Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Tua-tua


__ADS_3

"Namanya Muhammad Latif Assidqi. Lihat ! Dia mirip denganku kan?". Lukman mendekatkan wajah El yang tidur dengan nyenyak dalam bedongan dan hanya kelihatan wajahnya saja.


Lukman sedang di dalam kamarnya, dia sedang melakukan video call dengan Doni yang saat ini ada di pesantren.


"Dia lebih mirip kakakku". Kata Doni.


"Hei!! Kakakmu itu perempuan. Keponakanmu ini laki-laki!!". Lukman berteriak pada Doni yang jauh dari tempatnya.


"Cup cup cup.... maaf nak.... maaf sayang... Itu pamanmu yang nakal. Mau ayah jewer saja telinganya". Ia berdiri sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya agar El tenang karena sesaat tadi dia seperti kaget dan menggerakkan badannya seperti mau menangis karena teriakan sang ayah.


"El.... ini om Doni... lihat sini!! Kapan dia boleh diajak ke sini bang?". Rasanya Doni sudah tidak sabar ingin sekali memegang keponakannya yang kecil mungil yang panjangnya tidak lebih panjang dari lengannya itu.


"Kau ini... baru juga beberapa hari. Lihat nanti. Mungkin setelah 40 hari atau bahkan lebih...". Lukman sudah duduk kembali karena El sudah tenang dan kembali tidur.


"Bang.... makasih ya..!!. Sudah mau menikah dengan kakakku dan menerimaku..."


"Kau tidak bosan selalu berterimakasih kepadaku? Kita ini keluarga tidak perlu seperti itu ! Belajar yang giat, buat kakakmu bangga! Itu saja". Air mata Lukman sudah menggenang di pelupuk matanya.


Laila yang sebenarnya sudah dari tadi mendengarkan percakapan mereka menjadi terharu. Adik dan suaminya itu kerap melakukan pembicaraan berdua tanpa sepengetahuannya. Mereka saling bercerita dan memahami satu sama lain meski sering terlihat seperti orang yang sedang bertengkar. Tapi menurut Laila hubungan mereka itu sangat mesra.


"Mas...!", panggilnya sambil memegang kedua pundak suaminya.


"Ya...". Lukman berdiri sambil berusaha mengusap air matanya tanpa ketahuan istrinya.


"Mas kenapa?", tanya Laila yang tahu suaminya menangis dan mencoba menyembunyikan hal itu darinya.


"Kelilipan kayaknya...". Laila mengusap air mata suaminya dan langsung mencium pipinya. "I love you...".


"I love you tooooo". Ia mengecup bibir suaminya dengan gemas.


"Kak....!". Doni membuyarkan drama rumah tangga kakaknya agar tak seperti obat nyamuk.


Lukman keluar dari kamar sambil menggendong El untuk memberikan ruang pada istri dan adik iparnya untuk saling bicara.


"Kamu apakan abangmu sampai dia menangis...?"


"Memang apa yang bisa dilakukan anak kecil sepertiku? Badan abang saja sekeras itu....".


" Dia itu suamiku....!!! Lagipula badannya bagus, tinggi, keras, berotot, perutnya six pack. Pokoknya dia itu pria paling sexy yang pernah aku lihat...."Puji Laila tulus dari hatinya.


"Dulu ada gadis yang bilang, dia itu pria tua, jadul, norak..... Bilangnya nggak mau nikah dengannya sekarang jadi bucin kayak gitu....". Doni mengingatkan masa lalu kakaknya.

__ADS_1


"Siapa itu? bodoh sekali gadis itu..... emh emh emh...."


"ckckck..... pura-pura lupa lagi....". Doni berdecak menggoda kakaknya.


"Gimana sekolahmu?" tanya Laila.


"Baik Alhamdulillah. Oh ya kak tadi aku ditawarin ustadz, mau nggak ikut program pertukaran pelajar. Kalau boleh mungkin aku akan dikirim ke Jepang selama kurang lebih satu bulan. Tanyakan ke bang Lukman ya kak!!"


"Ya nanti kakak tanyakan."


"Kak... emang abang masih sering latihan silat?"


"Masih lah. Tiap Minggu di halaman masjid dan tiap satu bulan sekali di panti".


Tok tok tok....


Laila mengambil hape yang tadi disandarkan oleh Lukman di atas meja riasnya.


"Apa An?", Tanya Laila saat melihat orang yang tadi mengetuk pintunya adalah adik iparnya, Ani.


"Ibu-ibu yang tadi bantuin mau pulang. Nggak dikasih apa gitu kak?".


" Halo kak Ani....?". Doni yang ada di seberang menyela pembicaraan mereka.


"Eh Doni apa kabar?", tanya Ani.


"Baik kak Alhamdulillah...". jawab Doni.


"Mending kak Lala yang urus deh! Mereka kan mau pamitan sama yang punya hajatan. Biar aku yang bicara sama Doni". Ani meminta hape yang ada di tangan Laila dan membawa hape itu ke ruang tengah.


"Kamu kok bisa pegang hape?"- Ani.


" Soalnya abang yang minta izin sama ustadz mau ngomong sama aku"-Doni.


Ani duduk di sebelah Rina yang sedang menikmati makanan bersama suaminya, dr Ibrahim.


"Ini nih ada pengantin baru....",kata Ani sambil mengarahkan kamera hapenya pada Rina dan dr. Ibrahim.


"Doni....!!! Makin cakep aja adikku ini!!" Rina langsung berteriak antusias ketika melihat Doni di layar hape. Ia sudah lama tak bertemu dengannya. Rina tidak pernah ikut kakaknya saat menjenguk Doni di pesantren karena pasti ada saja pekerjaan atau urusan yang harus dikerjakan membuatnya merelakan keinginannya.


"Mana kakak ipar?", tanya Doni pada Rina yang langsung terdiam.

__ADS_1


"Kok wajahnya gitu? Kakak bahagia kan ? Apa kakak merasa tertekan?"- Doni yang masih mengagumi Rina merasa ada yang janggal. Harusnya pasangan pengantin baru itu bahagia tapi ini kenapa sebaliknya.


Tiba-tiba kamera hape itu memperlihatkan seorang pria yang bertubuh gempal, kulit wajah nya putih dan matanya sipit.


"Kau perhatian sekali pada istriku ini anak kecil?", Ibrahim mengarahkan kameranya pada dirinya dan Karina.


Cup


Ibrahim mencium pipi Karina yang langsung bersemu merah.


"Apa kau merasa tertekan baby?", Ibarahim mengarahkan wajah istrinya agar menatap dirinya dan itu bisa dilihat Doni dengan jelas.


"Ish.... kenapa cuma aku yang jomblo disini?", Ani menggerutu meninggalkan pasangan pengantin baru yang menurutnya sedang menunjukkan kemesraannya di depan siapa saja. Itu membuatnya kesal. Ani menuju ke ruang tamu yang disana sedang berkumpul anggota keluarganya.


Acara sudah selesai dari tadi dan kini di ruang tamu ada Zainal serta papa mamanya, pak Dirman dan bu Jannah yang sedang menggendong Maryam karena kak Mia dan Laila sedang mengurus dapur dan yang lainnya.


Bang Alif dan Lukman sedang menemani beberapa tetangga yang ada di teras yang ingin cangkrok dan mengobrol santai.


Ani duduk di sebelah ayahnya sambil bergelayutan manja di lengan sang ayah.


"Kenapa?",tanya pak Dirman.


"Hanya tinggal aku yang jomblo di sini yah....", katanya sedikit berbisik dan hal itu membuat sang ayah tersenyum.


"Ayah juga jomblo...", bisik ayahnya tepat di telinganya membuat keduanya tersenyum bahagia karena punya nasib yang sama.


Zainal yang duduk tak jauh dari situ melihat Ani dan berkhayal jika dia yang dipeluk Ani. Zainal memalingkan mukanya karena tidak mau pikirannya berandai-andai lebih jauh lagi.


Ani melihat Bu Jannah yang sedang bermain dengan Maryam. Ia tersenyum kemudian menepuk lengan ayahnya dengan pelan,"Bagaimana kalau ayah dengan ibu saja?".


Pak Dirman melirik Bu Jannah sekilas kemudian bergumam," kau ini apa-apaan?". Pak Dirman mencubit hidung Ani karena merasa sudah tua dan tidak pantas untuk bercinta seperti layaknya anak muda.


"Anak cantik ini namanya siapa?", Mamanya Zainal mendekati bu Jannah yang sedang memegang lengan Maryam yang berulang kali mencoba berdiri.


"Maryaa...m..".Jawab Bu Jannah.


"Cantiknya.... sini sama eyang.....", Kata mamanya Zainal yang nampak bahagia.


Pak Dirman melihat Bu Jannah sekali lagi kemudian menarik nafasnya panjang dan itu disadari Ani yang masih duduk di sebelahnya.


Ani tersenyum dan siap melancarkan aksinya.

__ADS_1


__ADS_2