
Ning nong Ning glung Ning nong Ning glung Ning nong Ning glung..., seperti itulah
Musik yang mengiringi pertemuan pengantin dengan adat jawa. biasanya menggunakan gamelan Jawa tapi kini atas permintaan keluarga maka diganti dengan pembacaan solawat badar dan iringan terbangan oleh grup banjari
kak Lala digandeng oleh ayah dan kak Mia berjalan beberapa langkah untuk dipertemukan dengan bang lukman. Aku dan Karina membawa kembar Mayang yang berjalan di depannya.
"Ya Nabi... sala...m alaika
ya rosu..l salam alaika
ya habib sala..m alaika
solawa..tulloh alaika.....
Bang Lukman yang diapit oleh bang Alif dan pak RT berjalan mendekat ke arah kami yang sedang diam berdiri menunggu kedatangannya. Di belakang mereka ada Doni dan seorang temannya yang juga membawa kembar mayang kemudian ada rombongan pengiring mempelai pria yakni para tetangga kak lala .
Aku dan Rina kemudian bertukar kembar Mayang dengan pembawa kembar Mayang dari pihak lelaki kemudian kami berbaur dengan pengiring pengantin pria.
__ADS_1
Setelah bang Lukman cukup dekat dengan kak Lala kemudian kak Lala dan bang lukman bergantian melempar Gantal. Gantal dibuat dari daun sirih yang diisi dengan bunga pisang, kapur sirih, gambir dan tembakau hitam. ini melambangkan kedua mempelai saling melempar kasih sayang.
Keduanya kemudian dituntun untuk lebih mendekat. Kak Lala kemudian mencium tangan bang Lukman dan setelahnya bang Lukman mencium tangan ayah. Melihat hal itu aku menitikkan air mata tapi kucoba sekuat mungkin untuk tidak mengeluarkannya karena itu akan merusak make up ku. Ternyata Karina malah lebih parah dariku. Ia menangis mewek-mewek. Tangannya menyeka air matanya dengan tisu dan tangan satunya membawa kembar Mayang. Make up nya jadi rusak dan mukanya terlihat sedikit cemong.
Lantunan solawat masih terus mengiringi prosesi acara yang sedang berlangsung. kak lala kemudian diarahkan untuk membasuh kaki bang Lukman tiga kali. prosesi ini disebut Wijikan atau dikenal juga sebagai ranupada. Ranu berarti air dan pada berarti kaki.
Ritual ini dilakukan oleh pengantin wanita yang menyirami kaki mempelai pria sebanyak tiga kali. Prosesi ini mencerminkan wujud bakti istri kepada suami, serta menghilangkan halangan untuk menuju rumah tangga yang bahagia.
Setelah itu ayah membalut Kak Lala dan bang Lukman dengan kain Sindur dan dibawa menuju ke pelaminan. Biasanya itu dilakukan oleh ayah mempelai putri tapi karena kak Lala yatim piatu maka ayahlah yang menggantikannya.
Kain sindur biasanya berwarna merah dan putih diharapkan akan memberikan keberanian bagi kedua pengantin agar menjalani pernikahan mereka dengan semangat dan bergairah dengan hati yang suci.
prosesi selanjutnya adalah kacar kucur, dimana bang lukman mengucurkan uang receh serta biji-bijian kepada Kak Lala menadahinya dengan kain jarik. ini sebagai lambang bahwa sang pria akan bertanggung jawab menafkahi keluarganya, serta menjadi tanggung jawab istri untuk mengelolanya.
Kameramen terus menyorot pergerakan pengantin dan mengabadikan semuanya dalam lensa untuk menjadi momen indah yang tak terlupa.
Bang Lukman kemudian menyuapi kak Lala dan sebaliknya kak Lala juga menyuapi bang Lukman dari piring dan sendok yang sama. Makna dari prosesi ini adalah suami istri akan bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga dengan merasakan suka dan duka bersama.
__ADS_1
Semua hadirin melongo tak percaya karena prosesi Dulangan itu biasanya hanya dilakukan sekali untuk diambil gambarnya tapi bang lukman tanpa rasa malu malah menghabiskan makanan yang ada di piring sehingga membuat pembawa acara tidak segera memulai acaranya karena pengantin pria terlihat kelaparan.
"Mas.... ....."kak Lala nampak menoel-noel baju abang. Aku dan Rina yang baru saja menangis kini jadi malu sendiri. Du...h si Abang.... kayak belum makan seminggu. nanti kan bisa.... gerutu rina
Akhirnya acara pun dimulai setelah bang Lukman selesai makan diatas pelaminan. Pembukaan, pembacaan ayat suci Alquran, sambutan dari mempelai laki-laki yang diwakili oleh pak RT nya kak Lala dan sambutan dari mempelai putri yang diwakili oleh bang Alif.
Momen yang selalu kusuka. Mendengarkan kata demi kata dari bang Alif, serasa mendengarkan petuah dari Abi. Bagaimana cara berdirinya, caranya mengucap salam.. Bang Alif sangat mirip dengan Abi.
"Pernikahan bukanlah siapa yang paling ditakuti dia yang menang atau yang lebih berkuasa" Karena pikiran ku aku tidak tahu jika bang Alif sudah masuk ke pembahasan inti pernikahan.
"Pernikahan adalah ajang untuk berlomba menjadi yang lebih baik di mata Allah. Sebagai seorang istri harus taat pada suami selagi itu bukan untuk maksiat, berusaha menjadi istri yang baik dan menyenangkan suami. Berdandan secantik mungkin saat suami dirumah.bukan berdandan saat akan keluar rumah. Menyambut suami dengan gembira saat ia pulang kerja dan hal itu akan menghilangkan segala lelah yang mendera tubuhnya. Istri juga akan menjadi obat penawar bagi suami karena berbagai cobaan dan pandangan yang haram untuk nya
Sebagai suami juga tidak boleh sewenang-wenang. Tidak boleh Mentang-mentang sebagai kepala rumah tangga kemudian bertindak sesukanya. Sayyidina Umar bin Khattab adalah seorang pribadi yang keras dan tegas tetapi meskipun begitu saat beliau berhadapan dengan istrinya beliau akan menjadi pribadi yang mengalah. Saat istrinya marah dan meluapkan emosi dengan suara yang keras beliau dengan sabar mendengarkannya. sama sekali tak membalas perkataan istrinya yang sedang dipenuhi oleh emosi tinggi.
Saya sedang mengingatkan diri saya sendiri yang sering lupa akan kewajiban saya dan semoga ap yang saya sampaikan bisa bermanfaat untuk semua yang hadir disini.
kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya
__ADS_1
wa billahi taufik wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"