
Zainal memandang kedua rumah bergaya Belanda dihadapannya. Ia baru keluar dari masjid setelah solat Maghrib. Ia solat sendirian karena jamaah sudah bubar semua dan kini para remaja dan anak-anak sedang mengaji .
Ia mengambil kado yang sudah disiapkannya untuk putra bang Alif. Ia mengetahui kabar itu dari postingan status wa pak Dirman dan kebetulan juga ia ingin berkonsultasi dengan bang Alif tentang masalah zakat karena bulan puasa tinggal beberapa hari lagi.
Hanya beberapa bulan saja ia menjalin hubungan dengan Ani dan keluarganya tapi keakraban dan nuansa agama yang didapatkannya sungguh menancap dihatinya dan ia sering merindukannya. Seringkali ia ingin datang lagi ke rumah itu tapi tak mendapat alasan yang tepat untuk berkunjung.
Sebenarnya ada perasaan canggung karena setelah berpisah dari Ani ia tak pernah datang lagi tapi Zainal memantapkan hati bahwa ia datang untuk berkonsultasi. Membuang rasa malunya dan merancang kata untuk melunakkan hati bang Alif yang ia hormati.
Terselip keinginan dan selaksa doa bahwa bang Alif akan mengizinkan dia berhubungan lagi dengan Ani dan mendukungnya tapi ia juga meyiapkan hati seandainya bang Alif tetap pada keputusannya agar Zainal lebih menghormati orang tua. Ia berharap tetap di anggap sebagai teman sehingga bisa sesering mungkin datang dan bertukar cerita.
"assalamualaikum...."
Zainal mengetuk pintu yang terbuka dan ia melihat seperti akan ada perjamuan atau acara dirumah itu. Karpet telah digelar disepanjang ruang tamu. Aneka kue ditata sedemikian rupa ditengah-tengah. Meja kursi sudah tak terlihat di ruang tamu.
"waalaikumsalam warahmatullah....." jawaban yang selalu didengarnya dari penghuni rumah itu seperti biasanya. Itu menandakan jika para penghuninya orang yang faham agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka.
__ADS_1
-------?????------??????--------
Dalam perkara menjawab salam, Allah telah memerintahkan kita untuk membalas dengan lebih baik setidaknya sepadan, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an: Artinya :”Apabila engkau diberi penghormatan (salam) dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik dari padanya, atau balaslah (penghormatan itu dengan sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS. An-Nisa’: 86).
----------???????----------
"Zein...." Bang alif agak ragu apakah pria yang ada diruang tamunya itu Zainal atau bukan. Wajahnya dipenuhi bulu-bulu halus.
" Bang...." Zainal merasa canggung tapi ia yakin jika bang Alif tidak akan menolak kedatangannya apalagi sampai mengusirnya.
" Masuk Zein...." Bang Alif yakin jika pria didepannya adalah Zainal setelah mendengar suaranya. Zainal mengulurkan tangannya dan bang Alif menyambutnya.
"Alhamdulillah sehat Bang..." Zainal memberikan kado yang di bawanya kepada Bang Alif.
"Selamat ya bang.... atas kelahiran putrinya..."
__ADS_1
"terima kasih kenapa mesti repot-repot...."
kemudian mempersilahkan ia untuk duduk. Bang Alif mengawasi Zainal yang bisa duduk dengan nyaman diatas lantai yang hanya beralaskan karpet. Ia masih respect pada Zainal meskipun ia anak orang kaya tapi tak risih berkumpul dengan orang-orang dengan ekonomi yang biasa.
" Siapa namanya bang?"
"ehm... Nama putriku Maryam..."
"Maryam siapa?"
"Hanya Maryam saja"
"Tidak ada tambahan nya lagi? Alif atau apa gitu?" Zainal seperti biasa terkesan cerewet dan bawel.
" Iya... hanya Maryam saja. Aku berharap dia senantiasa dijaga kehormatannya oleh Alloh dan tabah atas segala ujian dan selalu menjadi orang yang bertakwa seperti. salah wanita mulia yang disebutkan dalam Al Qur'an"
__ADS_1
" Apa ada kaidah untuk memberi nama anak kita bang?"
"Tentu saja. Nama adalah doa orang tua untuk anaknya maka tentu saja harus nama yang baik. jika lelaki nama yang paling baik adalah yang ada asma Alloh nya atau ada nama Nabi. Misalnya Abdullah, Abdus somad, abdul Rokhim, atau Ahmad, Muhammad, Hamdan"