Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Zainal


__ADS_3

Aku mengirimkan pesan singkat setelah sudah sampai di parkiran rumah sakit tempat nya bekerja. mengajaknya pergi ke butik untuk membeli baju couple. Aku ingin datang ke pesta pernikahan temanku dengan baju yang sama seperti pasangan lainnya.


Aku masuk dan menunggunya di lobi rumah sakit setelah mengetahui dari resepsionis jika dia masih menerima pasien.


Aku menunggunya dengan duduk bersandar sampai mataku terpejam, menyandarkan kepalaku ke tembok dengan tangan bersedekap dan kaki yang kuselonjorkan. Aktifitas di toko yang padat hari ini membuat tubuhku penat.


Aku terbangun saat ponsel di saku celanaku bergetar.


Dee calling


Bibirku tersenyum saat melihat siapa yang memanggilku. Kugeser gambar telpon yang berwarna hijau.


"Assalamualaikum di?"


Tut Tut Tut


Aku melihat ponselku , ternyata panggilannya terputus tapi aku mendengar seseorang di sebelahku menjawab salam.


"Waalaikumsalam warahmatullah"


Ternyata dia sudah ada di sampingku. Aku mengamati wajahnya sepertinya dia sudah tidak marah padaku dan semoga saja dia sudah memaafkanku


"Pulas banget tidurnya, di panggil-panggil nggak berkutik sama sekali."


" Benarkah? aku capek banget hari ini. begitu kepalaku bersandar langsung hilang kesadaran",kataku sambil menggeliatkan badanku untuk mengembalikan kesadaranku yang belum sempurna.


" Bisa kan?" tanyaku untuk memastikan dia mau ikut denganku atau tidak.

__ADS_1


" Pesanku belum di baca ya?". Dia justru balik bertanya.


Kulihat ponselku dan membaca pesannya, dikirim sepuluh menit yang lalu. saat aku tertidur.


"Sudah siap kan?"


"Sudah ." katanya


Akupun segera beranjak dari tempat dudukku dan berjalan beriringan dengannya. Banyak orang yang menyapanya di saat kami berjalan di sepanjang rumah sakit dan dia menjawabnya dengan santun dan anggun sekali.


Makin tambah kan nilai plusnya.


.


.


.


Aku mempersilahkannya untuk memilih gaun yang disukainya dan nantinya aku tinggal mencari baju pasangannya. Tapi diluar dugaanku dia malah memilih baju batik yang sederhana, sangat sederhana menurutku. Desainnya memang elegan tapi warnanya sangat lembut. Itu terlihat seperti untuk para guru atau orang-orang yang sudah berumur yang sedang melakukan reuni.


Ia hanya mencobanya di ruang ganti dan sama sekali tak menunjukkannya kepadaku. Tanya bagus kah atau cantik. Dan parahnya Itu cuma ada dalam angan-anganku saja.


Begitu ia keluar dari ruang ganti ia langsung menuju kasir dan hendak membayarnya.


Aku langsung mengeluarkan kartuku dan memberikannya pada kasir.


"Yang ini aku bayar sendiri mas!" katanya.

__ADS_1


Apa, bayar sendiri? pacarku yang dulu-dulu selalu aku yang membayar belanjaan mereka,


Gadis ini...... kenapa kau sangat menarik? aku jadi gemas sekali, ingin sekali aku menggigitmu..... Meski di sudut hatiku aku merasa harga diriku sebagai lelaki jatuh.


"Aku yang minta tolong padamu untuk datang ke pesta temanku jadi biarkan aku yang bayar ini", kataku dengan nada tegas mm


"Nggak, ini aku yang bayar mbak ." katanya sambil mengeluarkan uang tunainya dan segera membayarnya pada mbak kasir.


Kasir itu terlihat bingung, apakah harus diterima atau tidak uang yang disodorkan padanya.


Sebenarnya aku suka sikapnya yang tidak suka minta ini itu karena kami belum menikah tapi jiwa kelelakianku tak terima jika harus ditolak mentah-mentah oleh pujaan hatiku.


Aku menatapnya dengan cemberut


"Jangan marah mas, aku tidak tahu kita berjodoh atau tidak jadi aku tak mau punya hutang budi padamu" . Katanya dengan nada datar dan itu justru menyakiti hatiku.


"Apa baju ini ada pasangannya?" tanyaku pada kasir.


"Ada pak, mari saya tunjukkan. Uuran bapak apa?" kata salah satu pegawai yang ada disitu sambil menelisik ukuran tubuhku.


Aku melihat ukuran baju yang dipilih kekasihku tadi kemudian mengikuti pegawai tadi.


Keluar dari butik itu aku membawa beberapa paper bag berisi satu baju batik, jas dan tiga kebaya untuk gadis yang sedang menenteng satu paper bag ditangannya.


Ok kalau tak mau aku bayar baju yang satu tadi tapi dia tak bisa menolak baju yang tiga ini. Terdengar sedikit memaksa.


Iya karena aku tak bisa terima begitu saja. Gadisku ini harus menerimanya.

__ADS_1


__ADS_2