Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
posesif


__ADS_3

" Tujuh ratus? Itu nggak relevan Di.... Aku tidak semiskin itu juga. Pokoknya aku yang tentuin maharnya..."


"Mas!! Nggak bisa begitu dong....! Mahar itu terserah wanitanya kan? Kenapa jadi mas Zein yang ngotot sih...?"


"Orang akan bilang apa kalau aku yang punya supermarket terbaik di kota ini hanya memberikan mahar tujuh ratus ribu untuk mempelai wanitanya?!"


"Yang akan menikah itu kita. Kenapa harus memperdulikan omongan orang?"


"Kita ini makhluk sosial Di... Kita tidak mungkin hidup tanpa bantuan orang lain."


"Semua orang juga tahu itu mas...!. Kita memang harus bersosialisasi dan hidup dengan orang lain. Bahkan saat kita meninggal pun kita butuh bantuan orang lain. Tapi ini konsepnya berbeda. Ini tentang pernikahan kita kenapa harus menyangkut pautkannya dengan omongan orang?"


"Di, kenapa bahasannya harus kemana-kemana?"


"Mas dulu yang mulai kan?".


"Aku kan hanya ingin menambahkan nominal mahar. Apanya yang salah?"


"Terserahlah mas...". Ani sudah di puncak kemarahannya dan dia langsung mematikan telponnya tanpa salam dan pemberitahuan.


Tut tut tut....


Zainal yang sedang ada di seberang melihat layar ponselnya dengan kesal. Mereka berdua terlibat percekcokan karena membahas mahar pernikahan.


Zainal memijit keningnya. Ia pusing dengan keadaan yang kini menderanya. Kenapa mereka berdua yang notabene jarang sekali berselisih paham kini malah bisa bertengkar hebat dan dua-duanya tidak ada yang mau mengalah. Tersulut emosi dan kekeh untuk mempertahankan pendapatnya sendiri-sendiri.


Entah kenapa egois itu justru hadir saat hari pernikahan semakin dekat.


Tring


Sebuah pesan masuk ke aplikasi hijaunya Zainal dan ia langsung membukanya.


' Apa mas Zein pernah ingin menikah dengan gadis lain yang meminta mahar seperti itu? '


Zainal membelalakkan matanya karena terkejut dengan apa yang baru saja dibacanya. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Jari-jarinya kini bergerak dengan cepat untuk membalas pesan yang baru diterimanya.


' Asal kamu tahu ya Di,


setelah mengenalmu aku bahkan tidak pernah tertarik dengan gadis mana saja.


Padahal mama menyodorkan banyak gadis padaku.

__ADS_1


Tapi aku maunya cuma sama kamu.


Justru kamu yang bisa berpaling dariku dan menjalin hubungan dengan ustadz kesayangan kamu itu.'


Rentetan kata itu di tulis dan dikirimnya dengan cepat. Emosinya tersulut lagi. Merasa tidak dihargai dan dia merasa calon istrinya itu masih belum sepenuhnya melupakan sang mantan.


tring tring tring.


Ani balik menjawabnya dengan beberapa kalimat.


'Kenapa jadi bawa-bawa mas Zainuddin sih mas.


Dia itu sudah tidak di dunia ini lho


Kita juga sudah sepakat tidak akan membahasnya lagi'


Zainal malah merasa terpojok. Ia pun melampiaskan kekesalan yang didominasi rasa cemburu. Ia mengirim pesan balik.


'Kenapa memangnya?


Apa hatimu masih dag dig dug saat menyebut namanya Di...?'


Kini mereka tak ubahnya seperti dua anak kecil yang sama-sama tak mau mengalah. Tak seperti biasanya saat salah satu dari mereka ada yang marah maka yang lainnya akan mengalah.


Zainal mengacak rambutnya dengan kasar. Ia berjalan ke kamar mandi untuk mendinginkan kepala dan menyegarkan badannya. Ia berharap semoga setelah itu ia bisa berpikir jernih kembali.


Sementara itu di seberang lain ada seorang gadis yang baru saja mengirimkan pesan yang bernada kesal tapi tidak dibaca oleh si penerima. Ia yang sejak tadi uring-uringan kini malah semakin menjadi emosinya. Kalau saja boleh ia ingin makan orang sekarang.


Ani keluar dari kamarnya untuk mencari pengalihan. Kepalanya panas seperti mau meledak. Ia merasa heran pada dirinya sendiri kenapa akhir-akhir ini sangat mudah tersulut emosi jika bicara dengan si calon suami. Ia benar-benar tidak mau menurunkan egonya apalagi mau mengalah.


Dia merasa hanya ingin mahar 700 ribu saja kenapa calon suaminya itu malah memaksa akan menambahnya. Sebenarnya yang akan menerima mahar itu siapa?


Begitu keluar kamar ia melihat kakak iparnya baru selesai mengaji dan keponakannya sedang bermain di lantai. Ani duduk di sofa kemudian mencari posisi untuk menaruh kepalanya di pangkuan kak Mia.


"Kak.... kepalaku pusing....". Ia menghadapkan kepalanya pada Maryam yang sedang ada di bawah.


"Kenapa?". Kak Mia menaruh Al-Qur'an nya di meja kemudian tangannya memijat kepala adik iparnya. Memang ia sudah seperti seorang ibu untuk Ani dan Karina. Laila sering iri saat melihatnya, kadang ia juga ingin seperti itu tapi ia masih merasa segan.


"Ada apa sih calon pengantin? semua keperluan sudah di urus sama mertua, kan enak? Apa lagi yang dipikirin?". Kak Mia masih memijat kepala Ani yang tidak memakai kerudung.


"Au ah kak..", Ani mendesah berat.

__ADS_1


Meski usia Mia lebih muda tapi kedewasaannya dalam keluarga ini memang patut diacungi jempol. Ia selalu bisa menempatkan diri layaknya seorang ibu.


Apa mereka sesama saudara tidak pernah berselisih paham? Tentu saja sering dan Mia bisa diandalkan untuk hal-hal semacam itu. Ia mengenali karakter adik-adik iparnya dengan baik sehingga dia tahu apa yang harus dilakukan saat Ani marah, bagaimana pula dia harus bersikap saat Karina ngambek.


Berbanding terbalik saat ia berhadapan dengan suaminya, dia akan menjadi pribadi yang amat sangat manja. Terlebih setelah melahirkan dia bersikap posesif terhadap suaminya karena merasa tubuhnya sekarang sudah berbeda. Bang Alif tentu bisa menanganinya dengan bijaksana.


"Maryam....! Main apa sih? serius amat.....". Ani dan Kak Mia memperhatikan bayi gembul yang sepertinya sedang fokus melepaskan tutup botol minuman tapi belum bisa-bisa juga.


"Assalamualaikum...!". Suara Lukman membuyarkan fokus dua orang wanita itu.


"Waalaikumsalam warahmatullah...", jawab keduanya.


"Abang belum pulang kak?", tanya Lukman saat sudah berada di ruang tengah.


"Bentar lagi katanya, otw. Sudah selesai semua?", tanya kak Mia pada Lukman yang baru saja datang dari KUA untuk mengurus berkas-berkas pernikahan sang ayah. Sedangkan berkas-berkas untuk pernikahan Ani sudah di urus Zainal terlebih dulu.


"Sudah sih. Ribet banget tadi. Untungnya surat-surat ibu dibawa semua. Coba kalau masih di Jawa tengah. Mungkin nggak akan bisa nikah secepat ini. Lagian ngapain juga sih pake nikah lewat negara. Sudah berumur juga. Sirri aja kan nggak masalah.?" Lukman kesal karena seharian ini ia mengurus semuanya sendirian padahal pekerjaan nya amat banyak.


"Ssttt...!", Kak Mia menaruh telunjuk di bibirnya agar Lukman memelankan suaranya. Takut jika bu Jannah sampai mendengarnya.


"Tumben kakak nggak ikut abang...", Lukman berkata begitu sambil meninggalkan ruangan tengah dan berjalan ke rumahnya sendiri.


"Iya tumben kakak nggak ikut sama abang." Ani bicara sambil bermain dengan Maryam.


"Nggak enak sama ibu. Merepotkan ibu sama kamu terus...."


"Pas aku di rumah kakak ikut aja nggak papa...!"


"Nggak ah. Lagian aku disana juga nggak ngapa-ngapain."


Ani yang mendengar pengakuan kak Mia sedikit mengerutkan keningnya.


"Sebenarnya aku ikut itu karena aku takut abinya Maryam jadi ngelirik gadis lain.."


"Cemburu buta itu namanya kak...."


"Mas kan tambah tampan jadi pasti banyak cewek-cewek yang tergoda dan lihatlah tubuhku yang membengkak ini...!"


"Masa kakak tidak percaya sama abang?"


"Bukannya tidak percaya. Hanya saja..."

__ADS_1


__ADS_2