
pov Ani
"Ehm ehm..."
Sontak kami berdua yang sedang asyik mengulik cerita tentang salah satu Ummul mukminin kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara dan kami mendapati mama dan papanya Mas Zein sudah berada dekat pintu tak jauh dari tempat kami duduk.
"Bagaimana Zein bisa terluka?" Tanya mamanya mas Zein sebelum kami membuka suara.
"Sabar ma...!" Suaminya mencoba menenangkan sang istri yang terlihat emosi.
Aku dan bang Alif berdiri untuk menghormati orang yang lebih tua dari kami.
"Malam Pak.... bu..." Kata Bang Alif dengan sopan kemudian bersalaman dengan papanya mas Zein.
"Malam..." Jawab mamanya singkat. " Jadi bagaimana?"
"Maaf tante, saya yang salah....." Jawabku dengan menunduk. Aku tidak bersalaman dengannya karena aku masih ingat betul bagaimana dulu mama mas Zein itu menolakku jadi aku mengantisipasi daripada nanti tanganku menggantung tak ditanggapi.
"Kalau begitu kamu harus bertanggungjawab!" Katanya sambil bersedekap.
"Ma..h... kita dengar dulu penjelasannya. Pasti ini adalah kesalahpahaman". papanya mas Zein mengusap pundak istrinya yang sedang marah.
"Baik Tante...." Jawabku masih sambil menunduk. Aku tahu aku yang salah maka aku juga harus tahu konsekuensi nya dan bertanggung jawab sampai dia sembuh.
"Oh ya? Kamu yakin bisa bertanggung jawab pada Zainal? Bagaimana caranya?" Dia masih saja emosi sehingga membuatku mendongak melihat ke arahnya. Iya aku tahu aku salah dan aku bersedia kok bertanggungjawab kenapa mesti marah-marah?
"Saya akan menjaga mas Zein sampai dia sembuh...." Jawabku sambil melihat ke arah wanita yang menyayangi mas Zein itu.
"Hanya itu?? Kamu kira itu cukup dengan apa yang sekarang dialaminya? Kamu harus bertanggungjawab pada anakku! Kamu yang membuatnya seperti itu jadi kamu harus bertanggung jawab....!" Kata-katanya terdengar kasar dan suaranya juga keras sekali seperti menahan sesak dalam hatinya. Suaminya yang mencoba menenangkannya tak dihiraukannya.
Bang Alif juga hanya melihatnya saja tanpa menyahuti perkataan mamanya mas Zein dan tak membelaku sedikitpun. Aku merasa tertekan tapi tak bisa berkutik apalagi balas berteriak.
"Ma.... uhuk uhuk aaaggh..." Suara mas Zein membuat kami semua menoleh ke arahnya. Pasti ia kaget dengan pertengkaran kami dan mamanya pun segera mendekatinya.
"Zein.....mana yang sakit?" Kata wanita yang masih terlihat cantik itu sambil mengusap dada putranya.
__ADS_1
Aku dan abang berdiri agak jauh dari bed mas Zein. Tak ingin mengganggu pertemuan anak dan orang tuanya itu. Bang Alif memeluk pundakku dan mencoba menenangkanku karena aku ikut tersulut emosi.
"Mah.... Ani tidak salah. Tadi aku mengikutinya dan Ani merasa ada orang yang tak dikenalnya sedang menguntitnya. Lalu dia menghadang kakiku dan aku terjatuh. Itu saja". Mas Zein benar-benar membelaku.
"Pokoknya dia harus bertanggungjawab! Mama tidak mau tahu..."
"Mah!!!" Papa mas Zein menekan suaranya dengan nada emosi.
"Ani akan menjagaku sampai aku sembuh. Iya kan di?" Tanya mas Zein yang sepertinya masih kesakitan setelah batuk tadi dan aku langsung menganggukkan kepalaku. Entah kenapa suasana ini seperti pertengkaran antara mertua dan menantu perempuan kemudian suami dan mertua laki-lakinya membelanya.
"Ma....". Mas Zein sepertinya sedang mencoba menenangkan mamanya agar tak emosi dan menekanku lagi.
"Mama nggak mau tahu. Dia harus bertanggungjawab!" Katanya sambil menudingku yang semakin merasa bersalah juga kesal.
Aku tahu seorang ibu akan marah saat anaknya dianiaya orang lain tapi bukan kah ini sedikit keterlaluan karena aku kan sudah bersedia untuk bertanggung jawab. Kenapa seolah-olah aku mau melarikan diri.
"Satu-satunya jalan kamu harus menikah dengan Zainal dan rawat dia dengan benar. Aku tidak mau dia nanti kenapa-kenapa....." Katanya sambil menangis di pundak sang suami.
Apa aku salah dengar? A-apa yang sebenarnya terjadi? Aku masih berdiri menatap wanita yang baru saja marah-marah padaku. Aku melihat mas Zein yang sama bingungnya dengan diriku. Kemudian aku menoleh ke bang Alif yang ada di sampingku.
Kami semua kebingungan tapi tak juga ada yang bersuara untuk bertanya apa yang terjadi sebenarnya.
"Apalagi? Bukankah anakmu itu menderita setelah berpisah darinya? Apa papa mau melihat Zein jadi bujang lapuk dan bersedih seperti dulu?" Katanya masih dengan nada menyolot.
"Sssttt. hati-hati kalau ngomong! Ucapan mu itu doa buat anakmu ma...! Kata papa mas Zein dengan suara agak keras.
"Karena itu pah.... Aku ingin anakmu itu bahagia sama gadis yang dia suka ".
Aku melihat mas Zein yang kini sudah menangis. Mungkin mas Zein merasa terharu dengan pengakuan mamanya yang meskipun galaknya minta ampun tapi ternyata sangat sayang padanya.
Apa ada orang yang melamar seorang gadis dengan cara marah-marah seperti itu? Oh my God. Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana sekarang. Belum jadi menantu saja sudah garang minta ampun bagaimana kalau nanti sudah jadi menantu?
"Kenapa, kamu tidak mau bertanggung jawab?"
"Mah.... mana ada orang tua yang melamar seorang gadis untuk anaknya dengan cara seperti itu? Datang baik-baik ke orang tuanya lalu minta dia untuk merelakan putrinya untuk dijadikan menantu di rumah kita...!"
__ADS_1
"Pokoknya mama nggak mau tahu. Dia tidak boleh menolak, pokoknya dia harus mau.... titik"
"Mungkin sekarang calon mantu kamu itu berpikir bagaimana nanti bisa hidup berdampinga dengan mertua macam kamu mah..."
"Pokoknya mama nggak mau tahu. Dia harus mau" Kata nya sambil duduk di sofa.
Suaminya yang bijak itu hanya geleng-geleng menanggapi kelakuan aneh istrinya.
"Mohon maaf ya anak berdua. Tolong dimaklumi. Beginilah kami para orang tua itu. Terkadang kami bertindak seperti anak kecil lupa dengan usia lupa kalau anaknya sudah dewasa... Maksud istri bapak itu ingin nak Ani ini agar bersedia jadi menantunya tapi tak tahu harus bicara apa..."
"Pa...h"
"Iya pak, saya bisa mengerti. Tapi ini adalah tentang pernikahan adik saya jadi kami harus membicarakannya lagi" Kata bang Alif dengan bijak seperti biasanya.
"Iya tentu saja. Sekarang karena sudah ada kami, anak berdua silahkan pulang saja dulu! Nggak papa!" Kata beliau dengan tenang.
"Katakan besok pagi dia yang harus jaga Zainal pah!" Mama nya masih saja ketus.
Lagi-lagi pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya.
"Bisa saya bicara dengan Ani sebentar bang?" Tanya mas Zein dengan menampilkan muka melas ala-ala.
Satu persatu yang ada di ruangan itu beranjak pergi ke luar meninggalkan kami berdua. Aku pun berjalan mendekatinya.
"Jangan lama-lama Zein!" Kata bang Alif.
"Iya bang.." Jawabnya.
"Maafin mama ya di.... Mulutnya memang sepedas sambal level 10 tapi aku yakin mama tidak akan menganiayamu nanti saat kamu sudah jadi istriku dan sudah menjadi menantunya. Percayalah padaku! Aku yang akan menjagamu di... Kumohon lihat aku! Kalau perlu kita punya rumah sendiri dan tidak bercampur dengan mama. Kamu mau kan di... jadi istriku?" Matanya berkaca-kaca dan begitupun dengan diriku. Kami tak kuasa untuk menghentikan tangisan kami.
"Mas Zein aku pulang dulu..." Kataku tak menjawab pertanyaannya.
"Di...."
"Besok pagi aku akan datang lagi...." Aku segera berbalik sambil mengusap air mataku dan berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
"Di.... I love you...." Katanya dengan suara serak.
Aku menoleh dan tersenyum padanya.