
Spesial to Susilawati thank you very much sudah setia mengikuti. Insya Alloh nanti di akhir cerita kamu termasuk salah satu yang dapat hadiah dariku. Nominalnya tidak seberapa tapi itu ungkapan cinta dan terima kasihku. Nanti kalau penghasilanku sudah kaya momy three mungkin aku akan bagi-bagi hadiah yang lebih pantas.
Terima kasih juga untuk semua yang sudah support aku entah itu di awal, di tengah atau di akhir cerita. Terima kasih banyak untuk like dan komennya. Dukungan kalian benar-benar jadi mood boster buatku. Memacuku untuk belajar menulis agar gaya tulisanku lebih menarik dan lebih baik lagi.
(((((((((((((((((((************))))))))))))))))
Zainal menghempaskan raganya yang lelah di kursi kebesarannya. Ia memutarnya ke kanan dan ke kiri sambil memejamkan mata.
Ia baru saja kembali ke kantor setelah mengantar papanya ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan yang rutin dilakukan tiap bulan. Ia harus bekerja keras merangkap beberapa pekerjaan agar ia bisa menikmati cuti beberapa hari setelah menikah nanti.
Zainal menghela nafasnya kemudian menghembuskannya dengan berat mengingat kejadian yang menyisakan banyak tanya dalam kalbunya.
Saat di dalam rumah sakit tadi ia sempat melihat sosok yang mirip dengan Ani tapi dia mencoba meyakinkan diri jika itu hanya semacam halusinasi karena rasa rindu yang terpatri.
Tapi saat di parkiran ia melihat motor matic yang mirip kepunyaan calon istrinya berada di jajaran parkir para karyawan. Ia mulai ragu apakah calon istrinya yang kemarin-kemarin ingin sekali di pingit kini malah keluar dan yang lebih tidak masuk akal lagi jika ia sampai bekerja di rumah sakit itu.
Ketika sudah berada di dalam mobil ia sempat celingak celinguk dan mendapati bayangan seorang gadis yang mencurigakan di belakang mobil berwarna merah dan Zainal bisa melihatnya melalui bayangan dari kaca mobil di belakang gadis itu.
Ia hampir yakin jika gadis yang kini sedang bersembunyi di balik mobil itu adalah Ani tapi ia ingin lebih yakin lagi.
Ia pun mengendarai mobilnya dan keluar dari area rumah sakit. Terbersit rencana untuk mengagetkan sang penggoda hati agar mau berterus terang dengan cara berhenti dan menghadangnya dengan bersandar di bagian belakang mobilnya dan melipat kedua tangannya sambil menunggunya keluar. Dan bisa dipastikan jika si calon istri pasti tidak akan bisa mengelak karena sudah tertangkap basah.
Tapi Zainal urung melakukannya karena ingin melihat sejauh mana calon istrinya mau berterus terang kepadanya. Ia pun memakai cara dengan berpura-pura berhenti beberapa meter dari rumah sakit yang searah dengan kantor dan rumah Ani. Ia melihat ban belakang mobilnya seolah-olah ada masalah dengan roda kendaraan yang dipakainya.
Zainal ingin tahu apakah Ani akan berhenti dengan sendirinya atau akan melewati nya begitu saja. Pria berperawakan tinggi tegap itu seolah mempunyai magnet yang bisa menarik perhatian orang-orang yang berada di sekitar situ.
Wajahnya yang menawan dengan bulu-bulu maskulin yang menghiasi pahatan sempurna sang pencipta dengan pakaian mahal yang tidak semua orang bisa membelinya, menjadikannya sebagai pusat perhatian. Bahkan kaum adam pun iri saat melihatnya. Ia serupa oase di padang pasir yang bisa menghilangkan dahaga bahkan sebelum meneguknya.
Tapi Ani melewatinya begitu saja seolah tarikan daya pikat itu tak berlaku untuknya.
Zainal mengamati punggung Ani yang melewatinya tanpa perduli pada sosok yang sedang mengamatinya. Padahal pria itu berharap calon istrinya akan turun dan menghampirinya. Menyapa dan menjelaskan padanya yang sebentar lagi akan menjadi imamnya, Bercerita mengapa dia ada di sana.
Zainal merasa seluruh pepohonan menatapnya sambil tertawa karena tak dipedulikan oleh belahan jiwanya. Seolah alam tak berpihak kepadanya dan mengejeknya.
__ADS_1
Pernikahannya tinggal beberapa hari saja tapi salah paham justru seperti mengepung mereka dari berbagai arah. Bagaimana mereka akan menjalani biduk rumah tangga jika tidak saling percaya.
Getaran ponsel di saku membuatnya tersadar dan kembali ke dunia nyata.
Ada notifikasi pesan dari orang yang baru saja dipikirkannya.
'Mas, gimana kabarnya papa?'
' Hm?' Zainal menekan send dan langsung di baca karena centang biru menandainya.
'Papa sehat kan mas?'
Zainal tak menjawabnya. Iq hanya mengetikkan kata-kata acak tanpa berniat mengirimkannya karena memang ingin gadis yang di sana merasa kesal menunggu balasan dan segera menghubunginya.
Berhasil, kini ponselnya berdering dan nama Dinda terpampang di sana.
Zainal berdebar-debar saat mengangkatnya ia berdoa semoga perbincangan kali ini tak membuat mereka berdebat lagi. Semoga tak ada dusta dan rahasia yang tersembunyi sehingga membuat cinta mereka kembali bersemi.
Ani yang dilanda rasa bersalah akhirnya mencoba untuk merangkai kata. Meski bisa di tebak pasti akan kena marah juga tapi ia yakin pada akhirnya calon suaminya yang lembut hati dan baik perangainya itu akan memahami dan tentu saja memaafkan khilafnya.
"Mas.... papa sehat kan mas?" Ani mengawali percakapan tentang keadaan calon mertua karena ada rasa khawatir pada pria berumur yang sangat ia hormati dan ia sayangi.
"Alhamdulillah baik. Kenapa?" Zainal memancing agar Ani segera berterus terang karena ia pun sudah di lingkupi rasa penasaran.
"Emm.... Itu... anu mas emmm.... apa ya...?" Karena rasa bersalah bibirnya terkunci tak mampu untuk bertutur kata dengan jelas.
"Apa itu anu?" Zainal mengerutkan kening meski gadis yang sedang bicara dengannya tak bisa melihat reaksinya. Suaranya masih lembut seperti biasanya.
"Mas janji jangan marah ya!" Ani mencoba merayu.
"Apa dulu..?"
"Nggak. Janji dulu kalau mas nggak akan marah baru aku mau ngomong..."
__ADS_1
"Ehm....kamu takut aku marah? Kenapa? Kamu melakukan kesalahan apa?" Desak Zainal sambil mendesah.
"Nggak mau. Pokoknya mas janji dulu kalau nggak bakal marah baru aku mau ngaku..."
"Aku nggak bisa janji. Kalau kamu nggak mau ngomong ya sudah. Mungkin aku ini nggak terlalu berarti buat kamu..." Zainal mengeluarkan jurus mautnya, merajuk. Meski dalam hati dia takut jika Ani benar-benar tak mau mengungkapkan rahasianya.
"Mass... itu... tadi pagi aku mulai kerja di rumah sakit Sakinah.... yang dekat dengan rumah kamu mas...." Akhirnya Ani bisa mengatakannya. Ia merasa lega karena bisa menyampaikan sesuatu yang memang seharusnya di sampaikan. Ia menggigit bibirnya menunggu respon Zainal.
Mulut Zainal terbuka saking kagetnya. Bagaimana bisa calon istrinya mengambil keputusan di saat semua orang sibuk mempersiapkan pernikahan mereka dia malah keluar untuk bekerja. Siapa yang kemarin bersikeras ingin dipingit?
Zainal memijat pelipisnya mencoba bersabar dan belajar menguasai keadaan karena sebentar lagi ia akan menjadi kepala rumah tangga yang punya kewajiban untuk membahagiakan keluarganya. Sampai beberapa menit kemudian Zainal terdiam memikirkan kalimat yang tepat untuk diutarakan.
"Mas.... maaf... ! Sebenarnya aku mau mengambil pekerjaan itu setelah kita menikah dan berbulan madu. Tapi ini keadaannya darurat. Dua dokter tetapnya tidak bisa bekerja karena kecelakaan dan yang satunya lagi cuti melahirkan" Ani menjelaskan panjang lebar berharap si pria dengan dagu terbelah itu akan memakluminya.
Ada satu kata yang diucapkan calon istrinya dan itu menggelitik hatinya, bulan madu.
Tapi Zainal menepikan keinginannya untuk menggoda Ani dengan Kata-kata itu dan lebih memilih untuk membahas tentang pernikahannya dulu.
"Lalu.... ketika kita menikah, apa pengantin wanitanya tidak bisa hadir saat ijab kabul nanti?" Zainal serius bertanya.
"Maaf.... aku akan membicarakannya dengan pimpinan rumah sakit. Semoga ada teman sejawat yang bisa menggantikan aku. Tapi itu mungkin cuma sehari mas. Bagaimana? Kalau mama tahu pasti beliau marah. Mas jangan kasih tahu papa sama mama ya..! Aku tidak mau dipecat jadi menantu..." Ani mengeluarkan semua kata rayu yang bila dalam keadaan tak genting macam ini ia pasti berpikir seribu kali.
Zainal menahan senyum mendengar Ani tak ingin dipecat jadi menantu padahal mereka belum menikah tapi hatinya kembali lagi mengingat bagaimana bila tepat pada hari tak ada yang bisa menggantikan calon istrinya kemungkinan besar dia akan mengucapkan ijab kabul tanpa calon istri di dekatnya.
Zainal mencoba memahami niat baik Ani untuk melakukan kebaikan dengan menolong banyak orang semoga dengan itu rencana pernikahan mereka akan mendapatkan kemudahan dan keberkahan.
"Bang Alif bilang apa?" Tanya Zainal ingin mendengar pendapat calon kakak iparnya.
"Aku belum bilang sama abang. Tidak berani keluar kamar..." Suaranya terdengar ingin menangis.
"Kok bisa sih di?" Zainal merasa heran dengan Ani. Baru kali ini dia mengetahui sisi lain Ani yang seperti ini. Mungkin benar kata orang-orang kalau manusia itu terkadang bersifat kekanakan. Dan mungkin saat ini calon istrinya berada dalam fase itu.
"Aku harus bagaimana mas?"
__ADS_1