Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Rasa istri


__ADS_3

Karena makanannya sudah siap Ani berjalan ke depan untuk memberitahukan pada Zainal kalau makan siang sudah siap.


Ani melihat ke ruang tamu hanya ada rekannya sedang sibuk membaca dokumen sedang Zainal tidak ada di sana.


Ani pun menuju ke kamarnya dan dia pun tak mendapati Zainal ada di dalamnya lalu dia berjalan menuju ke musholla.


Dia pasti sedang solat sekarang, Itu yang paling disukainya dari mas Zainal. Selalu solat tepat waktu. Biasanya dia bahkan mengusahakan agar bisa solat berjamaah dimana saja dan kapan saja. Bahkan di saat dia sakit pun dia bisa bangun pas masuk waktu solat, tubuhnya seperti punya alarm sendiri.


Ani mengintipnya di musholla rumah Zainal yang terbilang luas dan Instagramable, Penataan tempat nya sangat pas. Berada di ruang tengah dengan sebuah buffet dengan dua arah yang berlawanan sebagai sekatnya. Di bagian atas buffet itu terdapat Al Qur'an dan di bagian bawahnya ada tempat mukena dan kopyah serta tasbih yang tertata rapi. Juga ada lafadz Allah yang terbingkai dalam kaligrafi yang indah di bagian depan.


Zainal sudah solat dengan berdiri sekarang padahal saat ruku', bangun dari ruku' dan saat sujud dia masih mendesis kesakitan.


Padahal sudah dianjurkan sama bang Alif agar solat dengan duduk atau berbaring saja dulu karena masih sakit. Tapi dia bilang bisa menahannya kan cuma sebentar katanya.


Bang Alif bercerita pada Ani kalau dia memang kerap konsultasi tentang masalah keagamaan padanya bahkan saat Ani berada di Jawa tengah dia juga sering datang ke bang Alif menanyakan banyak hal padanya.


Ani tersenyum melihatnya yang baru saja salam dan mengakhiri solatnya kemudian dia langsung berdo'a.


"Kamu ngapain An?"


"Astaghfirullahaladzim.... Ya Alloh...." Ani memegang dadanya karena kaget tiba-tiba saja mamanya Zainal sudah berada di belakangnya sedang memergoki Ani yang sedang asyik melihat putranya.


"Dari tadi mama lihat kamu mantengin Zainal lagi solat, kenapa memangnya?" Nadanya masih belum ada lembut-lembutnya.


"Nggak kenapa-kenapa sih ma." Jawab Ani yang sudah fasih memanggilnya mama.


"Solat sana! ngapain lihatin Zein terus ?"


"Hehe...saya sedang berhalangan... Oh ya ma, makan siangnya sudah siap..." kata Ani lagi.


" Kamu duluan saja mama masih males.." katanya sambil meninggal kan Ani.


Ani menoleh ke arah Zainal dan ternyata dia juga sedang di melihatnya, mereka saling menatap sesaat, " Ada apa di?" Tanya Zainal.


"Makan siangnya sudah siap,".


"Ya sebentar, makasih ya di.." kata Zainal.


"Kembali kasih..." Jawab Ani dan mereka pun saling melempar senyum, so sweet nggak sih?

__ADS_1


Akhirnya Zainal menyuruh pak Randi untuk makan siang di ruang makan terlebih dahulu sedangkan dia kembali berkutat pada dokumennya lagi.


Di ruang tamu kini hanya ada Zainal dan Ani. Gadis itu duduk di kursi yang lain tak jauh dari Zainal, "Mas kenapa tadi pak Randi nggak diajak berjamaah?" Ani bertanya dengan suara sangat pelan setelah sebelumnya menengok ke belakang takut orang yang akan mereka bicarakan tiba-tiba ada di belakang nya dan mendengar percakapan mereka.


Sifat wanita Ani muncul, kepo!


"Katanya nanti saja...." Jawab Zainal sambil memandang Ani sekejap. "Kenapa?"


"Mas kan punya wewenang untuk memaksa anak buah mas biar solat semua, kenapa mas diam saja?"


"Iya... tapi mas takut jika mereka melakukannya karena paksaan kalau diluar mereka tetap tidak solat bagaimana?"


"Aku hanya mencontohkan saja dan berharap semoga mereka melihatnya dan mau menirunya." Katanya lagi.


Ani manggut-manggut membenarkan ucapan pria yang ada di hadapannya ,"Harus ada strategi baru agar kesannya perusahaan tidak memaksa dan mereka mau menjalaninya dengan sukarela. Gimana ya caranya?"


Ani mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk dan Zainal yang melihatnya langsung memalingkan matanya pada kertas yang ada di tangannya. Pikiran Zainal sudah membayangkan yang bukan-bukan saat melihat bibir Ani yang menggoda. Wajar saja, Zainal adalah lelaki normal yang ingin merasakan yang namanya ci*man dan sejenisnya.


"Iya itu tugas kamu sebagai istri direktur..." Kata Zainal sambil melirik Ani yang langsung malu dan wajahnya tampak merona.


"apaan sih mas?" Meski bibirnya seolah menolak tapi wajahnya tak bisa bohong wajahnya merona, dia malu untuk mengakui tapi dia mau.


Zainal tersenyum mendengar kekasih hatinya menyebut kata mama tapi sejurus kemudian dia menghela nafasnya dan pandangan matanya lurus ke depan melihat ke taman yang ada di depan ruang tamu.


"Mama sudah lama sekali tidak solat di," Zainal menatap Ani dengan sedih.


"Ya sudah nanti kita cari cara bagaimana agar mama mau solat lagi tanpa kita paksa-paksa" Kata Ani sambil tersenyum.


" Makasih ya di.... karena kamu nggak ngejudge mama. Kamu memang menantu terbaik" kata Zainal sambil mengacungkan jempolnya pada Ani.


BUGH!!! Tiba-tiba saja Ani meninju lengan Zainal dengan kekuatan penuh dan tentu saja itu membuat Zainal mengaduh kesakitan.


"Arghh.... di..," Dia merasakan urat-urat dipunggungnya ikut tertarik dan itu rasanya sakit sekali.


"Hah Ya Alloh, Astaghfirullahaladzim..... Maaf-maaf, maaf mas..! Refleks tadi," Ani menutup mulutnya karena kaget dengan tindakannya sendiri. Ia pun segera mengusap-usap punggung Zainal pelan-pelan.


"Mas Zein ngomongnya jangan yang aneh-aneh..!"


"Ngomong apa, hem?" Ia masih mengernyit menahan sakit.

__ADS_1


"Au ah.."


"Kalau mama tahu anaknya dijadikan samsak tinju pasti dia akan marah di..." Kata Zainal merajuk.


"Ngomong aja sama mama kalau berani..." Kata-katanya seperti mengancam Zainal.


"Mana aku berani, bisa-bisa akan ditinju lagi nanti,"


"Iya coba saja ! Akan kuberi hadiah istimewa nanti". Katanya sambil bangkit dari duduknya.


Ani segera berdiri karena merasa malu dan salah tingkah berada di dekat Zainal.


Saat ia hendak masuk ke ruang tengah ternyata ada Randi yang sudah berdiri di sana mungkin sejak tadi dan merasa tidak enak jika mengganggu bos nya maka dia berdiri saja menunggu waktu yang tepat.


"Bu, terima kasih makan siangnya," Kata Randi pada Ani sambil menundukkan kepalanya sedikit.


Blush, wajahnya semakin merah mendengar panggilan anak buah Zainal padanya, seolah-olah dia sudah menjadi istri Zainal.


"E-eh. I-iya sama-sama" Katanya gugup sambil berlalu dengan cepat dari situ, dia sangat malu.


Ani menuju ke dapur untuk melihat barangkali ada yang bisa dikerjakannya. Ternyata semua orang sedang makan siang.


"Makan non...!" Kata mereka.


"Iya silahkan-silahkan.... Mama masih di kamar ya bik?" tanya Ani pad bik Inem.


"Kayaknya iya non!"


"Jangan non dong panggil mbak aja kenapa?"


"Nggak boleh, kata nyonya disuruh panggil non!" Kata bik Inem mewakili yang lainnya.


" Di....." Zainal tiba-tiba saja sudah berada di dapur mencari Ani.


"Eh.. iya mas .. Tamunya sudah balik?" Tanya Ani.


"Sudah. Makan yuk...!" Ajak Zainal sambil meninggalkan dapur


Para asisten terlihat mematung tidak berani melanjutkan makan mereka saat melihat Zainal datang tadi, bahkan ada yang berdiri, siap melaksanakan perintah dari majikannya. Hanya bik Inem yang nampak santai.

__ADS_1


"Udah lanjutin makannya tegang amat...." Kata Ani sambil berjalan mengikuti Zainal


__ADS_2