Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Zainal


__ADS_3

Aku sangat lelah hari ini. Meskipun keluarga bang Alif yang sekarang menjadi abang iparku tak berniat membuat pesta tapi nyatanya para tetangga juga para kenalan bang Alif datang untuk memberi selamat atas pernikahanku dengan Ani juga pada pak Dirman yang setelah ini akan aku panggil ayah juga.


Kenapa rasanya masih saja canggung saja padahal kami sudah berulang kali bertemu. Aku masih merasa malu saat ingat bagaimana dulu aku sering mengerjai ayah mertuaku dan menyuruhnya ini dan itu.


Aku merebahkan tubuhku yang masih berbalut jas dan kaos di atas kasur milik istriku yang saat ini sedang ada di kamar mandi.


Ya, sekarang aku sudah punya istri dan itu artinya sekarang tanggung jawabku bertambah dan lebih berat lagi.


Membawa diri sendiri saja rasanya sudah berat sekarang di tambah lagi dengan istri pastinya akan lebih ringan kan? Hehe.... Kalau dulu ada apa-apa mikirnya sendiri kalau sekarang kan bisa mikir sama-sama bisa musyawarah dan semuanya pastinya akan lebih indah.


Aku yang sedang memejamkan mata bisa merasakan kalau istriku sudah keluar dari kamar mandi dan sekarang pasti sedang berdiri di depanku karena mataku yang tertutup bisa merasakan cahaya yang sinarnya berkurang karena terhalang sesuatu dan itu sudah pasti istriku.


Sebenarnya aku sudah ingin tertawa karena tak tahan melihatnya yang memandangiku tanpa berkedip tapi aku semakin ingin tahu apa yang akan ia lakukan padaku.


Istriku itu duduk pelan-pelan di sampingku kemudian memijat lenganku. Rasanya seperti tersengat listrik beribu-ribu watt dan aku sudah tak tahan untuk berpura-pura lagi.


Aku mengerjapkan kelopak mataku dan ternyata aku mendapati ada bidadari yang sedang duduk dan tersenyum padaku.


Tak tahan lagi aku menariknya ke dalam pelukanku sehingga kini posisinya dia berada di atas dadaku.


Dug dug dug dug dug


Kami bisa saling merasakan debaran jantung diantara kami yang menggila seumpama kami ada di pintu surga dan ingin masuk ke dalamnya.


"M-mas...." Cicitnya sambil menggigit bibir bawahnya membuatku ingin merasakannya juga.


Aku tak sanggup lagi dan ku lahap saja bibirnya. Jangan tanya bagaimana jantung kami, tentu saja bertabuhan seperti genderang yang mau pergi berperang.


Setelah bibir kami yang saling menaut aku menggulingkan tubuhnya sehingga posisiku kini berada di atasnya. Pandangan matanya sayu seolah sudah memasrahkan jiwa raganya padaku.


"Din.... " Tatapan mata ku menangkap bathrobe yang dipakainya tersingkap dan terlihat kain hitam yang menutupi dadanya. Bentuknya memang tidak sampai meluber seperti artis-artis metroseksual tapi melihatnya yang sedikit mengintip itu saja tubuhku langsung meremang panas dingin tak karuan. Aku juga ingin bermain di sana.


"Mas.... tak ingin mandi?" Tanya bidadariku yang posisinya masih ada di bawahku.


Ah kenapa aku lupa. Harusnya aku mempersiapkan semuanya sebaik mungkin sebelum bertamu dan membuka pintunya.


Apalagi cantikku ini baunya juga sudah wangi. Kulitnya putih halus lagi. Rasanya hasratku sudah memuncak tapi aku menekannya sekuat mungkin agar kami bisa saling merasakan puncak nirwana dalam keadaan yang terbaik.

__ADS_1


"Kau merasakan sesuatu di bawah sana sayang?" Aku ingin menggodanya, ingin melihat reaksinya bagaimana.


"Eng- enggak aku nggak ngerasain apa-apa." Wajahnya bersemu merah. Cantik sekali.


Mendengar jawaban nya aku justru ingin mengerjainya. Ku tekan pinggulku agar pistolku lebih menancap pada tubuhnya.


" Mmmass.... jangan begitu...!" Aku benar-benar gemas melihat tingkah nya tapi aku juga tidak boleh egois jika langsung menerkamnya sementara badanku masih lengket dan bau.


" Sayang... kau tahu ereksi itu apa?" Tanya ku lagi.


"Enggak. Aku masih kecil nggak tahu apa-apa" Ia memalingkan mukanya menghadap ke samping.


"Baiklah anak keciii...l Sebentar lagi kakandamu akan mengajarimu banyak hal yang belum kamu tahu..."


Cup


Aku mencium bibirnya sekilas saja dan segera bangkit dari tubuhnya. Aku ingin segera mandi dan setelah itu aku mau bermain dengan istriku yang paling cantik di dunia ini.


Istriku juga segera bangun dan mengipasi tubuhnya seperti sedang kegerahan.


Gluk, aku menelan salivaku sendiri karena bathrobe istriku tersingkap dan paha mulusnya terlihat. Dan sepertinya dia mengenakan baju berwarna hitam di balik bathrobe nya membuat kulitnya makin bersinar terang. Rasanya tubuhku jadi panas dan bergelora.


"Mas maaf kamar mandinya di sini masih pakai gayung...." Kata istriku membuyarkan lamunanku.


"Nggak masalah....." Kataku dan aku segera masuk ke dalam kamar mandi tak ingin berlama-lama di sana.


Kamar mandinya bersih dan tertata rapi. Tidak terlalu besar tapi cukup jika dimasuki tiga orang. Ada handuk bersih yang disampirkan dengan rapi yang sepertinya memang disediakan untuk ku oleh istriku.


Ku basuh tubuhku dengan jeli. Badanku juga sudah harum dan wangi. Setelah ku perhatikan lagi semua yang harusnya ku cukur dan ku pangkas di antara tangan dan kaki sudah bersih semua dan aku siap bertempur malam ini juga.


Aku pun segera keluar dengan hanya menggunakan handuk saja. Memang ku sengaja agar dia berhasrat padaku juga.


Aku termangu di depan pintu kamar mandi karena melihat tampilannya yang seksi sekali. Menggunakan baju yang memperlihatkan dadanya juga kaki jenjangnya. Dia sedang mematut bibirnya di depan meja rias dengan pose seolah menantang. Tubuh bagian depannya ke arah kaca sehingga aku bisa melihat isinya dan tubuh bagian belakangnya mengarah ke belakang seolah memintaku untuk memegangnya. Terang saja pistolku langsung bereaksi. Ia sudah bergeliat menunjukkan jati diri.


"Sa-sayang...." Deru nafasku sudah tak karuan.


Istriku menoleh padaku dan kini nampak lah seorang bidadari yang berdiri di depanku dengan malu-malu. Ia memoles bibirnya tipis-tipis dengan lipstik juga memakai celak dan alis. Rambutnya ia sanggul ke atas sehingga lehernya terlihat dengan jelas. Sangat cantik sekali.

__ADS_1


Rasanya aku sudah tak tahan lagi. Aku maju dengan cepat merangsek padanya kemudian menciumnya dengan buas dan sampai puas. Kami terengah-engah bersama-sama. Maklumlah karena kami berdua tidak punya pengalaman apa-apa.


"Amatir....!" Kataku untuk memprovokasinya karena tadi dia diam saja tak membalas ciumanku sama sekali.


"Ihh...." Ia mencubit lenganku pelan.


"Kayaknya cuma aku saja yang ingin" Kataku lagi sambil cemberut agar ia tak enak hati dan mau bereaksi. Aku ingin dia membalas ciumanku untuk saling memberi dan menerima.


" Bukan begitu mas.... Aku....aku cuma malu saja..." Katanya sambil menundukkan kepala.


Aku meraih dagunya dan menariknya sedikit sehingga mata kami bisa saling menatap untuk saling menyelami cinta yang tergambar jelas diantara kami.


" Sayangku.... adindaku... cintaku.... Malu itu kalau berbuat salah. Ini untuk sesuatu yang berpahala. Menyenangkan suami juga diri sendiri....."


Tangannya yang semula di dadaku kini diarahkannya di belakang punggungku. Ia memelukku dengan erat dengan menyandarkan kepalanya di pundakku.


" Rasanya sangat malu...." Katanya lagi.


"Ini suamimu sayangku. Kalau istriku tidak mau membalas ciumanku lalu aku harus minta pada siapa lagi..." Aku masih merayunya.


"Mas..,!!" Katanya manja dan masih belum mau melepas pelukannya.


"Ya sudah kalau kekasihku ini belum siap kita tunda saja...." Aku berusaha melepaskan tangannya agar ia mau melakukannya meskipun dengan terpaksa.


Cup...


Ia menciumku dengan mata terbuka. Hanya saling menempel saja. Kemudian dia mengambil nafas dan mulai memejamkan matanya dengan mulai menggerakkan bibirnya. Tentu saja aku tak tinggal diam dan segera menyambutnya.


Setelah aku puas ku gendong dia dan kubaringkan di atas tempat tidur.


"Kita mulai sekarang?" Tanyaku berbisik. di telinganya yang membuatnya memalingkan muka dengan wajah yang merah merona.


"Sudah hafal do'anya? "


Dia mengangguk tanpa melihat ke arahku.


"Bismillahirrahmanirrahim.... Allohumma jannibnassyaithon wajannibis syaithona ma rozaqtana"

__ADS_1


SENSOR!!!!!!!


__ADS_2