Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Ya sudahlah


__ADS_3

Sebenarnya beberapa kali dokter Ibrahim yang kini menjadi saudara iparnya menawarkan padanya untuk bekerja kembali di rumah sakit miliknya tapi Ani menolak karena hari pernikahan nya semakin dekat. Ia berencana untuk kembali bekerja setelah menikah dan membicarakan hal itu dengan suaminya.


Tapi semalam dokter Ibrahim menelponnya dan memohon agar ia mau bekerja di rumah sakit milik temannya. Temannya yang sesama pemilik rumah sakit yang berada di kota mereka membutuhkan seorang dokter karena dua dokter tetapnya sedang izin. Yang satu sedang cuti melahirkan dan yang lainnya sedang dalam pemulihan karena baru saja kecelakaan.


Dan lagi rumah sakit itu lebih dekat dengan rumah Zainal dibandingkan dengan Rumah sakit milik Dokter Ibrahim tempatnya dulu bekerja sehingga ia berharap Zainal dan orang tuanya tidak akan marah dengan keputusannya yang mendadak ini.


Kedatangan Ani di rumah sakit disambut langsung oleh pemimpin rumah sakit yang bernama pak Samsul. Ani juga langsung diminta untuk menangani poli karena pasien dari berbagai kalangan sudah antri. Untuk data diri dan surat kontrak juga yang lainnya yang berhubungan dengan administrasi akan diurus saat jam makan siang karena keadaannya sedang darurat.


Karena pemilik rumah sakit yang berbicara maka staf dan bagian personalia hanya bisa mengangguk patuh saja.


Mengawali antrian pasien yang mengular membuat Ani sedikit nervous karena sudah terlalu lama ia meliburkan diri. Tapi ia juga bersemangat karena kembali ke dunia yang disukainya.


Bertemu dengan banyak orang dari mulai anak-anak, remaja, dewasa sampai para manula membuatnya bahagia dan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu mereka dengan ilmu yang pernah dipelajarinya.


Untungnya asisten dan para perawat sangat kooperatif sehingga Ani bisa memeriksa pasien dengan percaya diri. Mendiagnosis penyakit pasien dan memberikan resep obat-obatan dilakukannya dengan baik. Memberi rujukan pasien yang memerlukan penanganan khusus pada dokter spesialis yang dibutuhkan.


Sampai matahari berada di atas kepala Ani baru bisa bernafas sedikit lega karena semua pasien sudah selesai ditanganinya. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi menggerakkannya ke kanan dan ke kiri untuk meregangkan otot-ototnya.


Pak Samsul sudah menunggu Ani untuk diajaknya makan bersama-sama bersama beberapa staf rumah sakit dan memperkenalkannya sebagai dokter baru di rumah sakit itu. Ia memperlakukannya sedikit istimewa karena Ani adalah rekomendasi sahabatnya.


Karena dia libur solatnya, setelah makan dan istirahat ia kemudian menuju ke bagian personalia untuk menyerahkan surat-surat yang diperlukan juga untuk menandatangani beberapa surat dan berkas.


Sore harinya saat dia hendak pulang ada dua orang yang menarik perhatiannya. Mereka baru saja masuk ke dalam rumah sakit dan Ani memalingkan tubuhnya agar tidak terlihat dan tidak dikenali.


Dua orang itu berjalan melewati Ani yang sedang menghadap ke tembok dan berpura-pura sedang menelpon. Calon mertuanya ada di rumah sakit itu dan belum menyadari jika dia ada di sana. Entah apa yang akan terjadi jika mereka tahu jika calon istri dari putranya saat ini baru mulai bekerja padahal hari H sudah sangat dekat.


"Pa.... tunggu sebentar!",seru Zainal.


Ani terkesiap mendengar suara calon suaminya. Jantungnya berdegub kencang karena ketakutan. Jangan sampai ketahuan..., batinnya.

__ADS_1


Zainal sedang mengantarkan papanya untuk check up jantung di dokter spesialis kepercayaan keluarganya.


Sekilas Zainal melihat sosok Ani tapi hatinya menepisnya.


'Tidak mungkin dia Ani ku... Dia kan ingin dipingit...' pungkas hatinya.


Sementara Ani memejamkan matanya saat Zainal semakin dekat ke arahnya. Mulutnya komat kamit berdoa semoga Zainal tak menyadari keberadaannya.


Ia berniat akan memberitahu Zainal terlebih dahulu agar tak salah paham tapi ia tidak menyangka jika di hari pertama nya bekerja malah hampir ketahuan.


Papa dan mamanya Zainal berhenti dan menoleh karena mendengar suara putranya dan Zainal berlari kecil menyusul kedua orang tuanya.


"Ini kartunya pa...", katanya sambil menyerahkan kartu kecil sebagai identitas pasien.


" Zein langsung balik nggak papa kan?", Tanyanya.


Zainal segera berbalik dan mencari sosok yang tadi mencuri perhatiannya. Tapi ternyata sudah ada di tempatnya semula.


Ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk meyakinkan hatinya bahwa seseorang yang tadi dilihatnya memang benar-benar bukan Ani.


Ani yang saat ini sedang bersembunyi di balik mobil yang ada di parkiran mencoba mengintai keberadaan Zainal. Ia takut jika pulang duluan Zainal akan melihatnya. Maka ia memilih untuk pulang setelah memastikan Zainal keluar dari rumah sakit terlebih dahulu.


Terlihat sosok Zainal memasuki mobil hitam kesayangannya dan Ani mengendap-endap seperti seorang maling yang mau mencuri jemuran. Mencari posisi agar bisa mengintai Zainal dengan leluasa tanpa ketahuan.


Ketika melihat Zainal sudah pergi meninggalkan area rumah sakit ia mengusap dadanya karena merasa lega. Ani kemudian berdiri dengan tegak menghentikan pengintaiannya. Ia pun segera beranjak pergi untuk mengambil motornya yang terparkir tak jauh dari tempatnya.


Ani segera mengenakan helm di kepalanya dan segera mengendarai motor dengan kecepatan pelan untuk keluar dari area rumah sakit.


Sekitar dua meter dari gerbang rumah sakit Ani terbelalak melihat sosok Zainal yang sedang berdiri di belakang mobilnya sambil menunduk seperti sedang memeriksa ban mobilnya, mungkin bannya bocor.

__ADS_1


Ani dilanda kebingungan apakah ia harus berhenti dan menjelaskan semuanya pada Zainal secara langsung dan kemungkinan besar Zainal akan marah padanya.


Semakin dekat jarak keduanya Ani semakin takut dan akhirnya ia memilih untuk segera pergi sari situ tanpa menyapa Zainal terlebih dahulu dan memilih akan berterus terang nanti malam sebelum tidur.


Di atas kendaraan roda duanya Ani tak bisa konsentrasi. Ada rasa bersalah yang menusuk di dadanya tapi apalah di kata. Ia belum siap jika harus menjelaskan saat ini secara langsung dengan bertatapan muka.


Kakinya terasa berat saat ia melangkah masuk ke dalam rumah. Tadi pagi saat berangkat ia menghindar untuk memberi penjelasan pada abang dan kakak iparnya dengan cara berpamitan sambil terburu-buru seolah ia dikejar waktu.


Ia menelan ludahnya karena merasa bingung bagaimana cara menjelaskan pada abangnya. Untuk kak Mia dan Zainal ia bisa mengakalinya dengan merayu dan merajuk tapi untuk bang Alif ia harus menyiapkan alasan yang tepat agar abang nya bisa menerima keputusannya.


Ia mengendap-endap saat masuk ke dalam rumahnya. Ia membuka pintu sambil mengucap salam tapi sangat pelan sehingga hanya telinganya sendiri yang bisa mendengarnya. Celingak-celinguk melihat ke kiri dan ke kanan kemudian berjalan sambil berjinjit menuju kamarnya.


Suasana rumah sepi dan Ani baru ingat kalau jam segitu bang Alif dan kak Mia tidak di rumah karena sedang mengajar di TPQ. Ia pun menepuk keningnya sendiri karena merasa bodoh akibat ulahnya sendiri.


Setelah berganti baju dengan pakaian santai Ani keluar dari kamarnya karena perutnya keroncongan dan berteriak minta diisi.


"Bikin apa bu?" Tanya Ani saat melihat bu Jannah sedang menggeprek jahe.


"Ini bikin wedang jahe... buat ayah kamu..." Jawab bu Jannah dengan memelankan suara di akhir kalimatnya. Seperti malu untuk menyebut ayahmu.


"Ayah? Ayah sakit?". Ani sedikit khawatir mendengarnya.


"Tadi nggak keluar rumah sama sekali. Kata nak Laila ayahmu sedang nggak enak badan...", kata bu Jannah malu-malu.


Ani tersenyum sambil berdehem untuk menggoda wanita yang sudah berumur itu,"Ehem...". Dan hal itu sukses membuatnya tersipu malu. Meski umur sudah menua tapi cinta bisa membuat seseorang kembali seperti muda. Ani merasa lega dengan hubungan Bu Jannah dan ayahnya.


"Assalamualaikum....", terdengar suara Kak Mia dan langkah kaki abangnya juga suara celotehan Maryam mulai masuk ke dalam rumah.


Ani segera berlari masuk ke dalam kamarnya karena belum siap bertemu dengan abangnya.

__ADS_1


__ADS_2