
Tiba-tiba hapenya bergetar dan ia melihat nama mas zein ada di sana.
Ia tersenyum mendapati orang yang dirindukannya menghubunginya terlebih dahulu. Ia pun langsung mengangkatnya
"assalamualaikum mas zein"
"waalaikumsalam warohmatulloh,
apa kabar di?"
"alhamdulillah baik. mas zein sehat ?"
" iya alhamdulillah.
shift berapa sekarang?"
"aku masuk pagi"
"besok weekend nggak ada acara nggak?"
"kayaknya nggak ada"
"jalan yuk...."
"belum bisa janji, nanti aku kabarin lagi ya mas".
"emmm..... " zainal ingin melanjutkan obrolan tapi bingung mau ngomong apalagi
Ani tersenyum mendengar gumaman zainal. sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama, masih ingin bicara panjang kali lebar... tapi sepertinya mereka tidak punya bahan yang bisa dijadikan bahan perbincangan.
" emmmm....itu.... kalau nanti malam ada acara nggak?"
__ADS_1
"kayaknya free"
kalau kita jalan gimana?
" emmmm.... gimana ya? " sebenarnya Ani ingin menolak tapi tak enak hati. Ia kemudian mencari alasan agar penolakannya tidak kelihatan seperti dibuat-buat. Ani tidak pernah keluar malam dengan lelaki selain dengan keluarganya.
" kayaknya nggak bakal di ijinin sama bang alif" kata Ani akhirnya karena tak menemukan alasan lainnya jadi dia berkata apa adanya.
" kalau Aku yang apel ke sana nggak bakal diusir kan?" tanya Zainal ragu
" hahaha..... semoga aja nggak!"
" fifty fifty dong.... jadi ada kemungkinan diusir dong...."
" enggaklah dang ding dong...... cuma bercanda kok. nggak bakalan di usir. tenang aja!" kata ani gemes
" hehe. ok deh kalau gitu. emmmm.. aku tutup dulu ya.."
" iya "
"waalikumsalam warohmatulloh"
" Dasar dokter gila.....!" karina menghentak-hentakkan kakinya saat sudah berdiri dekat dengan kakaknya
" Astaghfirullohal adziim........ Kamu bikin kaget aja sih rin.... Datang-datang langsung marah-marah nggak jelas. Ada apa? siapa yang gila?" tanya kakaknya sambil memegang dadanya karena terkejut dengan ulah karina
" solat yuk kak!"
" kamu udah makan siang?"
" udah tadi.."
__ADS_1
" sama siapa? dimana?"
" itu sama dr baim. udah ah. ayo cepetan kak...!" Rina terlihat menyembunyikan sesuatu dan ani merasakannya. Tapi ia tak ingin memaksanya bercerita apalagi harus memata-matainya. Emang dia pengangguran apa
Ani berjalan mengikuti karina yang menggeret tangannya menuju musolla. Ia menghela nafasnya. Semoga saja semua baik-baik saja dan kamu selalu dalam lindunganNya, Ani berdoa sambil terus berjalan.
.
.
Zainal sudah sampai di depan rumah Ani. Ia kemudian mengirimkan pesan pada kekasihnya kalau ia sudah sampai di depan rumahnya. Zainal memarkirkan mobilnya di tepi jalan kemudian melangkah ke rumah yang dituju Ani waktu ia mengantarkannya pulang waktu itu. Rumahnya pak dirman dan lukman yang depannya banyak sayurannya.
Rumah itu pintunya terbuka tapi sepi
" assalamuaalaikum...." zainal memberanikan mengucap salam sambil menekan bel.
" waalaikum salam warohmatulloh...." pak dirman tergopoh-gopoh keluar. Ia masih menggunakan sarung dan kopyah, sepertinya ia habis solat atau mungkin sedang wiridan.
" m..malam pak...!" kata zainal grogi
" malam...."
" itu... mmmm. mau ketemu sama Ani"
" disebelah...." kata pak dirman pelit mengeluarkan kata.
lukman keluar dengan pakain santainya. kaos oblong dan celana pendek selutut. Ia mendengar seseorang ingin bertemudengan adiknya. Zainal toh.... batinnya
Lukman keluar dan menunjuk rumah di sebelahnya dengan kepalanya," ke situ aja! "
"sini kunci mobil kamu biar aku masukin ke halaman. Kalau ada mobil nanti nggak bisa lewat situ" kata lukman lagi sambil menengadahkan tangannya pada zainal.
__ADS_1
Zainal merogoh sakunya dan memberikan kunci mobilnya pada lukman yang langsung berjalan menuju mobilnya.
Zainal pun berjalan ke rumah disebelah dengan berbagai macam pikiran.