Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
kesal


__ADS_3

Ani segera menyambut pasien yang datang karena terkena serangan jantung. Beberapa saat keluarga pasien menelpon rumah sakit dan meminta mobil ambulance sehingga semua petugas medis dan alat-alat nya sudah siap.


Sesaat Ani terhenyak ditempatnya berdiri. Sosok yang beberapa hari ini tak ada kabar dan kini ada didepan matanya dalam keadaan yang belum pernah dilihat sebelumnya.


Memakai kaos oblong dengan celana selutut dan rambut acak-acakan jau dari kata rapi.


'dan apa itu... matanya sembab? Ya Alloh... apa aku salah lihat?'batin Ani


"Dokter....." salah satu perawat memanggil dan menggoyangkan lengannya


"iya....." Ani kaget dan tersadar seketika. Ia berjalan cepat menyusul mereka


"Bagaimana tanda vitalnya?"


Ani menanyakan keadaan pasien pada petugas ambulance dan tindakan apa saja yang sudah dilakukan.


.


.


.


Ani melakukan CPR pada Ayah Zainal yang tak berdaya. Ia menekan telapak tangannya di tengah dada pasien dan tangan yang lainnya diatasnya. Menekannya dengan kekuatan satu sampai dua kali per detik. Ia melakukannya seperti biasa dengan harapan pasiennya bisa tertolong.


Ia melakukannya 100 kali per menit kemudian memeriksa denyut nadi di leher pasien tapi belum ada perubahan.


"200 joule....."


"ini siap dokter!"


Ani menggesek alat pacu jantung dan menempelkannya di dada pasien


"kejutkan!"

__ADS_1


shkk...


Ia kemudian melakukan CPR lagi sampai keringatnya bercucuran.


"kumohon..... hah hah hah hah..bangun.!!"suara deru nafas Ani menggema di seluruh ruangan.


"aku periksa ritmenya" Denyut nadinya belum kembali. "200 Joule lagi"


"baik"


Ani menekan dada pasien dengan nafas yang terengah-engah.


"sudah siap"Perawat memberikan alat kejut jantung pada Ani


"kejutkan"


shk....


Ia mengulangi CPR lagi dengan wajah-wajah tegang setiap orang yang dalam ruangan tersebut "Ya Alloh....ku mohon....hah hah hah.." ia memohon disela-sela aksinya.


"300 joule"


"Dokter ini sudah lima menit..."


ia sudah menekan telapak tangannya di dada pasien dengan keahliannya," tidak.....hah hah hah....kumohon sekali lagi" ia melakukan CPR kembali.


"ini sudah siap"


Ani menaruh alat pacu jantung di dada pasien"kejutkan"


shk...


Ia kembali ke posisi semula."hah hah hah..... Ya Alloh tolong.... aku janji...." katanya diantara tekanan telapak tangannya pada dad pasien.

__ADS_1


"aku periksa ritmenya...."


"dokter denyut nadinya kembali...." semua orang merasa lega karena perjuangan mereka membuahkan hasil yang membahagiakan.


"hah hah hah....hah hah terima kasih ya Alloh" Ani mengusap keringatnya dan menumpukan kedua tangannya di pinggir tempat tidur pasien sambil menundukkan kepalanya. Air matanya menetes dan langsung diusapnya.


"siapkan central line dan transfusi darah! apa dokter Ya'kub sudah datang?"


"sudah dokter"


.


.


.


Begitu pintu terbuka Zainal dan mamanya yang sudah menunggu di luar ruangan sejak tadi bangkit berdiri dan mendatangi sang dokter.


Zainal merasa canggung menyadari bahwa dokter yang ada didepannya adalah gadis pujaan hatinya yang membuat hidupnya sedikit berantakan. Sang mama berdiri di belakang putranya, malas untuk menyapa enggan untuk bertanya.


"Denyut nadi pasien sudah kembali dan akan segera ditangani oleh dokter jantung kami. " Ani menjelaskan kondisi pasien yang ditanganinya. " Lebih jelasnya nanti bisa ditanyakan pada dokter Ya'kub"


Gadis cantik itu menganggukkan kepala memberi hormat kemudian meninggalkan keduanya. Ia berjalan sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sedang sebelah tangannya memijat pundak sebelah kiri.


Berjalan pelan-pelan menuju ke kantin sambil mempertemukan kedua telapak tangannya diarahkan ke depan kemudian diarahkan ke samping kanan dan kiri. Lumayan mengurangi lelah yang menggelayut manja pada tubuhnya.


Duduk ditempat favorit nya, Ani menyesap minuman kopi yang baru ia beli. Ia bersyukur karena papanya Zainal bisa diselamatkan. Terselip perasaan bersalah dihatinya karena merasa jika papanya Zainal mengalami hal itu karena masalahnya dengan zainal. Itu artinya ia juga penyebab terjadinya itu semua.


Tiba-tiba Zainal sudah duduk didepannya dengan membawa roti dan kopi.


"Terima kasih sudah menolong papaku..." katanya mengawali perbincangan. Zainal memakan rotinya karena ia merasa kesal melihat Ani baik-baik saja tidak terpuruk seperti dirinya. Beberapa hari ia memaksakan memasukkan makanan ke dalam perutnya tapi gadis yang dicintainya itu malah terlihat menikmati makanan dengan biasa. Seperti tak terjadi apa-apa padanya.


Zainal bahkan baru sadar bagaimana penampilannya saat ke toliet tadi. Datang ke rumah sakit dengan menggunakan kaos oblong putih, memakai celana selutut dengan rambut acak-acakan.

__ADS_1


"Apa cuma aku yang bersedih dengan perpisahan ini?" tanya Zainal setelah mencari kata yang tepat tapi tak ditemukannya juga.


Gadis berseragam dokter itu menatap lekat-lekat wajah pria yang ada dihadapannya.


__ADS_2