Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
periksa jantungku


__ADS_3

Tok tok tok


"Assalamualaikum.... ini kakak dek..".


"waalaikumsalam warahmatullah.... tunggu...!"Ani terburu-buru ke depan untuk membuka pintu dengan mukena yang masih melekat menutupi sebagian tubuhnya.


Hari masih sangat pagi, kabut yang menyelimuti daerah pegunungan itu juga masih terlihat pekat. Hawa dingin langsung menusuk kulit Ani ketika pintunya dibuka.


Ada sosok tampan berwajah ramah yang memamerkan senyumannya saat ia melihatnya. Ani tak membalas tersenyum justru ia merasa aneh dengan sikap ustadz Zainuddin saat itu.


" Sehat dek?"


"Alhamdulillah sehat.... kakak sehat?" Ia membalikkan pertanyaan untuk menunjukkan kalau sikap pria yang sedang ada di hadapannya itu tak seperti biasanya.


"Enggak.... makanya kesini mau periksa..."


Antara percaya dan tidak Ani pun meminta ustdaz Zainuddin untuk berbaring di tempat periksa. Sedang Ani minta izin untuk berganti baju terlebih dulu.


Ani mengganti mukenanya dengan baju sehari-hari.


Wajah calonnya itu tidak seperti orang sakit terllihat cerah ceria, segar, tak ada guratan kesakitan disana tapi Ani juga takut dengan kejadian beberapa hari kemarin.


Ani keluar dengan kerudung yang sudah rapi menutupi kepalanya. Ia pun mulai memasang stetoskop di telinganya yang terhalang kerudung.


Ani melihat Ustadz Zainuddin melepas kancing kemejanya dan hal itu membuat Ani tersipu malu, ia pun kemudian memalingkan mukanya.


Kini terlihat dengan jelas dada dan perutnya yang putih dan yang sebagian lagi tetutup tato yang tidak semua orang bisa melihatnya.


"Ish... tidak perlu dibuka semuanya kak!"


"Biar bu dokter ingat, kalau aku itu mantan berandalan..."

__ADS_1


" kan sudah tobat.... ngapain dibahas lagi?"


"Apa sih yang adek suka dari kakak sampai adek mau menerima pinangan kakak?"


"Ya kan ustadz orang nya baik... banyak ilmunya... Jadi kalau ada apa-apa aku nggak perlu tanya sama orang lain.." Ani menempelkan stetoskopnya pelan diatas jantung calon imamnya itu. Detaknya sangat cepat terdengar tidak normal. Ia melihat wajah pria yang sedang berbaring itu dan ternyata sang pria juga sedang menatapnya.


"Detaknya tidak normal ya? Itu karena kamu..." kata sang pria.


Ani menekan stetoskopnya dengan sedikit keras karena kecanggungan yang menghinggapi dadanya. Bagaimana dia bisa profesional kalau pasiennya adalah orang yang spesial untuk nya.


"Ah... sakit dek...! Ya Alloh ...anda mendholimi saya bu dokter...!" Dia semakin menggoda Ani.


"Hehe.. mohon maaf pak...! Tolong hadap kesana agar saya bisa memeriksa bapak dengan benar...!" Kata Ani mengikuti permainan.


Ustadz Zainuddin mengulum senyum sambil mealingkan kepalanya dan melihat ke arah tembok," Bu dokter grogi ya kalau memeriksa saya...?" Katanya.


Mereka seperti sedang main dokter-dokteran.


"Kalau yang namanya Zainal itu orangnya kayak apa dek?"


Ani yang mendengar pertanyaan itu langsung mengangkat stetoskopnya yang barusan ditempelkan di perut sang ustadz. Jujur saja dia tidak bisa fokus saat memeriksa pasien yang satu itu. Dia bahkan lupa dengan hasil pemeriksaannya tapi dia menyimpulkan kalau calon imamnya itu sedang baik-baik saja. Mungkin dia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan Ani karena beberapa hari ini mereka tidak berbincang secara langsung hanya via hp saja mereka berkomunikasinya.


"Ngapain sih ngomongin orang lain? "Tanya Ani sambil berjalan menuju tempat duduknya.


"Ya kan cuma nanya... Biar aku bisa memperbaiki diriku dan bisa seperti dia yang masih ada dalam hatimu..."


"Kakak ngomong apa sih? Kakak nggak percaya sama perasaanku? " Tanya Ani.


"Kan tinggal jawab dia kayak apa? Kan kakak cuma pingin tahu..." Dia masih kekeh ingin tahu sifat Zainal.


"Baik orangnya, periang dan sayang banget sama aku..." Ani menjawabnya dengan kesal dan berniat ingin membuatnya cemburu.

__ADS_1


"Terus kenapa putus?"


"Orang tuanya nggak merestui kami..." Ani menjawabnya dengan ketus.


"Jadi dia masih sayang sama adek berarti..."


"Dia nggak bisa berpaling ke cewek lain?"


"Dia pasti masih berharap sama adek...."


"Orang tuanya juga sekarang pasti sudah menyesal dan ingin kalian baikan lagi..."


Ani kesal dan memilih diam saja tak menanggapi perkataan ustadz kesayangannya itu.


"Assalamualaikum..."


Keduanya menoleh mendengar suara yang tidak asing buat mereka berdua. Bu Jannah masuk dengan membawa makanan dalam rantang susun.


"Buk.., kenapa repot-repot... Kan Ani jadi malu..." Ani membantu membawa rantang.


" Malu tapi mau kan?" Jawab ustadz Zainuddin sambil duduk dan mengancingkan bajunya..."


"Ih.... apaan sih..? Buk... kenapa kakak jadi bawel kayak gitu sih... Kakak nggak salah makan kan bu....?"


Bu Jannah menata rantang-rantang itu di atas meja sambil tersenyum mendengar pengaduan calon mantunya.


Ani masuk ke dalam kemudian setelah beberapa saat ia keluar dengan membawa piring dan sendok untuk mereka bertiga. Mereka sarapan dengan bercanda layaknya keluarga.


"Memangnya Zein sakit apa nak?" Tanya bu Jannah pada Ani.


"Nggak papa kok bu, sehat-sehat saja kok. Lagi kangen sama Ani mungkin.... pake acara mau periksa segala. Bilang aja kangen, iya kan bu...?"

__ADS_1


"Aku selalu terintimidasi jika berada diantara kalian berdua. Setelah ini, ibu dan bu dokter harus ngomongin aku yang baik-baik saja ya...!"


__ADS_2