
Aku keluar dari supermarket TOP DW berjalan beriringan dengan bang Lukman.
Hatiku sedang galau. Tadi sewaktu di dalam aku melihat mas Zainal sedang tebar pesona pada gadis-gadis cantik dan seksi yang bersileweran di sana. Hatiku panas, aku merasa cemburu meski aku tahu kami hanyalah sepasang kekasih.
Di tengah jalan kami melihat ada gadis cantik dan seksi dengan tubuh sempurna bak foto model dengan lekukan yang memanjakan mata. Tonjolan di bagian depan dan belakangnya terlihat sempurna ditambah lagi dengan pakaian yang melekat pada tubuhnya. Ia mengenakan baju hem yang ketat dan mengenakan rok sepan di atas lutut. seperti sekretaris Kim di Drakor yang pernah kulihat. Hanya saja gadis itu menggerai rambutnya.
Gadis itu berjalan dengan cepat melewati kami. Aku melirik bang Lukman yang memandang gadis itu sekilas. Aku merasa mereka saling mengenal tapi sepertinya sama-sama gengsi untuk saling menyapa. Bang Lukman kemudian berjalan ke arah parkiran setelah menyuruhku untuk menunggunya di depan gerbang .
Aku mengangguk dan berjalan ke arah depan. Melihat orang yang lalu lalang . pemandangan kota yang tak pernah sepi dari berbagai aktifitas warganya.
Aku bersandar di pagar pintu masuk. ku hirup udara pelan-pelan lalu ku hembuskan dengan kasar.
Apa boleh aku cemburu? Meski aku tau ini belum hakku karena aku belum menjadi istrinya . Bahkan seorang istri saja boleh dimadu, apalagi aku. Mungkin mas Zein belum yakin denganku atau jangan-jangan dia hanya main-main denganku?
Kenapa rasanya sakit sekali saat melihat mas Zein senyum-senyum pada cewek lain. Apa pantas aku marah kepadanya, apa boleh aku mengutarakan isi hatiku dan menumpahkannya? Pikiranku kacau sekali malam ini.
Sekilas aku melihat gadis cantik tadi sedang menoleh ke kanan dan ke kiri seperti menunggu seseorang. Ia berdiri cukup jauh dariku. Saat mata kami bertabrakan akupun segera mengalihkan pandangan.
Beberapa cowok yang ada di seberang jalan menggodanya,
" suit suit....."
"cewek.... Abang anterin pulang yuk...?"
" seksi.... main dulu yuk...."
Aku memandang gadis itu, ternyata dia tak meladeninya sama sekali. Ia mengeratkan tas Selempangnya yang membuat dadanya semakin terlihat menggoda.
brum Brum bruuum........
__ADS_1
Bang Lukman menghentikan sepeda motornya di depan ku tapi matanya menatap gadis yang sedang di goda cowok-cowok berandalan dengan gaya urakan dan mulut seperti comberan yang ada di seberang jalan. Padahal masih banyak orang lalu lalang tapi mereka tak punya rasa sungkan .
Bang Lukman melihatku seperti ingin mengatakan sesuatu. Sepertinya aku tau apa arti tatapan matanya.
"a,n..."
"Abang anterin dia aja aku akan pesan ojek online" Aku punya feeling kalau mereka memang saling kenal dan abang ingin mengantarkannya pulang.
Bang Lukman menatapku seolah ingin minta maaf.
"Abang anterin dia dulu sebentar kamu tunggu disini aja. abis itu Abang jemput kamu" Kata Abang padaku.
"Udah Abang anterin dia aja, kasihan dia. Kalau cowok-cowok itu macam-macam sama aku akan kupatahkan leher mereka" Kataku berapi-api agar abangku ini tak merasa khawatir dengan adiknya yang pandai bela diri ini.
" Maafin Abang ya An...." katanya tulus
" Maaf..." katanya sambil menjalankan sepeda motornya dan mendekati gadis itu.
Gadis berbodi aduhai itu tak menghiraukan bang Lukman ia masih saja melihat jalanan. Benar dugaan ku jika mereka sudah saling kenal. Abangku itu langsung turun dan memakaikan helm di kepala sang gadis yang terlihat tak menolak dengan perlakuan abang. Ia hanya diam tak bergeming. Bang Lukman kemudian melepas jaketnya dan menaruhnya di kedua pundak gadis cantik itu. Lalu Abang berjalan ke motornya sambil berkacak pinggang melihat ke arah cowok-cowok yang tadi menggoda gadis itu dan mereka langsung menundukkan kepala berpura-pura mencari sesuatu di tanah.
Akhirnya gadis itu naik ke motor bang Lukman mungkin dengan terpaksa tapi aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya yang tertutup helm. Mereka akhirnya pergi dan itu membuatku sadar bahwa aku juga harus segera memesan ojek online karena sedari tadi aku malah asyik melihat mereka.
Aku menegakkan kerah jaket di leherku untuk menghalau udara dingin malam ini. Beberapa kali aku tekan pesan sekarang tapi sepertinya tidak ada driver yang menerima permintaanku. Setelah mencoba lagi dan lagi akhirnya pesananku diterima dan driver akan segera menjemput anda , begitu balasannya.
Tin tin..... suara klakson mobil membuatku kaget dan aku langsung menoleh ke sumber suara.
Mas Zein.,....,
Ia menepikan mobilnya dan buru-buru menghampiriku. Aku belum siap ketemu dia. Aku masih marah. Kini bahkan air mataku sudah menggenang di pelupuk mata. Aku mengusapnya sambil memalingkan muka. Kenapa juga aku harus menangisi seseorang yang belum tentu akan menjadi jodohku nanti.
__ADS_1
" Dii kamu kenapa?" katanya sambil memiringkan wajahnya untuk melihatku
"Nggak papa" jawabku sambil menarik nafas untuk mengendalikan emosiku.
" Kamu nunggu siapa?"
"Ojek online" jawabku singkat
" Aku anterin yah...?"
"Nggak usah, makasih" Aku sama sekali tak berani menatapnya. Di satu sisi aku marah padanya tapi di sisi lain aku juga ingin bersamanya. Beberapa hari tak bertemu membuatku rindu pada sosoknya. Aku ingin melepas rindu dan berbincang-bincang ataupun saling bercerita dengan dia yang beberapa hari ini mengobrak-abrik hatiku.
Sebuah mobil Inova berhenti tepat di depan kami, ia kemudian bertanya untuk memastikan titik penjemputan.
Aku mengatakan jika memang benar aku yang sudah memesannya.
"Berapa ongkosnya pak?" tanya mas Zein pada sopir itu.
" 38 ribu" kata sang driver sambil melihat aplikasinya.
" Aku naik ini aja mas" kataku berbasa-basi padahal aku ingin sekali dia membujukku.
" Aku antar!" katanya ketus sambil mengeluarkan uang 50 ribuan dua lembar dan memberikannya pada driver yang melongo melihat kami.
" Ayo..." mas Zein menarik lengan jaketku dan membawaku masuk ke dalam mobilnya.
"Jangan lupa kasih bintang lima ya mbak!" sopir itu masih sempat berteriak sebelum kami masuk ke dalam mobil .
Malam itu di sepanjang perjalanan aku masih pelit bersuara sehingga membuat mas Zein bingung dan menyerah untuk tak mengajakku bicara. sejak dua bulan menjalin kasih dengannya , ini adalah pertama kalinya aku ngambek dan marah padanya
__ADS_1