Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Maaf yah


__ADS_3

Ani baru saja pulang setelah tadi melakukan foto prewedding dengan calon suaminya. Zainal hanya mengantarkannya sampai depan gerbang.


Foto prewedding kedua sejoli itu di lakukan di studio dan di taman rumah Zainal tapi tentu saja tetap dengan berpegang pada idealisme keduanya. Tanpa bersentuhan dan tidak berlebihan.


Sang mama yang awalnya tidak setuju dan mengerucutkan bibirnya saat proses pengambilan gambar berlangsung malah tersenyum bahagia setelah melihat hasilnya di layar laptop. Bagaimana itu justru terlihat menggemaskan sehingga bibirnya tak henti menyunggingkan senyum.


Bahkan saat Ani berpamitan pulang ia menciumi pipi Ani berkali-kali membuat hati gadis itu berbunga-bunga tapi juga di saat yang sama ia takut jika suatu saat dia berbuat salah. Bukan tidak mungkin wanita yang akan menjadi mertuanya itu akan membencinya berkali lipat jika ia melakukan kesalahan.


Ani sempat mengutarakan hal itu pada Zainal saat mereka di dalam mobil menuju perjalanan pulang. Tentang rasa cemasnya pada calon mertua yang punya kepribadian meledak-ledak, baik saat suka maupun tidak suka


Zainal menjawabnya dengan bijak, dia mengatakan kewajiban manusia hanyalah berusaha kemudian berdoa setelahnya biar takdir yang bekerja.


Ani tersenyum bahagia mendengarnya. Meski terkadang Zainal manja dan di waktu-waktu tertentu suka merajuk tapi saat Ani gusar dan cemas dia bisa membuatnya merasa tenang.


Bukankah itu suatu perpaduan yang diinginkan. Saling mengerti dan mengisi. Saling menutupi sisi kelemahan manusia yang memang diciptakan dengan berbagai macam cacat dan cela untuk saling menghargai dan menyempurnakan pasangannya.


Zainal yang sedang mengemudi dan fokus pada jalanan merasakan tatapan tak biasa dari gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Pipinya terasa panas dan rasa gugup mulai menjalari tubuhnya.


"Jangan menatapku seperti itu di.... Aku bisa khilaf nanti!".


"Memangnya mas berani? Aku ini sudah sabuk hitam lho?!" Ani mencoba memprovokasi.


Zainal meminggirkan mobil kemudian mengeremnya hingga suara ban yang bertemu aspal berdecit memekakkan telinga dan membuat gadis yang baru saja meledeknya kaget dan mulai mawas diri.


Lelaki berjambang dan berkumis itu memicingkan matanya, mencoba memberi tatapan tajam untuk memberi kesan jika dia garang.


Ani menelan salivanya karena ketakutan menyergap hatinya. Bukan karena tidak bisa melawan tapi ia takut jika Zainal tak bisa mengendalikan diri dan menyergapnya. Jika itu terjadi pupuslah jiwanya yang selalu menganggap Zainal adalah pria yang bisa menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang lebih sebelum akad terucap dan para saksi mengatakan sah.

__ADS_1


"Jangan memprovokasi ku..!. Bagaimanapun aku ini seorang laki-laki dan selamanya tak suka terintimidasi. Aku bisa melakukan hal gila dan melupakan semua idealisme yang tertanam dalam jiwa...". Zainal lebih mendekatkan wajahnya pada sang kekasih. Ia meniupkan nafasnya yang hangat pada wajah gadis berjilbab yang kini wajahnya merah merona.


Keduanya merasakan debar jantung yang tak biasa, bergemuruh dalam dada , seumpama deburan ombak di lautan yang mampu menerjang apa saja yang ditemuinya meluluhlantakkan segalanya.


Ani memalingkan muka dan coba meredakan segala yang di rasakannya. Rasa takut dan cemas yang tadi bermunculan dalam hatinya kini berganti bahagia karena ternyata Zainal adalah sosok pria yang sesuai kriterianya. Meski begitu ia berjanji pada dirinya sendiri tak akan memprovokasi Zainal lagi.


Zainal melesatkan mobilnya untuk merdekan emosi serta sesuatu yang bergelora dalam dirinya. Ia mewanti-wanti jika ini belum waktunya. Mencoba menekan gejolak rasa yang meminta bersegera. Tunggulah sebentar lagi dan setelah itu aku tak akan menahannya lagi saat malam pertama, titah hatinya.


Bagai orang yang kesetanan Zainal menyalip mobil-mobil di depannya membuat hati Ani mencelos karena ketakutan akibat ulahnya sendiri. Tak ada suara meski dilanda kecemasan tinggi.


Sesampainya di gerbang rumah bergaya Belanda itu Zainal masih saja diam tak membuka mulutnya bahkan sekedar untuk berpamitan pun tidak. Dia berusaha mati-matian agar pusat didihnya tak terlihat oleh gadis kesayangannya.


Sedangkan Ani yang merasa tak enak hati kemudian berkata, "Hati-hati mas" dan ia hanya mendapatkan jawaban hem saja dari calon suaminya.


Langsung memutar mobilnya tanpa turun apalagi menyapa para penghuninya. Itu bukanlah kebiasaan Zainal tapi tentu saja ia tak akan membiarkan pusakanya yang saat ini sedang menunjukkan eksistensinya dilihat oleh manusia lain.


Zainal bahkan meraba wajahnya yang memanas saat mobilnya sudah mulai berjalan meninggalkan kawasan rumah sang pujaan hati. Merutuki dirinya yang terlalu berani dan berakhir seperti uji nyali untuk dirinya sendiri.


.


.


Di dalam ruang tamu yang luas itu ternyata ada seorang kakek yang sedang bermain dengan cucunya. Maryam sedang berceloteh riang di dalam baby family walker atau yang biasa di sebut donat bayi sambil bermain kicrikan dan pria yang sudah berumur itu mendorongnya maju mundur menggunakan kakinya.


Ani mencium tangan sang ayah sambil celingak-celinguk mencari sosok bu Jannah yang biasanya menjaga Maryam.


"Ibuk kemana yah?", Tanya Ani dengan ceria.

__ADS_1


Tak disangka ayahnya malah menatapnya tajam dan seketika membuat Ani takut apa mungkin dia sudah melakukan kesalahan. Tak biasanya ayahnya yang sabar itu terlihat marah dan menatapnya seperti itu.


"Kenapa lama sekali? Apa kamu tidak tahu kalau ibumu itu sedang sakit?", kata pria itu dengan membuang muka.


"Sakit?", seingatnya saat berangkat tadi bu Jannah dalam keadaan baik-baik saja. Ia pun berjalan meninggalkan sang ayah menuju ke kamar Karina yang kini ditempati Bu Jannah.


Ani mengetuk pintu kamar itu dengan pelan agar tak mengagetkan penghuninya.


"Bu.... ini Ani...!"


"Uhuk... uhuk... masuk saja nak!", bu Jannah menjawab dengan suara paraunya.


Pelan-pelan Ani membuka pintu kamar yang terbuat dari kayu jati yang umurnya bahkan beberapa kali lipat umur Ani.


"Ibu sakit?", nada suaranya terdengar cemas dan ada rasa bersalah karena sudah meninggalkannya cukup lama. "Kenapa tidak telpon Ani tadi bu...?"


"Iya. Maaf ya! Setelah solat tadi tiba-tiba badan ibu terasa lemas dan kepala rasanya pusing sekali....". Wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu memijat pelipis dengan tangannya yang mulai mengeriput.


Ani meraih pergelangan tangan wanita paruh baya itu kemudian meraba nadinya menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya tepat di pangkal ibu jari sambil melihat jam tangannya.


Menghitung denyut nadi bu Jannah yang ternyata bekerja lebih lambat. Ia pun menghela nafasnya merutuki dirinya yang tidak peka.


"Ibu istirahat ya bu!". Ani membenarkan letak selimut agar ibunda ustadz Zainuddin itu merasa nyaman.


Ketika sampai di luar kamar Ani melepaskan kain yang menutupi kepalanya sejak tadi pagi dan menaruh di pundaknya karena merasa gerah.


Ia mengirim pesan pada kak Mia memintanya untuk membelikan obat di apotek seperti yang ditulisnya dan memintanya agar cepat pulang karena bu Jannah sedang sakit.

__ADS_1


"Maaf yah.... Biar Maryam sama Ani. Ayah bisa istirahat sekarang", katanya sambil berjongkok di samping donat Maryam.


"Bukannya tidak mau bermain dengan cucu tapi kondisi fisik orang tua macam kami ini tidak sama dengan yang muda-muda...", Kata sang ayah sambil mencium kening Maryam dan berlalu menuju ke rumahnya, tempat tinggalnya.


__ADS_2