Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
mengintip


__ADS_3

Seorang wanita yang sudah berusia lanjut sedang duduk sambil menggulir tasbihnya. Ia masih mengenakan mukena.


"Saya Bu Jannah yang tinggal disebelah ini Bu dokter ...." Ia mengulurkan tangannya dan Ani segera menyambutnya.


"Saya Ani Bu. Terima kasih sebelumnya. Saya tadi buru-buru karena belum solat Maghrib sampai lupa tidak mengunci pintu....".


"Hati-hati Bu dokter. Dulu disini sarangnya ...." matanya mencoba meyakinkan jika tak ada orang lain selain mereka yang mendengar percakapannya,"penyamun." ia berkata sangat pelan sambil sambil menutupi bibirnya dengan telapak tangannya.


"Tapi Alhamdulillah sekarang hanya tinggal beberapa orang saja yang belum bertaubat. Tapi sebaiknya Bu dokter hati-hati.... " Wanita itu menelisik Ani dari atas sampai ke bawah.


"Apalagi Bu dokter masih gadis....."


Ani mendengarkan wanita itu dengan seksama. Mendapat perhatian dari seorang ibu selalu menjadikan hatinya seperti diselimuti ketenangan dan rasa haru Ia pasti ingat pada ibunya yang sudah bertahun-tahun meninggalkannya. Dalam memorinya yang paling dia ingat adalah ibunya orang yang bawel dan galak. Meski bagaimanapun juga ia tetap merindukannya. Merindukan kehadirannya.


"Bu.... toko yang menjual pembalut disini di sebelah mana ya..?" Ani ingat ia membutuhkan pembalut dan tidak tahu harus beli dimana. Terselubung maksud ingin lebih akrab dengan Bu Jannah.


Bu Jannah bersedia mengantarkan gadis cantik yang baru ditemuinya untuk membeli pembalut. Mereka pun kemudian menjadi akrab. Satu sama lain saling mengisi dan melengkapi keinginan masing-masing. Bu Jannah yang menginginkan seorang anak perempuan dan Ani yang merindukan sosok ibunya.


.

__ADS_1


.


.


Pagi-pagi sekali Bu Jannah sudah mendatangi kediaman Ani yang bahkan belum membuka pintunya. Ia sudah bangun dan sudah selesai solat Subuh. Menata barang-barang yang ada agar letaknya sesuai dengan keinginannya. Barang yang dia kirim via ekspedisi kemungkinan akan datang hari ini.


tok tok tok


"assalamualaikum Bu dokter...."


"waalaikumsalam warahmatullah... iya sebentar..." Ani yang sedang menggeser lemari bergegas berjalan keluar. Sepertinya ia sudah mengenali suara orang yang berada di depan pintu.


tok tok tok.... Bu Jannah tidak mendengar Ani menjawab salamnya karena itu ia mengulanginya lagi padahal Ani sedikit berteriak. Mungkin karena faktor usia sehingga membuat telinganya agak berkurang fungsi pendengarannya.


"waalaikumsalam warahmatullah...." Ani membuka pintu saat Bu jannah akan mengetuk pintu lagi.


" Saya kira belum bangun Bu dokter...." katanya sambil tersenyum. Meski raut wajahnya sudah menua tapi terlihat sekali ia punya semangat anak muda yang membara.


" Sudah sejak subuh tadi Bu. Ini lagi beres-beres.... "wajahnya sudah berpeluh karena mengangkat dan menggeser barang-barang yang lumayan berat.

__ADS_1


"Ini buat Bu dokter..... "Bu jannah memberikan nasi goreng dengan telur ceplok diatas nya.


"Wah.... terima kasih banyak bu.... Kebetulan saya lapar sekali dari kemarin belum makan..." Ani sangat antusias dan tidak menjaga image sama sekali. Kemarin ia memang hanya sarapan saat akan pergi kemudian siangnya hanya mengandalkan roti sebagai pengganjal perut saat ada di dalam setelah itu ia tak makan apa-apa lagi. Memilih langsung berbaring merehatkan diri selepas solat Isyak.


Ani ingin mengakrabkan diri layaknya sebuah keluarga dengan Bu jannah. Lebih tepatnya seperti hubungan ibu dan anak.


Bu Jannah tersenyum mendapati gadis didepannya menerima pemberiannya yang ala kadarnya.


Ani berjalan ke belakang untuk mengambil sendok kemudian mengajak Bu Jannah duduk di luar rumah . Ada beberapa bangku berjejer yang akan digunakan sebagai tempat antri para pasien dan disanalah sekarang keduanya sedang duduk dengan nasi goreng sebagai penengah. Ani membawa dua sendok kemudian menyerahkan salah satu sendoknya ke tangan Bu jannah.


"Temani saya Bu... saya nggak habis kalau makan segini banyaknya..."


Bu jannah tersenyum sambil bersiap-siap menyendok nasi gorengnya. Meski sebenarnya belum lapar tapi ia ikut terbawa suasana dan mau ikut makan bersama, sepiring berdua.


Seorang pemuda nampak sedang mengamati ibunya yang nampak bahagia bersama seorang gadis yang baru kemarin dikenalnya. Dibalik jendela rumah ia bisa melihat ibunya sangat bersemangat dan antusias. Senyumnya juga tak lepas-lepas dari bibirnya.


?????!!!!!??????!!!!!!((((((()))))))))""""""""***********


Capek diriku..... habis hajatan. Haul paman yang kedua. Meski badan masih capek dan pegal semua tapi aku sudah rindu untuk menulis dan memasuki dunianya dokter Ani.

__ADS_1


Kalau ada yang bisa pijat secara online aku juga mau dong teman-teman. Nanti biayanya tak tranfser pokoknya pegal-pegal capek-capek bablas


__ADS_2