
" Sudah selesai kak acaranya...... Kakak kapan pulang?" Rina sedang video call dengan Ani setelah acara selesai. Hanya tinggal beberapa tetangga yang tinggal. Zainal tampaknya juga masih enggan pulang meski sudah berjam-jam berada di sana.
" Belum tahu ini kapan pulangnya".
" Mau ini nggak kak .... hemm... enak lho satenya?" Rina menunjukkan gambar piring yang berisi nasi dengan kuah gule dan lauk sate.
"Nyam...nyam.... nyam.. hem enaknya...." Rina mengambil sate dan mencium aromanya sambil memejamkan mata.
"Dosa lho ya bikin orang ngiler. Kirim ke sini!" Ani nampak pura-pura marah.
" Ahaha..... kakak sih gak mau pulang-pulang. Aku kirim gambarnya aja yah....!"
Zainal yang berada di ruang tamu menajamkan telinganya mencoba mendengar suara Ani.
" Kan belum ada waktu....".
"Jangan-jangan kakak sudah punya pacar disana ya ...."
" Hush.... kamu itu. Disini itu wilayah pesantren. Nggak ada itu yang pacar-pacaran. Kalau ada yang kayak deket-deketan terus nggak mau lepas langsung dibawa ke pondok terus dinikahin...."
"Huuu.... takut...." Rina mengerucutkan bibirnya.
"Sehat An...?" kak Mia sekarang yang memegang hapenya Rina ingin berbicara dengan adik iparnya juga.
"Alhamdulillah sehat kak. Maryam.....!" Mia mengarahkan hape ke wajah putrinya.
"Kayak bang Alif ya kak? " Kata Ani antusias
"Masa?"
"iya kak... coba deh lihat fotonya abang di album. Persis kayak Maryam kak. Ini bang Alif versi ceweknya..."
"Yah... masa bundanya cuma numpang lewat doang?"
" haha... Kasihan.... bang Alif mana kak?"
" Masih didepan..."
"Kamu nggak nanya aku An?" Lukman yang sedang di meja makan ikut bersuara. Laila yang berada di dekat Mia kemudian menerima hape itu dan dibawanya kepada suaminya.
__ADS_1
"Abang.... !" Ani memanggil abangnya yang dingin tapi suka ngambekan itu.
"Halo....." Laila mengarahkan kamera ke wajahnya.
"Halo kak Lala..... gimana? masih suka mual nggak?"
"Alhamdulillah sudah nggak. Sekarang malah makan terus nggak mau berhenti...." Laila masih canggung memanggil nama Ani saja karena usianya lebih muda. Ia kemudian duduk disebelah suaminya dan kamera hape diarahkannya ke muka mereka berdua.
"Bang Lukman.... ushh tambah eksotis aja kulitnya...." kata Ani melihat kulit Lukman yang nampak coklat tua.
Laila mencubit pipi Lukman karena merasa Lukman mengacuhkannya.
"Romantis banget sih...." Ani yang melihat adegan itu jadi pingin.
Lukman tak merespon sikap Laila dan terkesan mengacuhkannya.
" Kamu sama siapa An?" Lukman melihat Ani seperti duduk di teras dengan lampu yang tidak seberapa terang. Lukman mengambil hape dari tangan istrinya dan membawanya ke depan ke ruang tamu.
"Sama ibu aku nih...." Di layar terlihat wajah bu Jannah yang tersenyum di samping Ani.
"ehem...."dari seberang sana terdengar suara bass seorang pria yang membuat Lukman kaget.
"Oh...itu ustadz Zein putranya bu Jannah...." Ani terlihat kikuk saat memperkenalkan mereka.
"Selamat malam ustadz Zein..." Bang Alif langsung menyebut nama sang ustadz karena ingin berkenalan dengan seseorang yang nampak dekat dengan adiknya itu.
"Malam bang...." kini di layar nampak sosok yang berwajah putih tampan dengan pakaian yang sangat sederhana.
" Ustadz sudah lama kenal dengan adik saya?"
"Semenjak hari pertama dokter Ani datang kesini bang. Kebetulan saat itu saya sedang menjemput anak-anak yang baru kembali ke pondok setelah liburan jadi Bu Dokter bareng sama saya "
" Oh.... sudah beberapa bulan ini ya. Kalau boleh tahu ustadz ngajar pelajaran apa dipondok?" Bang alif to the point pertanyaannya.
"Alhamdulillah... saya disini belajar sambil berbagi sedikit ilmu nahwu sorof yang saya ketahui kepada adik-adik disini."
" Masya Alloh. Boleh nanti minta nomernya ustadz?"
"Iya dengan senang hati..."
__ADS_1
"Terima kasih waktunya ustadz..."
"iya sama-sama."
"Bu nitip adik saya ya bu! tolong dijaga adik saya yang sangat berharga itu...." Lukman ikut berbicara disamping bang Alif pada Bu jannah.
"injih nak injih insya Alloh. Saya akan menjaga dokter Ani....." Bu jannah menjawabnya dengan sangat sopan.
"Terimakasih bu....."
"Injih sama-sama ..... Senang berkenalan dengan keluarganya dokter Ani...."
"Kami juga bu....."
"An..... baik-baik disana jangan lupa selalu baca ayat kursi." Wajah Ani sekarang terpampang di layar hape.
"Iya bang....."
" Ya sudah aku tutup ya! sudah malam..."
"Iya bang.... makasih. Assalamualaikum...."
"waalaikumsalam warahmatullah..."
"Tumben lancar ya bang. Sinyalnya kalau jam segini bagus atau gimana ya kok nggak putus-putus suaranya kayak biasanya." kata Lukman pada bang Alif yang hanya menjawab "mungkin..."
Zainal yang sedari tadi menyimak obrolan mereka menjadi panas hatinya. Ia pun ikutan segera pamit ketika ada salah satu tetangga bang Alif yang pamit pulang.
Sesampainya di dalam mobil ia tak langsung menyalakan mobilnya. Ia marah tapi tak tahu harus melampiaskannya pada siapa.
"Dia sudah move on ya. Cepat sekali....Sudah ketemu cowok lain lagi. Kenapa cuma aku yang disini menderita. Suaranya bahkan terdengar ceria. Ini tidak adil.... ini tidak adil...." Ia memukul-mukul kemudi mobilnya kemudian menelungkupkan wajahnya dan menangis disana.
Cengeng sekali dia.
.
.
.
__ADS_1
Dikamar Lukman, Laila sedang memakai lingerie untuk merayu suaminya yang sedang ngambek.