau menolaknya. Kemudian Sayyidina Umar juga datang untuk meminang Siti Fatimah dan lagi-lagi Rosululloh menolaknya.
Ali muda yang sedang diliputi kebimbangan di provokasi oleh sahabat-sahabat Anshor agar segera datang pada Nabi dan meminang pujaan hatinya.
Tapi sayyidina Ali tidak percaya diri karena dua orang paling utama di antara mereka saja di tolak apalagi dirinya yang tak punya apa-apa.
Juga kedua menantu Nabi yakni Abu al ash dan Ustman bin affan adalah orang-orang terkemuka kaum Quraish yang baik hatinya dan kaya raya. Siapalah dirinya jika dibandingkan dengan keduanya. Pemuda miskin yang tak punya apa-apa.
Sahabat-sahabat Anshor mengatakan, "Wahai Ali... kami yakin engkaulah yang ditunggu Nabi.."
Karena tak sanggup menahan degup jantung yang menggila karena rasa cinta dalam hatinya ia pun memberanikan diri untuk datang pada Nabi dan menyampaikan lamarannya.
"Ahlan wa sahlan ya Ali..." jawab Rosululloh.
__ADS_1
Sayyidina Ali kemudian meninggalkan majelis dengan raut muka sedih dan bingung.
Sahabat-sahabat Anshor yang sudah menunggunya langsung menyerbu dengan berbagai pertanyaan.
"Bagaimana ya Ali?"
"Entahlah. Rosululloh hanya mengatakan marhaban ya Ali.."
"Itu artinya engkau diterima wahai Ali"
"Benarkah?"
"Begitulah cara kami saat menyetujui". Jawab mereka antusias dan ikut berbahagia untuk Ali.
Tak ayal kebahagiaan menyeruak memenuhi ruang kalbu Sayidina Ali. Mimpinya bersanding dengan pujaan hatinya akan segera terwujud.
Akhirnya mereka berdua dinikahkan oleh Rosul saw dan mengarungi bahtera pernikahan dengan berbagai problematikanya.
Kehidupan mereka sangatlah jauh dari kata berkecukupan sehingga Siti Fatimah pernah mengadu pada Nabi tentang pekerjaannya sebagai seorang istri yang cukup melelahkan.
Ayah yang bijaksana itu selalu memberi penghiburan dan semangat dengan menjabarkan begitu banyak pahala yang diperoleh seorang istri jika ikhlas dalam membantu pekerjaan suami.
Meskipun keduanya saling mencintai tapi biduk rumah tangganya juga tak luput dari pertengkaran seperti rumah tangga lain pada umumnya. Nabi sering terlihat tergopoh-gopoh sambil mengangkat kainnya pergi ke rumah putrinya dengan wajah murung dan cemas dan sekembalinya dari sana wajah beliau bersinar terang kembali.
Ketika para sahabat yang mulia bertanya tentang apa yang sedang terjadi beliau pun menjelaskan," Apa yang menahanku dari kebahagiaan, jika aku dapat mendamaikan kedua orang yang aku sayang".
Bahkan Sayyidina Ali mendapatkan panggilan Abu turob dari Rosululloh karena beliau pernah memergoki menantunya itu tertidur di atas tanah saat istrinya Fatimah marah dan tidak kunjung membukakan pintu rumah untuknya.
Kamu akan menjadi imam untuk istri dan anak-anakmu. Pertebal iman mu juga telingamu dengan tetap meminta pertolongan Alloh. Jika niat kita saat menikah itu benar-benar lillahi taala insya Allah, Alloh akan senantiasa menolong kita".
__ADS_1
Bacaan ayat-ayat Al-Qur'an yang mengalun merdu sampai di telinga Zainal sebelum akhirnya bang Alif memutuskan sambungan karena hendak bersiap-siap pergi ke masjid untuk shalat Maghrib.
Zainal berdoa semoga ketika hari H nya nanti Ani bisa hadir menyaksikannya mengucapkan ijab kobul.