
Toni memanggil zainal dengan suara yang cukup kencang membuat orang-orang yang berlalu lalang menoleh kearahnya.
Dengan muka kesal Zainal pun berjalan menuju Toni karena mereka kini sudah jadu pusat perhatian para pengunjung.
Ia berjalan dengan muka bersungut-sungut siap untuk mengeluarkan amarahnya.
"Mas zein ini gimana sih, ada orang beli tuh. Dititipin bentar aja kok malah ditinggal"
Belum juga Zainal membuka mulutnya, Toni sudah marah lebih dulu kepadanya. Ciut sudah nyali Zainal. Ia hanya diam sambil mengekori Toni ke lapaknya. Disana sudah ada tiga orang yang menunggu untuk membeli juz.
.
.
pagi itu di ruang makan sudah duduk dokter Ani, rina, kak alif dan kak mia. Mereka sarapan bersama untuk memulai hari dengan berkumpul bersama keluarga.
"Hari ini kita naik bebek kan kak?" tanya rina pada dokter ani disela-sela makannya.
" Karina!! kunyah makananmu dengan benar baru bicara. Kau itu seorang perawat, apa kau lupa kalau menelan makanan tidak boleh terburu-buru apalagi makanannya tidak dikunyah dengan baik. Bagaimana kau merawat pasien kalau untuk urusan mengunyah makanan saja kau harus diingatkan", kak mia berceramah di meja makan dengan nada yang berbeda dengan biasanya.
__ADS_1
Karina buru-buru mendorong makanannya dengan meminum air putih.
glek glek glek.... ia meneguknya dengan terburu-buru.
"Baik kakakku sayang, mulai sekarang aku akan merawat diriku dengan saangat baik. ok?" ia membentuk huruf o dengan ibu jari dan telunjuknya sambil menyunggingkan senyumnya yang dibuat seimut mungkin agar kakaknya tidak melanjutkan ceramahnya.
"kak.... kak mia juga harus sarapan. jangan hanya memperhatikan kami. " - dr. ani
"jadi kalian merasa terganggu ya dengan kecerewetanku" - kak mia
"bukan seperti itu kak...." dr. ani merasa bingung tapi juga merasa bersalah pada kakak iparnya itu. apa kata-kataku tadi salah? pikirnya.
"kak bukan seperti itu, ayolah...!"- dr. ani
rina tak mampu mengatakan apapun melihat kejadian itu. Kakak ipar yang selalu bijaksana itu tiba-tiba berubah melow. Ia hanya menyaksikan adegan-adegan langka yang terjadi di rumah ini dengan mata lebar dan telinga yang waspada.
"Yang.... bukan seperti itu maksud ani. kau terlalu sibuk memperhatikan kami sampai-sampai kau melupakan dirimu sendiri. Makanlah bersama kami, jangan menunggu kami selesai baru kau bisa makan. ok? kau juga harus memanjakan dirimu sendiri. pergi berbelanja, pergi ke salon atau makan-makan. Kalau perlu habiskan saja uang yang ku berikan padamu agar aku lebih bersemangat untuk bekerja. hem?" kak alif mencoba menenangkan istrinya yang sedang menangis sambil menggenggam jemari istrinya.
" benar kak... kau harus jalan-jalan bersama kami minggu depan. sekali kali kakak perlu refreshing. apa kakak tidak bosan hanya di rumah, ke sekolahan ke toko? kakak selalu merawat kami tapi lupa untuk menyenangkan diri sendiri" kata rina ikut menyuarakan hatinya.
__ADS_1
hiks... hiks.... tangisan kak mia belum juga reda.
Kak alif kemudian merengkuh tubuh istrinya dengan merapatkan kursinya. memeluk dan menepuk pelan-pelan punggung kekasih hatinya yang bersedia menemaninya sejak ia masih berjuang hingga sekarang sudah berkecukupan.
"lanjutkan makan kalian dan segera berangkat. ini hari senin, berhati-hatilah di jalan" kata kak alif sambil menciumi puncak kepala istrinya yang berbalut kerudung.
"kami sudah selesai kak!" jawab keduanya.
dr ani bersalaman sambil mencium tangan kakaknya. kemudian memeluk kakak iparnya yang masih berada dalam pelukan kakaknya.
"Maafin ani ya kak.... Ani sayang banget sama kakak", katanya dengan suara yang pelan.
Kak mia pun menoleh ke arah adik iparnya itu sambil mengusap air matanya,"Maafin kakak juga ya!" kemudian mereka berpelukan dan kak mia mencium pipi kanan kiri adik iparnya itu.
Rina juga melakukan hal yang sama seperti dr. ani.
dan akhirnya drama pagi itupun berakhir.
dr Ani dan rina berangkat ke rumah sakit dengan bebek matic mereka
__ADS_1