Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
kesal


__ADS_3

Zainal berjalan ke pagar pintu masuk musolla yang menghadap ke jalan raya agar percakapan mereka tidak bisa didengar oleh orang lain


"ya dokter? bagaimana tadi ?" Tanya nya antusias sekali.


"Biaya pasien tadi akan kami tanggung karena tadi saya sudah mengatakan bahwa saya yang akan membayarnya" kata gadis cantik itu yang suaranya terdengar merdu mendayu-dayu di telinga Zainal.


"Begitukah? baiklah kalau begitu. Lain kali kalau ada yang membutuhkan biaya, dokter harus menghubungi saya, bagaimana?" Kata Zainal mencoba bernegosiasi.


" Ah.. ya baiklah. Emm....itu"


"Dokter, halo, dokter...."


"Iya iya halo..." Ani sedang bingung bagaimana cara mengatakan maksud hatinya.


"Apa ada yang lainnya dok?" Tanya Zainal.


"Em.... itu.... tentang pertanyaan kemarin lusa...." dokter Ani menjedanya. "halo pak Zein?" Ia memanggil Zainal karena tidak terdengar suara sama sekali di telponnya.

__ADS_1


"Iya dok. bagaimana jawaban dokter?" Zainal memejamkan matanya berharap jawaban dokter Ani sesuai dengan harapannya. Ia sudah menunggunya dari kemarin. Pria manis dengan dagunya yang terbelah itu memegang dadanya, Hatinya dag dig dug tak karuan menunggu jawaban dari dokter Ani.


"Saya... saya bersedia" Akhirnya keluar juga kata-kata yang diharapkan oleh Zainal dari mulut gadis yang berprofesi sebagai dokter itu.


Dan Zainal pun langsung tersenyum bahagia.


"Benarkah dok? terima kasih dokter, besok saya akan ke sana!" Zainal tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Bibirnya terus tersenyum meski orang yang diseberang sana sudah menutup telponnya setelah mengucapakan sama-sama.


Zainal berjalan kembali mendekat ke serambi dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.


Lukman menatapnya dengan tajam,"apa itu Ani?" tanyanya mengintimidasi.


"APAA?" Lukman memekik kaget. 'pacaran, ani mau pacaran? benarkah?'batin Lukman


"Kau harus merestui kami bang!" Kata Zainal dengan entengnya.


"Jangan percaya pada pak Zainal! Aku sering melihatnya melirik dan menggoda cewek-cewek cantik" Laila menyela perbincangan mereka.

__ADS_1


"shsh...."lukman mengeratkan giginya dan mengeluarkan suara lewat sela-sela giginya.


"Kenapa kau tidak kembali bekerja? apa kau seorang bos di sana?" tanya Lukman dengan penuh penekanan, ia hanya menolehkan mukanya kesamping tanpa melihat wajah Laila.


Kontan saja Laila langsung berdiri sambil menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia lupa bahwa dia hanya seorang karyawan biasa, entah kenapa dia penasaran ingin melihat apa yang akan diperbuat Lukman kepada adiknya sampai lupa jika ini masih jam kerja. Ia pun segera memakai sepatunya sambil melirik Lukman yang masih mengobati luka adiknya, sama sekali tak meliriknya.


Laila berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya bersungut-sungut meninggalkan mereka sambil menggerutu, "dasar pak tua!"


"Ya aku memang sudah tua... dan kau adalah anak besar yang suka memakai pakaian anak kecil" teriak Lukman.


"Kau....! uuughhh" laila berbalik melihat ke arah Lukman sambil mengepalkan tangannya ke udara, tapi Lukman tak melihatnya membuat Laila semakin kesal dan berjalan meninggalkan area musolla dengan bibir yang mengerucut dan menggembungkan pipinya.


Laila menghentakkan kakinya disepanjang jalan. Ia kesal sekali pada Lukman yang tidak mau melihatnya padahal Laila sempat kagum pada sosoknya yang alim sewaktu di musolla tadi.


"Dasar orang aneh, sok keren.... "! ia masih saja marah dan mengomel sepanjang jalan.


"Kenapa pula tadi aku terpesona pada pria tua itu. tidak...tidak aku tidak menyukainya. Dia hanya seorang pria tua pengangguran. Aku sering melihatnya keluar masuk swalayan tanpa membawa barang belanjaan. Dia pasti cuma melihat-lihat saja. Dasar pria aneh. aku tidak menyukainya. tidak. aku menyukai pria tampan yang kaya yang bisa mencukupi kebutuhanku dan Doni tanpa harus bersusah payah bekerja dan menghemat pengeluaran. Aku akan menikah dengan pria kaya bukan dengan pria yang miskin. kalau pak Zainal sudah punya pacar aku akan mencari pria lain yang kaya, yang tampan, yang menyayangiku dan adikku. sudah cukup aku hidup dengan keprihatinan selama ini" gerutu Laila sambil menuju ke tempat kerjanya.

__ADS_1


" Kenapa kami bisa akrab seperti sudah saling kenal sejak lama ya?" Gumam Laila lagi.


__ADS_2