
Setelah selesai menjemur baju di pekarangan belakang aku masuk ke kamar dan berganti pakaian. Seperti biasa kaos dan kulot panjang menjadi pakaian favoritku ketika berada di rumah. Ku sisir rambutku di depan meja rias kemudian memeriksa notifikasi hapeku yang semalam ku letakkan di atas meja rias.
Aku mengernyitkan keningku karena ada notif di aplikasi chat si hijau dari mas Zein. Ada apa ya....?
Nanti jam 9 aku jemput ya, kita ke rumah orang tuaku.
Untuk apa, ada apa, kenapa tiba-tiba?
Iya mas Zein tahu hari ini aku off dan nggak ada kegiatan lain karena tadi malam di dalam mobil sepulang dari kondangan ia sempat bertanya diantara kebisuan kami. Apa besok aku libur , apa ada acara? aku hanya menjawabnya sepatah dua patah kata karena mengharapkan penjelasan darinya tetapi nihil. Nas Zein tak menyinggung perkataannya yang membuat hatiku galau. Mungkin itu hanya sebuah kata yang tak bermakna untuknya.
Aku melirik jam masih setengah delapan. Masih ada waktu satu jam setengah. Karena sedang haid hari ini aku tak olahraga. Rasanya kurang nyaman gimana....gitu kalau lagi haid terus olahraga.
Di pekarangan belakang Karina sedang latihan karate dengan bang Alif. Lebih baik aku menonton adegan action mereka daripada lihat tivi atau hape, begitu pikirku.
"Mau kemana kak?" tanyaku pada kak Mia yang sudah siap untuk berangkat saat aku di ruang tengah. Kalau di rumah Kak Mia selalu menggunakan kaos dan sarung jadi ketika Kak Mia memakai rok atau jubah bisa dipastikan ia akan pergi keluar.
"Mau ke toko" jawab bang Alif.
"Tumben kakak ikut", kataku pada kak Mia.
"Pingin aja " , kata kak Mia
__ADS_1
"Nanti aku juga mau keluar bang, ke rumah mas Zein" , pamitku.
" Ada apa?"
"Nggak tau tiba-tiba saja dia mau mengajakku kesana".
"Ya sudah hati-hati, yang sopan sama orang tuanya. Kamu masih ingat kan kalau kalian belum halal?
"Iya....ingat....". Jawabku.
"Belum boleh icip-icip lho ya...", kata kak Mia.
"Alhamdulillah sudah nggak. sekarang bawaannya lape...r terus tapi malas masak malas ngapa-ngapain."
"Restoran ada, warung banyak. Itu masalah gampang..... ya kan bang?. Sekarang waktunya bersenang-senang menikmati hidup kak..... minta apa-apa gitu yang banyak sama abang. Puas-puasin deh manjanya... mumpung ada alasan ngidam."
"ahahhhaaaaaa...... iya iya...kamu bener. " Kk Mia tertawa riang mendengar gurauanku.
"Wahhh.... apa itu saran dari seorang dokter pada setiap pasiennya yang hamil?"
"Hehe..... nggak lah bang.... itu saran spesial dari seorang adik untuk kakaknya!"
__ADS_1
Sesampainya kami di teras rumah aku melihat paman sekaligus ayah rodlo' ku datang sambil membawa sawi sendok sebakul kecil ditangannya.
"Pagi yah....?"
"Pingin mi goreng dikasih ini ", kata ayah sambil menunjukkan wadah yang dibawanya.
"Sini aku buatin yah.... tapi rasanya jangan komplain ya yah! Harus ditelan, nggak boleh sampai muntah!" kataku mengambil wadah di tangan ayah.
"Mau kemana?" tanya ayah melihat bang Alif sudah rapi dengan pakaian kemeja dan celananya. Mereka memang pasangan yang suka pakai sarung ketika di rumah. Jadi ketika mereka berubah wujud semua akan tahu kalau mereka ada acara diluar.
"Ke toko yah... ada barang datang sama ada produsen dompet yang mau mengajak kerja sama", jawab bang Alif.
" Hati-hati, baca ayat kursi. Semoga semua berjalan lancar, aman terkendali". kata ayah memberi nasehat meski tahu bang Alif pasti membacanya karena dalam keluarga dialah yang paling mengerti agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
"Iya, amiin.......kami pergi dulu yah...."
Bang Alif dan kak Mia mencium tangan ayah kemudian mengucap salam dan berangkat pergi.
Ayah melangkah ke belakang karena mendengar suara orang yang sedang olahraga di pekarangan belakang sedang aku membawa roti maryam untuk mereka kemudian kembali ke dapur untuk membuat mi pesanan ayah.
Memang seringkali ayah dan bang Lukman makan di sini karena di rumah ayah cuma ada dua orang lelaki yaitu bang Lukman dan ayah jadi biasanya jika ingin sesuatu mereka akan datang dan meminta untuk dimasakkan.
__ADS_1