
Zainal memperhatikan keakraban dokter Ani dan orang yang mencoba mengambil perhatian dokter Ani. Mereka tampak serasi. Wajah si pria tampak macho dan sedikit dingin. Ia juga punya sisi romantis dengan tingkahnya pada gadis yang ada disebelahnya.
Zainal mengakui pria itu sempurna secara fisik. Bahkan terbersit sedikit rasa iri dihatinya. Ia melihat kulit tangannya dan membandingkannya dengan pria itu.
"seperti kopi dan susu" bisiknya pada diri sendiri.
Laila yang sedari menatap zainal menoleh kearah pandangan Zainal.
Laila mengerjap-ngerjapkan matanya. Ada sosok opa korea seperti dalam khayalannya. Ia menoleh ke arah Zainal kemudian melihat ke arah jelmaan opa-opa itu lagi.
Zainal sosok yang hangat, manja dengan karakter wajah khas Indonesia. Kulit kecoklatan, mata yang lebar dan alis yang tebal dan tercetak di tambah lagi yang paling jelas ada belahan didagunya. Sangat manis dengan sifatnya yang sering kekanak-kanakan membuat cewek-cewek gemas padanya.
Ia jadi bingung harus meneruskan Niatnya untuk mendekati zainal managernya atau mencoba berkenalan dengan makhluk Tuhan yang sempurna yang biasanya berkelabatan dalam benaknya dan kini ada didepan matanya.
Di tempat kerja Laila sering mencoba mencari perhatian Zainal tapi Zainal cuek saja. Zainal berperilaku baik kepada semua orang, bukan hanya pada dirinya saja. kecuali jika moodnya sedang hancur maka Semua orang akan mencoba menghindar darinya.
Beberapa saat kemudian para pegawai restoron sibuk menata dan menyiapkan peralatan memanggang. sayuran, daging dan bumbu-bumbunya ditata diatas meja dengan sangat rapi. Barbequan ala ala....
__ADS_1
Ya.. hari itu Laila terutama dan teman-temannya ingin merasakan bagaimana rasanya makan di restoran yang mahal dengan memanggang daging dan sayur-sayuran sendiri seperti yang sering kali muncul di drakor tapi tanpa alkohol.
Dengan dipandu oleh pegawai restoran Mereka mulai meletakkan daging yang sudah dicelup dengan bumbu diatas alat pemanggang. kemudian memanggang sosis, kentang ,wortel dan bawang bombay juga.
Meletakkan daging yang sudah dipanggang di atas selada, membungkusnya seperti yang mereka lihat di drakor kemudian memasukkannya langsung kedalam mulut.
Mereka terlihat seperti orang desa yang baru ke kota. Maklum karena ini pertama kalinya. Mereka mencoba merasakan sensasinya makan daging panggang dengan dibungkus sayur mentah.
Mencoba memanfaatkan kesempatan mumpung gratisan. Mereka tidak ingin bergaya hidup ala sultan dengan gaji yang standar.
Semua teman-temannya menyadari akan hal itu tapi tidak bertanya karena Zainal fokus melihat meja yang ada di seberang.
Tangannya sibuk memasukkan daging ke dalam selada kemudian memasukkannya kedalam mulut sedangkan matanya melihat ke arah dokter Ani yang sedang bergurau dengan teman cewek yang ada disebelah kanannya.
Yang tak lepas dari pandangannya juga , pria perfect disebelah dokter Ani. Dia terlihat mengambil daging yang sudah dipanggang sempurna dan meletakkanya kedalam piring dokter Ani.
Dokter Ani yang menyadarinya kemudian mengambil daging dari atas pemanggang dan meletakkannya di piring teman cewek yang ada di sebelah kanannya.
__ADS_1
Teman cewek yang ada disebelahnya juga melakukan hal yang sama. Mengambil daging yang sudah terpanggang sempurna kepiring teman yang duduk disebelahnya. Dan mereka melakukannya berurutan seperti getok tular.
Mereka tertawa karena mengira seperti itulah etikanya di resto korea.
Sampai orang terakhir yang duduk di depan Dokter Ibrahim ragu apakah harus meletakkan daging di piring atasannya itu atau tidak.
"Tidak usah, kalian nikmati saja makanan kalian" Dokter Ibrahim mengatakan dengan aura kesalnya.
Maksud hatinya ingin memeberitahukan pada wanita cantik yang ada disebelahnya bahwa ia sangat perhatian dan mencoba menjalin hubungan spesial dengannya tapi malah berakhir tak terduga. Tak sesuai dengan yang diharapkannya
.
.
Dari meja yang lain Zainal tersenyum. Mungkin masih ada kesempatan, batinnya.
Di tempat duduk yang lain ada seorang pria bertubuh tambun yang tiba-tiba jatuh kelantai
__ADS_1