Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
dia pergi


__ADS_3

aku lagi suka lihat pasangan ini. Evan dan Tami



Ada yang samaan nggak? check ya...!!! https://youtu.be/fcRVrICnqtc


The pattar project


*****((((()))))*****


Setelah Ashar suasana sudah sepi. Pasien-pasien sudah pulang dengan membawa obat-obatan dariku. Aku duduk di tempatku dengan kaki yang kuselonjorkan, kutimpakan kaki kananku diatas kaki kiriku.


Entah mengapa tiba-tiba saja aku ingat mas Zainal. Tanganku bergerak mengambil hape yang tadi kuletakkan di atas meja. Aku membuka instagramnya mencoba melihat bagaimana keadaannya sekarang. Ternyata di gambar terakhir hanya ada video pohon-pohon yang bergoyang karena hembusan angin.


Ku scroll kebawah melihat gambar-gambar yang pernah dia posting. Ternyata masih ada gambarku yang dia ambil saat aku berjalan memunggunginya masih dengan jas putih kebanggaan ku.


Meski wajahku tak nampak disitu aku yakin 100 persen itu adalah foto ku. Aku tidak tahu kapan dia mengambilnya tapi dari postur tubuh dan rambutnya itu adalah milikku.


Kenapa tiba-tiba aku merasa rindu ingin bertemu dengan mas Zein ya?


"Ah.... ini pasti gara-gara dia yang nyebut-nyebut nama mas Zein terus jadi aku kepikiran... ugh.... ini gara-gara ustadz usil itu".


Meski aku ingin mendengar suara mas zein tapi jari-jariku malah bergerak menulis pesan untuk kakak ustadz.


Kak.... kakak hari ini kenapa sih


aneh banget tau nggak


send


i love you dek


doain kakak ya!

__ADS_1


Jawabannya malah nggak jelas gitu. Pake love you love you gitu. Nggak cocok banget sama sifat dan kebiasaannya. Kalau mas Zein yang bilang kayak gitu aku bisa memakluminya tapi kalau kakak yang ngomong gitu kesannya kayak nggak pantes gitu. Secara dia kan ustadz yang akan dicontoh oleh murid-muridnya.


"Kakak kenapa sih hari ini? Kenapa cemburu sama mas zein? Kami sudah tidak berhubungan lagi kak...." Ucapku pada diriku sendiri sambil melipat tanganku di atas meja. Kuletakkan kepalaku diatas nya sambil memejamkan mata. Aku mencoba mencari wajah my ustadz yang tadi kelihatan galau. Wajah putih dan menggemaskan seperti artis boyband Korea.


Aku menggelengkan kepalaku karena yang muncul justru wajah mas Zainal yang hitam manis dengan bulu-bulu halus di wajahnya.


"Astaghfirullahaladzim astaghfirullahaladzim... astaghfirullahaladzim...." Aku melafalkannya sampai mataku terpejam dan berganti ke dimensi lain. Tidur dengan posisi seperti itu sudah biasa bagi seorang dokter apalagi ketika kami masih menjadi residen. residen itu harus rela diinjak-injak oleh para dokter bahkan oleh para perawat senior.


.


.


Kak Zein datang dan tersenyum padaku kemudian menunjuk surat alfatihah yang ada di tembok lalu menunjuk dirinya sendiri.


Aku mengeryitkan kedua alisku karena tak tahu apa maksudnya.


"Bacakan fatihah buat aku...!"katanya.


Seperti tersentak aku kemudian terbangun dengan wajah bingungku. Mimpi apa itu tadi?


"Ya Alloh.... semoga baik-baik saja...." Aku tak tahu ada apa tapi air mataku keluar begitu saja.


"Ani.... An....!!!!" itu suara ibu berteriak memanggilku.


Ada apa ini ?


Aku bergegas menyambutnya," Ada apa bu?"


" Telpon Zein sekarang nak! cepat!" wajahnya sangat khawatir membuat pikiran ku juga ikut menerka-nerka. Ya Alloh.... semua baik-baik saja kan?


"Ibu duduk dulu bu!" Aku mencoba bersikap tenang meski hatiku kebat-kebit tak karuan.


" Cepetan kamu telpon Zein katanya dia tertimpa longsoran tanah di sana..."

__ADS_1


Deg....


Tanpa sadar aku menggelengkan kepalaku,


Tidak.... tidak ada terjadi, itu tidak benar. Kak Zein pasti baik-baik saja.


Bagaimana ini?


"Buruan kamu telpon Zein!!" Ibu sudah menangis sesenggukan dan tidak sabar karena melihat mukaku seperti orang linglung.


Buru-buru aku mengambil hapeku dan menyentuh namanya. Ada bunyi tut tut tapi tak diangkatnya juga.


"Angkat kak! Kamu baik-baik saja kan? please.... angkat kak!!" Air mataku sudah meleleh mengingat mimpiku, dia ingin aku membaca fatihah untuknya.


Setelah kucoba berkali-kali tidak diangkat juga, aku menelpon ustdaz Salim.


Tak kusangka jawaban ustdaz Salim membuat tubuhku limbung.


"Kami sedang dalam pencarian bu dokter. Hanya ustadz Zein yang belum ketemu"


"Apa ada korban ustadz?"


"Hanya luka-luka ringan dokter. Tidak usah khawatir."


"Saya akan kesana ustadz..."


"Jangan dokter , kondisi di sini masih berbahaya. Sebaiknya dokter tetap disana. Disini sudah ada ambulance dan dokter dari rumah sakit umum. Dokter berdoa saja semoga ustadz Zein baik-baik saja".


Dari sambungan telpon yang belum terputus itu aku mendengar seseorang berteriak pada ustadz Salim.


"Ustadz Salim!!!! Jenazah Ustadz Zein sudah ditemukan... "


Kakiku langsung lemas tak bertenaga. Aku terjatuh duduk di lantai dengan derai air mata yang mengalir deras.

__ADS_1


Kak zein...... kak.... itu tidak mungkin.... aku hanya salah dengar...


__ADS_2