
"Ma kami masih ada keperluan dulu. Nggak papa kan ma?" Ani menundukkan badannya di depan jendela mobil bagian depan yang ada calon mertuanya.
"Kalian mau kemana?", Sang mama mengernyit heran.
"Emmm...". Ani menoleh ke kiri dan ke kanan karena ia juga bingung ingin lomba lari dengan Zainal tapi dimana?
"Kita mau lomba dulu ma. Mama hati-hati ya!". Kata Zainal sambil meraih tangan sang mama kemudian menciumnya dan Ani pun mengikutinya.
"Ayo kejar aku di....!", Zainal langsung berlari melewati beberapa orang yang berjalan di trotoar. Ani dengan sigap mengejar Zainal seperti anak-anak kecil yang sedang berlarian kejar-kejaran. Mereka tak perduli pandangan orang-orang yang merasa heran.
Wanita yang masih duduk di mobil itu tidak segera memerintahkan sopirnya untuk meninggalkan tempat itu karena dia kini sibuk mengambil gambar dua sejoli yang sedang asyik kejar-kejaran dengan kamera hapenya. Ia tertawa melihat kebahagiaan putranya. Semakin lama ia merasa cocok dengan Ani yang bisa menerima kebawelannya.
"Kamu kalah di...". Lelaki yang berkumis dan berjenggot itu bersedekap jumawa sambil melihat Ani yang nafasnya tersengal-sengal. Setiap pagi dia jogging di kawasan perumahan elit tempat tinggalnya jadi dia yakin bisa mengalahkan Ani jika hanya lomba lari.
"Ish curang...! Kan tadi aku belum siap...". Ani membungkukkan badannya sambil mengatur deru nafasnya yang memburu. Dia tidak lagi pernah ikut latihan bersama bang Lukman dan Karina. Sehari-hari dia hanya membantu mengasuh Maryam dan Latif karena kedua ibu mereka ikut membantu bisnis suaminya.
Terutama Kak Mia yang sekarang lebih sering ikut bang Alif kemana-mana. Entah karena apa tapi sejak melahirkan Maryam kak Mia menjadi posesif dan cemburuan. Terlebih lagi karena di rumah ada Bu Jannah dan Ani yang siap membantu mengasuh Maryam sehingga bang Alif tak mempermasalahkannya.
Mereka berdua berhenti di taman kota yang memang dekat dengan butik tadi berada.
"U-lang! Aku tidak terima! hhhhh.... hhhh..". Ani masih mencoba menstabilkan deru nafasnya masih dengan membungkukkan badannya.
"Ok. Siapa takut?". Zainal menerima tantangan Ani dengan penuh percaya diri.
"Siapa yang bisa mengelilingi taman ini tiga kali dia yang menang. Start nya di mulai dari pohon itu dan finishnya di pohon bunga Bougenville... yang itu. Bagaimana?"
"Ok. Sekarang?". Zainal melepaskan sepatunya kemudian menggulung lengan kemejanya. Dan di mata Ani hal itu semakin menambah ketampanan calon suaminya.
__ADS_1
"Nggak, tahun depan!". Jawab Ani sambil memandang Zainal dan mengulum senyum manisnya. Ia kemudian bersiap-siap dengan melepas sepatunya dan mengikat kedua ujung jilbabnya di belakang kepala.
Mereka melakukan pemanasan sebentar untuk meregangkan otot-otot nya meskipun itu agak terlambat. Zainal dan Ani mulai mengambil ancang-ancang seperti para pelari profesional. Setelah aba-aba dan hitungan ketiga keduanya pun lari secepat-cepatnya mencoba saling mengalahkan satu sama lain.
Entah apa yang dipikirkan orang-orang yang melihat mereka. Siang-siang di saat matahari terasa terik ada seorang lelaki dewasa yang wajahnya manis dan manly dengan seorang gadis dewasa yang putih, cantik dan menggemaskan, memakai pakaian yang tertutup dan jilbab yang menutupi kepalanya sedang melakukan lomba lari di taman.
Zainal dan Ani seolah tak menyadari tatapan para pedagang maupun orang-orang yang berteduh di situ. Mereka asyik menikmati dunianya sendiri.
Zainal masih unggul di depan Ani saat putaran pertama. Putaran kedua dan ketiga pun Ani tak mampu menyusul Zainal. Ia juga merasa heran kenapa Zainal bisa lari secepat itu.
"Yeay.....". Zainal mengangakat kedua tangannya karena berhasil sampai di garis finish terlebih dahulu. "Aku menang...." Teriaknya bahagia sambil mengatur nafasnya.
Ani yang baru sampai sampai di garis finish langsung menjatuhkan badannya di rerumputan karena badannya terlalu capek dan nafasnya yang tak beraturan. Ia duduk sambil menselonjorkan kakinya dan mengatur deru nafasnya.
Dari tempat Ani dia bisa melihat Zainal sedang membeli minuman.
Beberapa saat kemudian Zainal datang dengan membawa beberapa macam minuman. Ada air putih, jus jambu dan jus sirsak.
Keduanya asyik menikmati minumannya sambil sesekali memandang ke segala arah. Barulah mereka sadar jika ternyata siang ini begitu terik.
Setelah rasa lelah sedikit menghilang Zainal menoleh pada Ani, " Di.... kenapa mengajak lomba lari?"
Ani terseyum sambil melipat bibirnya. " Ingat ceritanya Nabi yang mengajak lomba lari Siti Aisyah ya".
Ani menganggukkan kepalanya," Bedanya beliau melakukannya saat sudah menikah sedangkan kita belum".
"Kalau begitu kita harus lomba lari lagi setelah kita menikah nanti. Siapa yang menang boleh minta satu permintaan yang tidak boleh ditolak. Bagaimana?"
__ADS_1
"Ok deal!" Kata Ani sambil menempelkan botol air mineralnya dengan gelas plastik Zainal yang berisi jus alpukat. Keduanya pun saling melempar senyum kemudian melihat daun-daunan yang bergerak tertiup angin.
"Sekarang boleh aku mengajukan permintaan?",tanya Zainal.
Ani yang tahu pemikiran pria disampingnya menelan ludahnya. Ia tahu Zainal tadi ngambek gara-gara melihat cincin ustadz Zainuddin yang masih melingkar di jari manisnya.
Bukan tanpa sebab sampai saat ini dia belum melepaskannya. Dia merasa tidak enak jika Bu Jannah tahu kalau dia sudah menanggalkan cincin itu. Juga karena dia ingin selalu mengingat sang ustadz yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
Ani berharap permintaan Zainal bukanlah untuk membuang cincin itu.
"Boleh...", jawab Ani dengan berdebar-debar.
"Boleh aku minta cincin itu?". Zainal melirik cincin dari Ustadz Zainuddin.
Ani menarik nafasnya panjang. "Tapi jangan dibuang ya mas!", ujarnya sambil melepas cincin yang dimaksud dan mengangsurkannya pada Zainal.
Zainal tak langsung menerimanya. Pandangannya lurus ke depan dan kecemburuan itu jelas terlihat dari sorot matanya.
"Kamu begitu menyukainya sampai tak bisa melepaskan barang-barang pemberiannya? Sebegitu besar cintamu pada ustadz itu... Aku bahkan tak pernah melihat kebaya yang pernah kuberikan padamu di...". Wajahnya kini dia palingkan ke samping untuk menghindari tatapan dari Ani.
" Bukan seperti itu mas... Aku hanya merasa tidak enak dengan ibu. Aku takut beliau akan sedih kalau aku tak memakainya."
"Itu menyakitiku..... Sakit sekali hatiku. Bahkan dia sudah tidak di dunia ini tapi kamu tidak bisa melupakannya. Apa kamu punya rasa padaku di?". Dia sepertu bergumam karena suaranya sangat pelan.
"Ya sudah mas pegang ini. Terserah mau diapakan. Tapi tolong jangan dibuang lebih baik disedekahkan!".
"Tak perlu. Simpan saja buat kenang-kenangan...". Zainal mulai bangkit berdiri.
__ADS_1
!!!!!!!!!!!********!!!!!!!!!!!!*********!!!!!!!!!!!!
Suatu saat Nabi mengajak lomba lari Siti Aisyah dan Nabi kalah. Beberapa lama setelah itu Nabi mengajak Siti Aisyah lomba lari kembali karena ingin membalas kekalahan sebelumnya. Dan benar saja Nabi memenangkan lomba karena berat badan Siti Aisyah sudah bertambah daripada sebelumnya.