Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
pertemuan


__ADS_3

"Kami juga akan mengupayakan untuk memberi pengertian pada masyarakat disini untuk menerima kehadiran seorang dokter. Mereka masih sangat polos dokter...." Ustadz itu tersenyum tanpa menoleh pada Ani yang sudah berdiri tak jauh dari sampingnya.


Ani ikut tersenyum mendengar nada bicaranya. Yang ditangkap Ani dari kata polos adalah primitif. Mungkin masyarakat disini masih saja mengandalkan obat-obatan tradisional untuk mengobati segala penyakit yang mereka derita dan belum sepenuhnya percaya pada dunia medis.


Lagi-lagi Ani menghela nafasnya. Inginnya melarikan diri dan mendapatkan ketenangan di tempat ini tapi malah harus menghadapi hal yang bahkan tak pernah terlintas dipikirannya.


Bagaimana mungkin di zaman modern seperti sekarang ini masih saja ada masyarakat yang tidak percaya pada dokter.


Pak ustadz menoleh ke arah Ani yang terdengar menghela nafasnya. Buru-buru ia memalingkan mukanya karena ada makhluk indah didepannya yang sungguh sangat disukainya untuk dipandang berlama-lama. Tapi ia tahu diri dan tahu posisi karena itu ia mencoba menahan diri meski ada niat tersembunyi untuk mencuri pandang sesekali.


"ustadz Zein dicari sama ustadz Salim....."


deg


Dada Ani tercekat mendengar nama itu ditelinganya. Dia selalu berlagak tabah dan sudah move on padahal dari sudut hatinya yang terdalam terkadang terselip rasa rindu meski tak menggebu-gebu seperti dulu. Mereka berpisah bukan karena tak lagi saling mencintai atau ada yang berkhianat diantara keduanya. Mereka memutuskan berpisah karena orang tua yang tak merestui. Bahkan terkadang Ani berharap mendapat sekedar sebaris pesan dari Zainal.


Ia menoleh untuk memastikan zein yang dimaksud bukanlah zein yang meninggalkan jejak dihatinya.


Ustadz Zein dan Ani saling memandang hanya sepersekian detik saja kemudian mereka saling membuang muka untuk mengalihkan perhatian. Ani yakin jika orang yang dipanggil ustadz Zein tadi adalah orang yang baru saja ada disampingnya, yang kemarin menolongnya.


Ustadz zein yang memiliki nama Zainuddin itu segera berlalu dengan kebingungannya. Ia menangkap raut wajah Ani yang terlihat kaget saat mendengar namanya. Ia berspekulasi sendiri mungkin ia pernah punya hubungan dengan orang yang bernama Zein.

__ADS_1


'semoga saja tidak' harapnya


Mengapa ada lagi Zein disini? Maksud hati ingin pergi jauh dan melupakan nama tadi tapi ternyata yang didapatinya lain lagi.


Setelah sadar dari pikirannya yang seolah menyalahkan keadaan dia pun berjalan meninggalkan tempat itu.


Bu jannah tergopoh-gopoh menyusul Ani dari tempat Ani turun tadi. Ia baru ingat kalau tadi ia berniat berbelanja sayuran dan lauk dengan bu Jannah.


" Maaf bu.... sampai lupa tadi kalau berangkatnya sama ibu. Malah aku tinggalin...:"


"Iya nggak apa , mungkin insting seorang dokter , langsung lari begitu saja ketika ada yang terkena musibah"


" kita berangkat sekarang bu..!" Ajak Ani mengingat ia harus mengisi kulkasnya yang kosong melompong. Ia jadi ingat ternyata selama tidak pernah mengisi kulkas dirumahnya. Ia dan Karina hanya tahu ambil-ambil saja. Sesekali saja mereka berdua mengisinya dengan roti dan aneka camilan. Jadi selama ini yang mengurusi isi kulkas pastilah bang Alif dan kak Mia. Ia jadi rindu keluarganya.


Sekitar jam tujuh Ani sudah menyapu dan membersihkan ruangan prakteknya dan seluruh ruangan yang ada didalamnya. Ia belum tahu apa saja tugasnya disini. Rencananya ia akan ke kantor pondok pusat untuk menanyakannya karena ia berada di bawah naungan yayasan. Lokasinya tak jauh dari tempatnya.


Seseorang mengucapkan salam dan Ani segera menjawabnya kemudian keluar untuk menemui tamunya yang ternyata adalah ustadz Zein.


"Maaf mengganggu dokter..." katanya santun


"iya. Apa ada yang sakit?" Ani bertanya penasaran. Apa dihari pertama ia akan mendapatkan pasien?

__ADS_1


Pria itu malah menyipitkan matanya merasa aneh dengan pertanyaan Ani. Apa seorang dokter merasa senang ketika ada orang yang sakit, pikirnya.


Ani yang mendapatkan pandangan sinis seperti itu bertanya-tanya dalam hatinya.


'Apa ada yang salah dengan kata-kataku. Ada apa dengan lelaki ini. '


"Anda diminta untuk ikut rapat di kantor pondok nanti jam 9 sekaligus memperkenalkan dokter pada dewan asatidz nanti"


"Apa saya harus memakai kerudung...?"


"Tidak ada peraturan seperti itu dokter.."


"Tapi itu lingkungan pondok.... pasti tidak akan nyaman jika saya memperlihatkan aurat saya..."


"kalau begitu pakai kerudung saja bagaimana?"


"Tapi saya belum siap ustadz. Saya ingin memakainya saat sudah siap sepenuhnya jadi tidak pakai lepas pakai lepas"


Ustadz zein tersenyum mendengarkan obrolan mereka


"Terkadang berbuat baik itu perlu sedikit paksaan dokter. Tapi.....ikuti saja kata hati dokter. Saya permisi dokter...." Ustadz Zein keluar tanpa menunggu jawaban Ani sambil mengulum senyumnya yang indah menawan.

__ADS_1


__ADS_2